로그인“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di kamarnya.” Raka menghela napas ringan, lalu melangkah mendekat. “Papa keseringan diam di kamar,” gumamnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jadi kita jarang punya waktu … untuk melakukan yang seperti biasa.” Kalimat itu membuat Soraya langsung menurunkan majalahnya. Tatapannya berubah tajam. Ia melirik cepat ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Matanya juga sempat jatuh pada Sherly yang duduk di karpet sambil memainkan boneka beruang kesayangannya, pemberian dari Sasqia. “Kamu jangan bicara sembarangan, Raka,” desis Soraya pelan, namun penuh tekanan. Raka justru tersenyum tipis. “Saya tidak bodoh, Ma,” balasnya santai. “Mana mungkin saya membica
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perlahan, seolah sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan itu. “Kenapa?” satu alisnya terangkat tipis. “Apa harganya terlalu murah?” Sasqia membuang pandangannya ke arah lain. “Hutang saya sudah dua miliar pada Anda,” katanya pelan. “Jadi jangan menambahkan apa pun lagi.” Ia menelan napas. “Jangan memberatkan hidup saya.” Kaelix terkekeh pelan. “Ini bukan hutang tambahan,” ujarnya santai. “Ini bayaran untuk waktumu yang berharga.” Ia menatap Sasqia lurus. “Karena kamu sudah meluangkan waktu untuk menemui saya.” Sasqia menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Tuan,” katanya akhirnya. “Anda tidak akan bisa mengendalikan saya hanya dengan uang … ataupun barang-barang seperti itu.” Kael
Kaelix menghela napas panjang. “Seharusnya kamu protes pada ibumu,” ucapnya datar. “Kenapa malah pada saya?” Satu alisnya terangkat tipis. Sasqia sempat membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang bercampur antara marah dan terpaksa. “Anda tetap salah,” katanya akhirnya, suaranya tertahan. “Kenapa harus saya yang datang? Yang butuh pekerjaan di perusahaan Anda itu kakak saya dan suaminya.” Kaelix mengangguk pelan, seolah sudah tahu arah pembicaraan ini sejak awal. “Siapa yang tidak tahu itu?” Ia meletakkan iPad di atas meja dengan tenang, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya perlahan mendekati Sasqia. Kini mereka berdiri sangat dekat. Sasqia harus sedikit mendongak untuk menatap wajah pria itu. “Saya meminta ibumu agar kamu yang datang, itu hanya alibi,” ucap Kaelix dingin, dengan nada yang hampir terdengar seperti ejekan. Sasqia mengernyit. “Lalu?” “Saya ingin bertemu dengan kamu.” Sudut bibir Sasqia terangkat tipis. “Jadi benar, k
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Suasana sebenarnya tampak biasa saja. Namun bagi Sasqia, udara di meja itu terasa berat. Ia melirik Raka dan Shiren secara bergantian. Tatapannya datar. Dingin. Tajam. Dalam hatinya ada sesuatu yang terus mengusik—rasa kesal yang sulit dijelaskan. Karena demi mereka ia harus kembali mengemis pada Kaelix. Tapi di sisi lain, Sasqia juga sadar satu hal. Mungkin ada baiknya jika mereka benar-benar bekerja. Setidaknya mereka bisa terlihat berguna sebagai manusia, bukan hanya hidup dari orang lain. Meski konsekuensinya jika mereka gagal, nama Sasqia yang akan ikut tercoreng. “Ma.” Suara Shiren memecah keheningan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu yang sedang makan dengan tenang. S
Sasqia baru saja keluar dari bandara setelah penerbangan panjang dari Spanyol. Ia menarik kopernya sambil berjalan di sisi Tristan yang juga menyeret koper miliknya. Di kejauhan, sopir pribadi Tristan sudah menunggu di depan mobil. “Berikan kopermu padanya,” ujar Tristan pada Sasqia. “Biar saya antar kamu ke kost putri seperti biasa.” Sasqia langsung menelan ludah. Dengan cepat ia menahan koper miliknya ketika sopir itu hendak mengambilnya. “Mas pulang duluan aja,” ucapnya, mencoba terdengar santai. Tristan menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa?” “Ada yang harus saya lakukan di luar,” jawab Sasqia sambil tersenyum tipis. “Saya pulang naik taksi aja.” “Mau ke mana?” tanya Tristan lagi. “Tidak apa-apa, saya antar. Ke mana pun kamu pergi.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Mas pasti capek setelah perjalanan panjang. Lebih baik langsung istirahat saja,” katanya. “Saya cuma mau belanja kebutuhan sehari-hari, sekalian mumpung lagi di luar. Nanti Mas malah bosan kalau harus menu
“Mas, terima kasih banyak sudah menemani saya jalan-jalan di Granada hari ini. Termasuk mengajak saya ke Alhambra,” ucap Sasqia tulus setelah mereka kembali ke kamar hotel. Tristan yang sedang melepas jam tangannya hanya mengangguk singkat. “Sekarang istirahat,” katanya tenang. “Nanti malam kita harus kembali bekerja.” Sasqia mengangguk cepat. Senyum manisnya masih belum pudar sejak mereka pulang dari sana. “Iya, Mas. Tapi saya tidak yakin bisa tidur siang.” Tristan menoleh. “Kenapa?” Sasqia tertawa kecil. “Kepikiran foto-foto tadi.” “Kenapa harus dipikirkan?” Tristan menyipitkan matanya. “Karena belum puas lihatinnya,” jawab Sasqia sambil terkekeh. Tristan menggeleng pelan. “Kalau begitu, biar saya bantu kamu tidur.” Sasqia langsung membulatkan matanya ketika Tristan tiba-tiba menarik lengannya dan menuntunnya ke arah ranjang. “Mas mau ngapain?” protesnya. “Mas mau puk-puk saya kayak anak kecil itu? Biar saya bisa tidur?” Tristan terkekeh pelan. “Itu tahu,” ka
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya
“Tidak hanya dilunasi, Sasqia,” lanjut Jevier pelan, menatapnya dalam. “Pembayarannya tanpa batas estimasi. Nama ayahmu sudah masuk dalam daftar perawatan prioritas.” Sasqia mematung. “Artinya,” Jevier meneruskan, “Bahkan jika beliau harus dirawat kembali nanti, tida
“Wah … rumahnya besar banget, Nek! Ada kolam renangnya juga!” seru Sherly riang. Bocah tiga tahun itu berlari kecil menyusuri lantai marmer yang masih mengilap, boneka beruang pemberian Sasqia dipeluk erat di dadanya. Kakinya yang mungil melangkah menuju taman samping yang langsung menghadap ko







