Home / Mafia / Dosa Beraroma Oud / Bab 1 Selamat Pagi, Adik Ipar

Share

Dosa Beraroma Oud
Dosa Beraroma Oud
Author: Silentia

Bab 1 Selamat Pagi, Adik Ipar

Author: Silentia
last update publish date: 2026-02-15 22:37:35

Tanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas.

​Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih.

​Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya.

Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar.

​"Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah suara yang bergetar dari kursi di sebelahnya.

​Amira menoleh perlahan. Zayn duduk di sana dengan wajah pucat pasi. Lingkaran hitam tebal menghiasi bawah mata suaminya, dan jemari pria itu terus meremas serbet dengan gelisah.

Suaminya sama sekali tidak terlihat seperti pria dominan yang menghabiskan malam penuh gairah semalam. Zayn justru terlihat seperti mangsa yang sedang menunggu lehernya diterkam dengan pasrah.

​Aroma di udara mengalahkan wangi kopi Arab dan mentega, hidung Amira menangkap campuran oud kualitas tinggi, kulit mahal, dan jejak asap cerutu. Aroma maskulin memabukkan yang merengkuhnya dalam kegelapan semalam, dan wangi itu menguar kuat dari arah Malik Al-Fayed. Sang kakak ipar yang duduk di ujung meja.

​"Zayn," panggil Malik memecah keheningan. Suaranya rendah, serak, dan bergetar dengan otoritas mutlak.

Suara itu sama persis dengan suara pria yang berbisik memerintahkannya untuk membuka kaki lebih lebar semalam. Mengingat hal itu, bulu kuduk Amira meremang.

​Zayn berjengit ngeri di kursinya. "Y-ya, Kak Malik?"

​"Kamu belum memperkenalkan istrimu dengan benar kepadaku," ucap Malik santai.

​Zayn menelan ludah dengan susah payah. "Maafkan aku. Kamu sudah sangat lama tidak kembali dari Dubai, Kak." Ia lalu melihat ke areh Amira. "Amira, ini Kak Malik. Dia baru saja tiba tengah malam tadi."

​Tengah malam tadi. Waktu yang tepat saat Amira salah memasuki kamar.

​Malik menurunkan cangkir espresso-nya perlahan. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah pias Amira. Pria itu memindai balutan gaun wol tebal berlengan panjang yang dikenakan Amira pagi ini, seolah ia bisa menembus kain itu dan melihat semua memar kebiruan yang ia tinggalkan di kulit pualam sang adik ipar.

​"Selamat pagi, Adik Ipar," sapa Malik pelan. Sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk seringai tipis yang kejam. "Kamu terlihat sangat bersinar pagi ini. Apakah tidurmu nyenyak semalam?"

​Kalimat itu mungkin terdengar seperti basa-basi keluarga bagi telinga Zayn. Namun bagi Amira, itu adalah teror psikologis yang nyata. Pria itu sengaja menjebaknya. Malik pasti menyadari sepenuhnya siapa wanita yang merayap ke ranjangnya tapi dia justru sengaja membiarkan dosa itu terjadi.

​Tangan Amira yang bersembunyi di balik lipatan gaun bergetar tak terkendali. Ia meraih piring kecil cangkir tehnya untuk mencari pelampiasan kepanikan, namun jari-jarinya terlalu lemas.

​Trak!

​Piring porselen itu tergelincir dari cengkeramannya. Teh kamomil panas tumpah ruah, memercik mengenai ujung gaun wol Amira dan menodai taplak meja putih bersih.

​"Astaga, Amira!" Zayn mendesis marah dengan suara rendah. Suaminya menarik lengan Amira dengan kasar, wajahnya memerah menahan malu. "Apa yang kamu lakukan? Kamu memalukanku di depan Kak Malik. Perhatikan tanganmu!"

​Amira menunduk, bibirnya bergetar hebat menahan tangis kehinaan. "Maafkan aku, tanganku licin."

​Sebelum Zayn bisa memarahi Amira lebih jauh, suara dentuman keras membungkam seluruh ruangan. Malik meletakkan cangkirnya dengan tekanan yang mematikan. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Zayn dengan sorot mata yang bisa membunuh seorang pria dewasa di tempat.

​"Singkirkan tangan kotormu dari lengan istrimu, Zayn," desis Malik tanpa ampun.

​Zayn tersentak mundur seolah tangannya baru saja tersengat bara api. Ia melepaskan Amira seketika, lalu menunduk ketakutan. "A-aku hanya mengkhawatirkan gaunnya, Kak Malik."

​"Lalu kamu membentaknya di depan seluruh keluarga?" Malik berdiri perlahan. Tinggi badannya yang menjulang menutupi cahaya dari jendela raksasa di belakangnya. "Kamu tidak tahu cara memperlakukan barang berharga."

