เข้าสู่ระบบGedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.
Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah. "Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya. Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu dengan tatapan merendahkan, seolah Zayn hanyalah seekor lalat pengganggu yang merusak mahakaryanya. "Biarkan dia berteriak sampai pita suaranya putus," gumam Malik santai. Lengan kokohnya justru semakin mengerat di pinggang Amira, menahan wanita itu agar tetap menempel padanya. "Ruangan ini kedap suara ke lorong lain. Tidak akan ada yang mendengarnya selain kita." "Kamu gila!" Amira meronta lebih kuat, dadanya naik-turun dengan cepat. "Dia suamiku, Malik! Jika dia mendobrak pintu ini...." "Dia tidak akan berani mendobrak apa pun yang menjadi milikku," potong Malik tajam. Gedoran di pintu terdengar lagi, kali ini disertai suara tendangan yang lemah. "Kak Malik! Keluarlah! Apa yang Kakak lakukan di dalam sana bersama istriku?!" Mendengar tuntutan itu, Malik menghela napas panjang yang sarat akan kebosanan. Dengan gerakan perlahan yang menyiksa, pria itu melepaskan pinggang Amira. Ia mengangkat tangannya, membelai rahang Amira yang basah oleh air mata, lalu mengecup dahi wanita itu dengan singkat namun posesif. "Tunggu di sini, Habibti. Biar aku singkirkan hama ini sebentar," bisik Malik. Amira mematung di tempatnya saat Malik membalikkan badan dan melangkah santai menuju pintu. Pria itu tidak berusaha merapikan kemejanya yang berantakan. Kancing atasnya masih terbuka lebar, memperlihatkan dada bidangnya yang bernapas tenang, dan lengan kemejanya tetap tergulung. Sang Raja Bawah Tanah itu benar-benar tidak memiliki setitik pun rasa takut. Dengan satu putaran tangan yang mulus, Malik membuka gerendel kuningan itu dan menarik pintu hingga terbuka lebar. Amira menahan napas, meremas ujung gaun merah marunnya hingga buku-buku jarinya memutih. Zayn berdiri di ambang pintu dengan dada yang naik-turun hebat. Wajah suaminya memerah padam oleh amarah, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Namun, detik ketika mata Zayn bersirobok dengan tatapan kelam dan mematikan milik sang kakak, postur tubuh pria itu seketika menyusut. Bahu Zayn turun, dan keberanian semunya menguap bagai embun yang tersengat matahari. "Ada apa dengan teriakanmu, Zayn? Kamu mengganggu waktu istirahatku," ucap Malik dengan nada datar yang sedingin es. Pria itu berdiri di tengah bingkai pintu, tubuh besarnya menghalangi pandangan Zayn ke dalam kamar secara penuh. Zayn menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap kemeja Malik yang terbuka. "A-apa yang Kakak lakukan di kamar istriku selarut ini?" "Istrimu merasa kurang sehat setelah makan malam. Aku hanya memastikan bahwa Nyonya Al-Fayed mendapatkan perawatan yang layak, mengingat suaminya terlalu sibuk mengurus kertas-kertas sialan di ujung sayap utara," jawab Malik tanpa dosa. Suaranya mengalun tenang, namun mengandung racun ancaman yang sangat pekat. Zayn mencoba mengintip ke dalam ruangan dari balik bahu lebar kakaknya. Matanya akhirnya menemukan sosok Amira yang berdiri kaku di dekat meja rias. Gaun merah marun Amira terlihat sedikit kusut, wajahnya memerah, dan bibirnya tampak membengkak. Di leher wanita itu, choker beludru hitam pemberian Malik bertengger dengan sangat menonjol. Napas Zayn tercekat. Kenyataan itu menampar wajahnya dengan telak. Zayn bukanlah pria yang sepenuhnya bodoh, ia tahu persis apa arti dari pemandangan yang tersaji di depan matanya. "Amira," panggil Zayn dengan suara bergetar. Kemarahannya kembali muncul, kali ini didorong oleh rasa terhina. "Ke mari. Berdiri di belakangku sekarang juga!" Amira menatap suaminya dengan mata membelalak. Untuk sedetik, ada secercah harapan di hatinya. Apakah Zayn akan membelanya? Apakah suaminya akhirnya memiliki keberanian untuk melawan sang penguasa klan demi kehormatan pernikahan mereka? Dengan langkah gemetar, Amira mencoba melangkah maju mendekati pintu. Namun, baru satu langkah ia ambil, suara bariton Malik menghentikannya. "Berhenti di tempatmu, Amira," perintah Malik tanpa menoleh ke belakang. Langkah Amira terhenti seketika seolah kakinya dipaku ke lantai. Malik lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata Zayn yang diliputi kepanikan. "Dia tidak akan ke mana-mana, Zayn. Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah, mengapa kamu ada di sini? Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk tidak keluar dari ruang kerja sampai kerugian pelabuhan itu selesai dihitung?" "T-tapi, ini kamarku, Kak! Dia istriku!" Zayn mencoba meninggikan suaranya, meski lututnya terlihat jelas bergetar. "Kakak tidak bisa masuk ke sini dan—" "Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau di dalam rumahku sendiri!" bentak Malik tiba-tiba. Suara itu menggelegar bak guntur, membuat tubuh Zayn tersentak mundur selangkah dan Amira memekik tertahan di dalam kamar. Aura membunuh yang selama ini disembunyikan Malik akhirnya meledak keluar. Malik mencengkeram kerah kemeja Zayn dengan satu tangan, menarik adiknya itu mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. "Kamu berutang jutaan dolar pada klan karena kebodohanmu, Zayn. Kamu mempermalukan nama keluarga di depan sindikat lain. Dan sekarang, kamu berani menaikkan suaramu padaku karena seorang wanita yang bahkan tidak pernah kamu sentuh dengan benar?" "M-maafkan aku, Kak. Tolong lepaskan," rintih Zayn, wajahnya kini berubah pucat pasi. Kepanikan murni menggantikan seluruh kemarahannya. Pria itu benar-benar ketakutan. "Dengar baik-baik, adikku yang menyedihkan," desis Malik, menekan setiap kata dengan kekejaman absolut. "Mulai malam ini, kamar ini adalah wilayahku. Jika kamu masih ingin mewarisi sebagian dari kekayaan klan dan tidak berakhir menjadi mayat di dasar Laut Mediterania, kamu akan berbalik sekarang, kembali ke ruang kerjamu, dan melupakan apa yang kamu lihat malam ini. Apakah kamu mengerti?" Di dalam kamar, air mata Amira jatuh berderai. Ia menatap suaminya dengan penuh permohonan. Tolak dia, Zayn. Lawan dia. Bawa aku pergi dari sini, batin Amira menjerit putus asa. Namun, Zayn justru menundukkan kepalanya. Pria itu menghindari tatapan mata Amira. Menghadapi ancaman kehilangan harta warisan dan nyawanya, Zayn membuat pilihan yang paling pengecut. "Y-ya, Kak Malik. Aku mengerti," bisik Zayn parau. Hati Amira hancur berkeping-keping menjadi debu. Suaminya baru saja menyerahkannya pada sang iblis dengan tangannya sendiri. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi perlindungan untuknya sebagai seorang istri. Malik melepaskan cengkeramannya pada kerah Zayn dengan kasar, merapikan jas adiknya itu dengan tepukan merendahkan. "Bagus. Pilihan yang cerdas. Sekarang, enyah dari hadapanku." Zayn membalikkan badannya dan melangkah pergi menyusuri lorong yang gelap, menyeret langkahnya yang berat tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun. Malik menatap kepergian adiknya dengan seringai puas, lalu melangkah mundur ke dalam kamar. Pria itu meraih gagang pintu dan menariknya perlahan. Matanya langsung mengunci sosok Amira yang kini merosot jatuh ke lantai, menangis tergugu menyadari kehancuran hidupnya. Klik. Pintu kayu ek itu tertutup rapat, dan suara gerendel kembali diputar dari dalam. Kunci itu berputar dua kali, memastikan bahwa kali ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghentikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Malik bersandar di daun pintu, menatap ratunya yang telah sepenuhnya kehilangan tempat berlindung. Sambil melonggarkan dasinya, pria itu berbisik dengan nada yang sangat gelap dan memabukkan. "Nah, Habibti. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggu kita. Sampai mana kita tadi?"Tiga hari berlalu sejak pertemuan menjengkelkan di ruang rapat dewan klan dan dalam tiga hari itu pula, dunia bawah tanah Lebanon menyaksikan bagaimana murka seorang Malik Al-Fayed terwujud dalam bentuk abu dan kehancuran finansial.Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Zayn duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap layar televisi datar di dinding dengan tatapan kosong bercampur ngeri. Saluran berita internasional menyiarkan gambar langsung dari pesisir Laut Hitam. Kepulan asap tebal membubung ke langit malam Odessa, Ukraina. Tiga gudang logistik terbesar milik keluarga Madame Soraya rata dengan tanah akibat ledakan beruntun yang secara resmi disebut polisi lokal sebagai "kebocoran gas industri".Namun, semua orang di lingkaran dunia bawah tahu kebenarannya. Itu adalah eksekusi terencana. Kargo senjata selundupan bernilai jutaan dolar hangus tak bersisa. Saham perusahaan cangkang keluarga Soraya anjlok hingga titik nadir dalam hitungan jam. Keluarga itu bangkrut seketika
Sinar matahari telah lama tenggelam di ufuk Mediterania saat Amira perlahan membuka matanya. Kamar tidur utama itu hanya diterangi oleh lampu temaram di nakas. Hal pertama yang menyerbu indranya adalah aroma oud yang maskulin, pekat, dan mendominasi, aroma yang kini secara aneh memberikan efek menenangkan bagi sistem sarafnya yang sempat hancur.Amira mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan. Di kursi berlengan kulit di sudut ruangan, duduklah sang Iblis Beirut. Malik telah melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dihiasi beberapa bekas luka lama, bukti nyata bahwa tahta yang dia duduki dibangun di atas pertumpahan darah. Pria itu tengah memutar gelas kristal berisi bourbon di tangannya, menatap Amira dengan intensitas yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.Melihat Amira tersadar, Malik meletakkan gelasnya dan melangkah mendekat. Ranjang king-size itu sedikit melesak saat Malik duduk di tepinya."Kamu tidur cukup lama, Habibti," suara bariton Malik
