LOGINAmira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya.
Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya. "Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini." Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya. Dengan jemari yang gemetar hebat, Amira mengangkat choker beludru merah berhiaskan berlian hitam itu ke lehernya. Saat pengaitnya terpasang berbunyi klik, Amira menahan napas. Pantulannya di cermin terlihat sangat mewah, namun matanya menangkap realita yang lebih gelap. Kalung itu menutupi seluruh memar kemerahan dan bekas gigitan Malik dengan presisi yang mengerikan. Benda itu bukan perhiasan dari seorang kakak ipar yang baik hati. Itu adalah kalung pengekang. Tanda kepemilikan mutlak dari sang iblis. Saat Amira dan Zayn melangkah masuk ke ruang makan agung, suasana terasa jauh lebih formal dan menekan daripada sarapan tadi pagi. Lilin-lilin kristal menyala terang, memantulkan cahaya pada perak-perak mewah di atas meja panjang dan di kursi utama, sang penguasa telah menanti. Malik Al-Fayed telah mengganti pakaiannya dengan setelan jas three-piece berwarna abu-abu arang. Sangat elegan, sangat berkelas, dan sangat mematikan. Saat mata kelam pria itu menangkap kehadiran Amira, pandangannya langsung meluncur dan terkunci pada leher wanita itu. Seringai tipis penuh kepuasan tersungging di bibir Malik, menyadari bahwa mangsanya telah mengenakan tali kekang yang ia berikan. Amira duduk di sebelah Zayn, merapatkan kedua lututnya rapat-rapat di bawah meja. Udara di sekitarnya seketika terasa menipis. "Sebuah pilihan gaun yang luar biasa, Amira," suara bariton Malik mengalun rendah di tengah denting peralatan makan. Seluruh anggota keluarga yang hadir otomatis terdiam, mendengarkan sang penguasa klan berbicara. "Dan kalung itu terlihat jauh lebih indah saat melingkar di leher pemilik yang tepat." Zayn tertawa canggung, berusaha keras mengambil hati sang kakak. "Tentu saja, Kak Malik. Terima kasih atas hadiahmu. Amira sangat menyukainya. Benda itu sangat pas di lehernya. Ya kan, Sayang?" Amira menelan ludah yang terasa seperti menelan pecahan kaca tajam. Matanya tak sengaja bersirobok dengan tatapan menyala Malik di seberang meja. "Ya. Terima kasih, Kak Malik. Ukurannya, sangat pas." "Tentu saja pas," balas Malik tenang. Pria itu menopangkan sikunya di atas meja, menatap Amira dengan intensitas yang menelanjangi pertahanannya. "Aku selalu tahu ukuran yang paling pas untuk apa pun yang menjadi milikku, maksudku, milik keluargaku." Wajah Amira memanas. Kata-kata itu diucapkan dengan nada santai, namun mengandung racun ganda yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Malik sedang mempermainkannya tepat di hadapan suaminya sendiri, dan Zayn terlalu bodoh untuk menyadari bahwa istrinya tengah ditelanjangi melalui tatapan. Makan malam itu terasa seperti siksaan tanpa akhir bagi Amira. Setiap kali ia menyuapkan makanan, ia bisa merasakan sepasang mata elang Malik membakar kulitnya. Begitu hidangan penutup selesai, Malik meletakkan serbet sutranya ke atas meja dengan gerakan elegan yang menghentikan semua percakapan basa-basi. "Waktunya bekerja, Zayn," titah Malik. Nadanya kini berubah menjadi dingin, datar, dan tak terbantahkan. "Pergi ke sayap utara sekarang. Jangan keluar dari ruangan itu sebelum semua laporan kerugian pelabuhan selesai kamu hitung. Jika perlu, jangan tidur sampai pagi." Zayn berjengit panik, buru-buru berdiri dari kursinya dan meraih tas kerjanya. "B-baik, Kak. Aku akan menyelesaikannya malam ini juga." Pria itu lalu menoleh pada Amira sekilas, tanpa sentuhan sayang atau ciuman perpisahan. "Kembalilah ke kamar, Amira. Istirahatlah." Amira menatap punggung suaminya dengan putus asa. Jangan tinggalkan aku sendirian malam ini, batinnya menjerit pedih. Namun Zayn telah melangkah pergi, berjalan cepat meninggalkan ruang makan bak prajurit pengecut yang melarikan diri dari medan perang. Dengan kaki yang