​Jantung Amira berdentum menyakitkan saat Malik melangkah memutari meja. Pria itu berhenti tepat di sebelahnya. Dengan gerakan yang terlalu intim untuk dilakukan di depan umum, Malik menarik sehelai sapu tangan sutra hitam dari saku jasnya, menunduk, dan mengusapkan kain itu ke jemari Amira yang terkena percikan teh.

​Kulit kasar pria itu bersentuhan dengan jari Amira. Sengatan gairah dan ketakutan langsung merambat lurus ke tulang belakangnya.

​"Apakah kamu terluka?" bisik Malik, suaranya mengalun seperti beludru beracun yang hanya ditujukan untuk didengar oleh Amira. Ibu jari sang mafia dengan sengaja membelai nadi di pergelangan tangan Amira yang berdenyut liar.

​"T-tidak. Lepaskan," bisik Amira nyaris tak terdengar, berusaha menarik tangannya. Namun genggaman Malik sekeras baja.

​Malik melepaskan tangan Amira dengan perlahan, lalu menatap adiknya dengan tatapan merendahkan. "Istrimu butuh istirahat, Zayn. Dan kamu, ikut aku ke ruang kerja sekarang. Kita harus membahas kerugian di pelabuhan akibat kebodohanmu."

​Amira tidak menunggu lebih lama. Kesempatan itu ia gunakan saat perhatian beralih darinya. ​"Permisi, aku harus membersihkan gaunku," gumamnya cepat.

​Amira berdiri dan setengah berlari meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang. Sepatu botnya berderap memecah kesunyian lorong sayap barat chateau yang kosong. Pikirannya kacau balau. Ia harus pergi sejauh mungkin dari pria itu. Ia mendorong pintu kayu ganda perpustakaan keluarga yang remang-remang, ia masuk ke dalamnya dengan napas memburu, dan menyandarkan punggungnya ke daun pintu yang tebal.

​Amira meraup oksigen rakus-rakus, menutup matanya erat-erat untuk mengusir bayangan seringai mematikan Malik dari kepalanya. Ia aman di sini. Ia hanya perlu bersembunyi di ruangan ini sampai badai salju reda dan ia bisa melarikan diri kembali ke Beirut.

​Namun, belum sempat detak jantungnya kembali normal, sebuah suara logam yang bergesekan menghancurkan harapannya.

​Klik.

​Suara gerendel pintu perpustakaan dikunci dari dalam.

​Amira membuka matanya dengan horor. Ia tidak sendirian di dalam ruangan itu. Dari sudut rak buku kuno yang tak tersentuh cahaya, aroma oud dan asap cerutu itu kembali menguar pekat, dan sepasang mata sekelam badai menatapnya dari balik bayangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 24 Kamu Pengecut, Zyan

    Tiga hari berlalu sejak pertemuan menjengkelkan di ruang rapat dewan klan dan dalam tiga hari itu pula, dunia bawah tanah Lebanon menyaksikan bagaimana murka seorang Malik Al-Fayed terwujud dalam bentuk abu dan kehancuran finansial.Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Zayn duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap layar televisi datar di dinding dengan tatapan kosong bercampur ngeri. Saluran berita internasional menyiarkan gambar langsung dari pesisir Laut Hitam. Kepulan asap tebal membubung ke langit malam Odessa, Ukraina. Tiga gudang logistik terbesar milik keluarga Madame Soraya rata dengan tanah akibat ledakan beruntun yang secara resmi disebut polisi lokal sebagai "kebocoran gas industri".Namun, semua orang di lingkaran dunia bawah tahu kebenarannya. Itu adalah eksekusi terencana. Kargo senjata selundupan bernilai jutaan dolar hangus tak bersisa. Saham perusahaan cangkang keluarga Soraya anjlok hingga titik nadir dalam hitungan jam. Keluarga itu bangkrut seketika

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 23 Aku Akan Mencabut Taring Mereka Satu Persatu

    Sinar matahari telah lama tenggelam di ufuk Mediterania saat Amira perlahan membuka matanya. Kamar tidur utama itu hanya diterangi oleh lampu temaram di nakas. Hal pertama yang menyerbu indranya adalah aroma oud yang maskulin, pekat, dan mendominasi, aroma yang kini secara aneh memberikan efek menenangkan bagi sistem sarafnya yang sempat hancur.Amira mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan. Di kursi berlengan kulit di sudut ruangan, duduklah sang Iblis Beirut. Malik telah melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dihiasi beberapa bekas luka lama, bukti nyata bahwa tahta yang dia duduki dibangun di atas pertumpahan darah. Pria itu tengah memutar gelas kristal berisi bourbon di tangannya, menatap Amira dengan intensitas yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.Melihat Amira tersadar, Malik meletakkan gelasnya dan melangkah mendekat. Ranjang king-size itu sedikit melesak saat Malik duduk di tepinya."Kamu tidur cukup lama, Habibti," suara bariton Malik

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 22 Mereka Mencoba Merampas Tempatmu

    Aroma oud yang pekat, maskulin, dan sarat akan dominasi menguar dari tubuh Malik, memenuhi ruang pertemuan utama klan Al-Fayed. Ruangan berdinding kayu mahoni gelap itu biasanya hanya menjadi saksi bisu pertumpahan darah dan negosiasi senjata. Namun siang ini, udara terasa sangat pengap oleh intrik picikan yang membuat rahang Malik mengeras.Di ujung meja bundar berukir, para tetua dewan, Bashir, Yusuf, dan Hamza duduk dengan wajah berkerut serius. Di seberang Malik, duduklah dua tamu yang kehadirannya di ruang sakral ini saja sudah membuat darah sang Capo mendidih. Ada Madame Soraya dan putrinya yang didandani bak boneka porselen, Layla.Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah sosok Bibi Najwa yang duduk di samping Paman Bashir. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun kerah tinggi bergaya Victoria, sengaja menutupi memar ungu bekas cengkeraman Malik di lehernya dengan senyum licik yang memuakkan terukir di bibir merahnya."Aliansi ini adalah langkah paling logis untuk klan

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 21 Mereka Tidak Akan Mempercayainya

    Najwa Al-Fayed melangkah menyusuri lorong remang-remang di sebuah vila kuno di pinggiran Baabda. Ini adalah tempat pertemuan rahasia para Consigliere tua, tiga pria yang telah mengabdi pada klan Al-Fayed sejak zaman kakek Malik masih menyelundupkan emas di pelabuhan. Mereka adalah penjaga tradisi, hakim moral, dan pemegang kunci restu dewan klan.Dengan leher yang dibalut syal sutra tebal untuk menyembunyikan memar keunguan bekas cengkeraman Malik, Najwa duduk di hadapan mereka. Napasnya masih terasa berat, namun dendam di dadanya jauh lebih menyesakkan."Paman Bashir, Paman Yusuf, Paman Hamza," suara Najwa bergetar, sengaja dibuat sedramatis mungkin. "Aku datang membawa aib yang akan menghancurkan fondasi klan kita jika tidak segera dihentikan."Bashir, pria tertua dengan janggut putih panjang dan mata yang sudah mulai keruh, menyesap kopi pekatnya perlahan. "Bicara namamu dengan tenang, Najwa. Apa yang membuatmu begitu gemetar?""Malik," desis Najwa. "Keponakan kita yang agung itu,

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 20 Kamu Akan Membiarkan Istrimu Dipakai Oleh Kakamu

    Lobi utama gedung klan Al-Fayed di pusat kota Beirut biasanya merupakan tempat yang tenang, simbol kemegahan dan otoritas. Namun, ketenangan itu pecah saat Bibi Najwa berlari masuk dengan napas tersengal. Riasan wajahnya yang mahal kini luntur bercampur air mata dan keringat, kalung mutiaranya yang bernilai ribuan dolar telah hilang separuh, meninggalkan lehernya yang memar kemerahan. "Tuan Zayn! Di mana Tuan Zayn?!" teriaknya histeris pada para penjaga yang kebingungan. Tanpa menunggu jawaban, ia menerjang masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai kantor eksekutif. Sepanjang perjalanan di dalam lift, tangan Najwa gemetar hebat. Bayangan mata Malik yang hitam dan dingin, mata seorang pembunuh yang tak memiliki nurani, terus menghantuinya. Ia merasa seolah tangan besar keponakannya itu masih melingkar erat di tenggorokannya, merenggut nyawanya inci demi inci. Pintu kantor Zayn terbuka dengan dentuman keras saat Najwa menabraknya. Zayn, yang sedang duduk lesu di balik meja kerjany

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 19 Aku Selalu Tahu, Kamu itu Wanita Rendahan

    Sinar matahari sore menembus kaca antipeluru penthouse Apex Tower, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Amira berdiri di dekat meja dapur island, mencengkeram tepian marmer itu dengan buku-buku jari memutih. Kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya melilit perih.Sejak pusaran konflik ini dimulai dari rumah sakit, pelarian, hingga terkurung di menara gading Malik, selera makan Amira hancur lebur. Lambungnya yang kosong kini memprotes keras, diperparah oleh kecemasan yang terus menggerogoti kewarasannya.Di saat ia memejamkan mata mencoba menenangkan napasnya, denting halus lift pribadi terdengar memecah keheningan. Amira mengernyit. Ini terlalu cepat untuk kepulangan Malik dari Tripoli.Namun, alih-alih langkah kaki berat dan maskulin milik sang Capo, yang terdengar adalah ketukan nyaring sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer, disusul oleh suara lengkingan wanita paruh baya yang sangat familiar dan selalu membawa teror psikologis bagi Amira."Minggir, bodoh! Kamu

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 6 Tapi Aku Monster yang Memujamu

    Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 5 Dia Istriku!

    Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, di

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 4 Sebut Namaku

    Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratn

  • Dosa Beraroma Oud   Bab 3 Cepat Ganti Bajumu

    Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status