Aroma oud yang pekat, maskulin, dan sarat akan dominasi menguar dari tubuh Malik, memenuhi ruang pertemuan utama klan Al-Fayed. Ruangan berdinding kayu mahoni gelap itu biasanya hanya menjadi saksi bisu pertumpahan darah dan negosiasi senjata. Namun siang ini, udara terasa sangat pengap oleh intrik picikan yang membuat rahang Malik mengeras.Di ujung meja bundar berukir, para tetua dewan, Bashir, Yusuf, dan Hamza duduk dengan wajah berkerut serius. Di seberang Malik, duduklah dua tamu yang kehadirannya di ruang sakral ini saja sudah membuat darah sang Capo mendidih. Ada Madame Soraya dan putrinya yang didandani bak boneka porselen, Layla.Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah sosok Bibi Najwa yang duduk di samping Paman Bashir. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun kerah tinggi bergaya Victoria, sengaja menutupi memar ungu bekas cengkeraman Malik di lehernya dengan senyum licik yang memuakkan terukir di bibir merahnya."Aliansi ini adalah langkah paling logis untuk klan
Najwa Al-Fayed melangkah menyusuri lorong remang-remang di sebuah vila kuno di pinggiran Baabda. Ini adalah tempat pertemuan rahasia para Consigliere tua, tiga pria yang telah mengabdi pada klan Al-Fayed sejak zaman kakek Malik masih menyelundupkan emas di pelabuhan. Mereka adalah penjaga tradisi, hakim moral, dan pemegang kunci restu dewan klan.Dengan leher yang dibalut syal sutra tebal untuk menyembunyikan memar keunguan bekas cengkeraman Malik, Najwa duduk di hadapan mereka. Napasnya masih terasa berat, namun dendam di dadanya jauh lebih menyesakkan."Paman Bashir, Paman Yusuf, Paman Hamza," suara Najwa bergetar, sengaja dibuat sedramatis mungkin. "Aku datang membawa aib yang akan menghancurkan fondasi klan kita jika tidak segera dihentikan."Bashir, pria tertua dengan janggut putih panjang dan mata yang sudah mulai keruh, menyesap kopi pekatnya perlahan. "Bicara namamu dengan tenang, Najwa. Apa yang membuatmu begitu gemetar?""Malik," desis Najwa. "Keponakan kita yang agung itu,
Lobi utama gedung klan Al-Fayed di pusat kota Beirut biasanya merupakan tempat yang tenang, simbol kemegahan dan otoritas. Namun, ketenangan itu pecah saat Bibi Najwa berlari masuk dengan napas tersengal. Riasan wajahnya yang mahal kini luntur bercampur air mata dan keringat, kalung mutiaranya yang bernilai ribuan dolar telah hilang separuh, meninggalkan lehernya yang memar kemerahan. "Tuan Zayn! Di mana Tuan Zayn?!" teriaknya histeris pada para penjaga yang kebingungan. Tanpa menunggu jawaban, ia menerjang masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai kantor eksekutif. Sepanjang perjalanan di dalam lift, tangan Najwa gemetar hebat. Bayangan mata Malik yang hitam dan dingin, mata seorang pembunuh yang tak memiliki nurani, terus menghantuinya. Ia merasa seolah tangan besar keponakannya itu masih melingkar erat di tenggorokannya, merenggut nyawanya inci demi inci. Pintu kantor Zayn terbuka dengan dentuman keras saat Najwa menabraknya. Zayn, yang sedang duduk lesu di balik meja kerjany
Sinar matahari sore menembus kaca antipeluru penthouse Apex Tower, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Amira berdiri di dekat meja dapur island, mencengkeram tepian marmer itu dengan buku-buku jari memutih. Kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya melilit perih.Sejak pusaran konflik ini dimulai dari rumah sakit, pelarian, hingga terkurung di menara gading Malik, selera makan Amira hancur lebur. Lambungnya yang kosong kini memprotes keras, diperparah oleh kecemasan yang terus menggerogoti kewarasannya.Di saat ia memejamkan mata mencoba menenangkan napasnya, denting halus lift pribadi terdengar memecah keheningan. Amira mengernyit. Ini terlalu cepat untuk kepulangan Malik dari Tripoli.Namun, alih-alih langkah kaki berat dan maskulin milik sang Capo, yang terdengar adalah ketukan nyaring sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer, disusul oleh suara lengkingan wanita paruh baya yang sangat familiar dan selalu membawa teror psikologis bagi Amira."Minggir, bodoh! Kamu
Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja
Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratn
Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," pe
Suara logam dari gerendel pintu yang diputar itu bergema layaknya vonis eksekusi mati di telinga Amira.Napasnya terhenti seketika. Ia merapatkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang dingin, seolah benda mati itu bisa melindunginya dari bahaya. Aroma oud dan cerutu semakin pekat, mengusir wangi







