Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kafe, menyinari meja kayu tempat Bayu duduk dengan tenang. Di hadapannya, Lyra tampil dengan keanggunan yang dipaksakan, sebuah gaun sutra berwarna krem yang membalut tubuhnya seolah dia sedang bersiap merayakan kemenangan besar. Di tangannya, sebuah map dokumen tebal dipegang erat, seolah-olah itu adalah kunci untuk membuka pintu kekayaan yang selama ini ia impikan. "Selamat pagi, Bayu. Atau haruskah aku memanggilmu mantan Pak Komisaris?" sapa Lyra dengan nada riang yang dibuat-buat. Dia meletakkan map itu di atas meja, sengaja menepuk-nepuk permukaannya agar Bayu memperhatikannya. Bayu tidak tersenyum. Dia menyesap kopi hitamnya secara perlahan, menikmati aroma pahit yang tajam sebelum menatap Lyra dengan pandangan yang tak terbaca. "Simpan dulu ekspektasimu, Lyra. Takutnya hasilnya tidak sesuai. Aku ke sini untuk bisnis, bukan untuk mendengarkan leluconmu,” sahur Bayu dengan santai. Lyra tertawa renyah, lalu dia mengeluarkan
続きを読む