Share

Bab 228

Auteur: Kak Han
last update Date de publication: 2026-05-07 19:33:48

Cindy melangkah masuk ke area ruang tunggu eksekutif dengan langkah yang lebih ringan, meski dadanya masih berdenyut oleh rasa malu yang dalam. Dia meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi kerjanya. Kursi yang hampir dia jadikan singgasana untuk merencanakan sebuah pengkhianatan besar. Dia merapikan beberapa dokumen yang berantakan, mencoba menyibukkan jemarinya agar tidak bergetar saat melihat sosok yang sebentar lagi akan datang.

​Tak lama kemudian, pintu lift berdenting. Bayu berjalan masuk be
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 230

    ​Di tempat lain, Rio menatap ponselnya yang sudah gelap dengan tatapan penuh amarah. Napasnya memburu, tapi kali ini ada rasa hampa yang mulai menjalar di dadanya. Amukan Lyra tadi barusan menyadarkannya pada satu kenyataan pahit. Dia benar-benar seorang pecundang. Tidak ada lagi sekutu, tidak ada lagi harta yang bisa disombongkan, dan tidak ada lagi cara licik yang tersisa. ​Rio berjalan menuju meja kerjanya yang berantakan, di mana sebuah surat resmi dari pengadilan agama tergeletak di sana. Surat panggilan sidang perceraian pertama. ​Rio menyentuh kertas itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Selama ini, dia menggunakan amarah sebagai tameng untuk menutupi ketakutannya akan kehilangan kendali. Dia membual akan mempersulit perceraian, akan membuat hidup Maudy neraka, namun di depan matanya sendiri, hukum tetap berjalan lurus tanpa peduli pada egonya. ​"Semuanya belum berakhir. Aku belum kalah!" gumamnya lirih sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.. Suaranya hilang ditelan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 229

    ​Di dalam ruangan, Bayu dan Maudy masih berdiri di dekat meja besar. Bayu membuka penutup kotak bekal itu. Aroma masakan rumahan yang khas, sambal goreng ati dan ayam ungkep, seketika memenuhi ruangan, mengalahkan aroma pengharum ruangan yang elegan.​"Masakan Ibu selalu punya aroma yang luar biasa. Maudy, kamu masih memikirkan perubahan sikap Cindy tadi?" puji Bayu tulus. Dia mengambil sepotong ayam dan menatap Maudy yang masih tampak termenung. ​Maudy mengangguk pelan, dia menyentuh pinggiran kotak bekal miliknya. "Ya. Sepertinya dia memang benar benar sudah berubah. Dia tidak lagi memandangku dengan binar kecemburuan yang biasanya menyakitkan. Dia seperti sedang berdamai dengan sesuatu,” sahut Maudy. "Mungkin dia sudah menyadari bahwa kebahagiaan tidak bisa dipaksakan. Cindy anak yang baik, Maudy. Dia hanya butuh waktu untuk mendewasakan perasaannya. Dan melihatnya bersikap hormat padamu hari ini, itu membuatku sangat lega,” ucap Bayu ​sambil mendekati Maudy, lalu memegang bahun

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 228

    Cindy melangkah masuk ke area ruang tunggu eksekutif dengan langkah yang lebih ringan, meski dadanya masih berdenyut oleh rasa malu yang dalam. Dia meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi kerjanya. Kursi yang hampir dia jadikan singgasana untuk merencanakan sebuah pengkhianatan besar. Dia merapikan beberapa dokumen yang berantakan, mencoba menyibukkan jemarinya agar tidak bergetar saat melihat sosok yang sebentar lagi akan datang.​Tak lama kemudian, pintu lift berdenting. Bayu berjalan masuk berdampingan dengan Maudy. Keduanya tampak sedang berbincang pelan, sebuah pemandangan yang biasanya akan membuat hati Cindy terasa seperti disayat sembilu. Namun kali ini, ada sesuatu yang menahan rasa sakit itu; kata-kata ibunya tentang "darah yang sama" bertindak sebagai penawar racun di hatinya.​Cindy segera berdiri. Dia tidak memoles senyum manja atau mencoba mencuri perhatian dengan tatapan menggoda seperti yang biasa ia lakukan.​"Selamat pagi, Pak Bayu. Selamat pagi, Bu Maudy," ucap Cindy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 227

    Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kamar Cindy terasa lebih menyengat dari biasanya. Cindy berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Sebuah jejak dari malam panjang yang penuh pergolakan batin. Tangannya gemetar saat dia memulas lipstik, mencoba menutupi kegelisahan yang merayap di balik pori-porinya.​Keputusan sudah diambil. Logikanya telah kalah oleh obsesi yang ditiupkan Lyra. Dia akan melancarkan aksi itu. Dia akan menjerat Bayu ke dalam situasi yang tak mungkin bisa pria itu tolak. Dalam benaknya, dia sudah menyusun rencana untuk mengajak Bayu merayakan kembalinya dia bekerja dengan alasan permohonan maaf atas kegaduhan yang dibuat Rio kemarin.​Namun, saat dia melangkah ke ruang makan untuk berpamitan, langkahnya terhenti. Di atas meja, sudah tersedia dua buah kotak bekal yang dibungkus dengan rapi. Ibunya sedang sibuk merapikan dua bekal tersebut dengan senyum yang tulus, sen

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 226

    Di sebuah bar yang tersembunyi di sudut kota, Rio duduk sendirian dengan segelas minuman keras yang sudah hampir tandas. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memantul di matanya yang memerah, memperlihatkan gurat keputusasaan sekaligus dendam yang membara. Amarahnya bukannya padam setelah diusir dari kantor Bayu. sebaliknya, rasa malu itu terus menggerogoti dadanya seperti api yang disiram bensin.​Setiap kali dia teringat wajah tenang Bayu dan tatapan muak Maudy, tangannya akan mencengkeram erat gelas kaca itu. Bagi Rio, kehilangan harta adalah satu hal, tapi melihat Maudy, hidup bahagia dengan musuh bebuyutannya adalah penghinaan yang tidak bisa dia toleransi. Bukan karena dia masih menyukai Maudy, melainkan karena harga diri.​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia merogoh ponselnya dan menghubungi Lyra. Begitu panggilan tersambung, Rio tidak lagi menggunakan basa-basi.​"Lyra! Ada hal penting yang mau aku bicaranya dengan kamu!!" geram Rio, suaranya serak dan berat dari s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 225

    Malam itu, kamar Cindy terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya lampu meja yang remang hanya mampu menerangi sebagian kecil ruangan, sementara sisa ruangan lainnya dibiarkan tenggelam dalam kegelapan. Persis seperti kondisi pikiran Cindy saat ini. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit plafon dengan mata yang terjaga sepenuhnya. Jarum jam dinding berdetak dengan suara yang seolah sengaja mengejek keheningan hatinya.​Pikiran Cindy terus berputar pada kata-kata Lyra di kafe tadi sore. “Korbankan harga dirimu!” bisikan itu terngiang seperti kaset rusak di telinganya.​Di satu sisi, ada sebuah letupan ego yang membakar dadanya. Bayangan jika suatu saat dia terbangun di samping Bayu, dan Bayu terpaksa menjadi miliknya karena ikatan tanggung jawab, terasa seperti kemenangan yang selama ini dia impikan. Dia membayangkan wajah Maudy yang hancur, yang akan pergi menjauh karena kecewa dan jijik pada Bayu. Itulah skenario yang membuat Cindy tersenyum tipis dalam kegelapan.​Namun, di d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 16

    Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. ​"Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status