terasa seperti agar-agar, Amira ikut berdiri. Ia menunduk dalam, tak berani membalas tatapan Malik yang masih lekat mengawasinya, lalu bergegas pergi menuju kamar suite utama. Sepanjang lorong yang temaram, detak jantungnya berpacu brutal melawan waktu. Badai salju di luar jendela melolong mengerikan, menghantam kaca dengan butiran es, namun badai di dalam dadanya jauh lebih menakutkan. Sesampainya di kamar, Amira menutup pintu kayu ek itu rapat-rapat. Matanya langsung terpaku pada gerendel kunci kuningan di bawah gagang pintu. Pastikan pintu kamarmu tidak terkunci. Karena jika aku harus mendobraknya, seluruh penghuni chateau ini akan tahu persis bagaimana caraku memuaskanmu hingga kamu menangis. Ancaman Malik di perpustakaan tadi sore bergaung kembali, menggema di setiap sudut tengkoraknya. Tangan Amira terulur ke arah kunci itu. Jemarinya bergetar ragu antara mengunci keselamatannya, atau menyerah pada iblis tersebut. Logikanya berteriak memintanya untuk memutar gerendel itu, menyelamatkan kesucian pernikahannya dari dosa yang lebih dalam. Namun, ingatan tentang sentuhan panas Malik, tentang bagaimana pria itu memujanya hingga ia hancur berkeping-keping semalam, mengalahkan logikanya. Sebuah kerinduan gelap yang sangat ia benci merayap naik ke dada. Pada akhirnya, tangannya terkulai jatuh ke sisi tubuh. Ia mundur selangkah, membiarkan pintu itu tidak terkunci. Amira duduk di tepi ranjang raksasanya, meremas gaun merah marunnya dengan napas terengah. Jam dinding kakek di sudut ruangan berdentang, jarumnya kini tepat menunjuk angka sebelas malam. Kesunyian kamar itu terasa mencekik lehernya. Ia menunggu dalam ketakutan dan antisipasi yang menyiksa. Lalu, suara yang paling ia takuti sekaligus ia tunggu memecah keheningan. Klik. Gagang pintu kuningan itu perlahan berputar ke bawah dengan suara decitan halus dan udara dingin dari lorong menyusup masuk, membawa serta aroma oud yang sangat pekat. Lalu Amira melihat sesosok bayangan pria melangkah masuk ke dalam kamarnya dan kemudian terdengar suara pintu tertutup di belakangnya, mengunci mereka berdua dari dunia luar.Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun.Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat.Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia."Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk s
Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah."Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya.Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu d
Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan."Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira. Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut."Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada
Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini."Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya.Dengan jemari yang
Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi kertas tua dari buku-buku di sekeliling Amira. Lalu tak lama, terlihat siluet Malik membelah keremangan perpustakaan.Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya entah di mana, hanya menyisakan kemeja sutra hitam yang lengannya kini digulung hingga ke siku.Urat-urat menonjol di lengan bawah pria itu terlihat jelas saat dia berjalan mendekat dengan keanggunan dan ketenangan seekor predator yang telah menyudutkan mangsanya."Kamu lari terlalu cepat, Habibti," suara serak Malik mengalun, membelai telinga Amira dengan bahaya murni. "Tehmu bahkan belum habis.""Buka pintunya," desis Amira. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan diri untuk menatap mata kelam pria itu. "Biarkan aku keluar, Mali
Tanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas. Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih.Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya. Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar."Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah







