LOGIN“Lihat, Mir,” ucap Remmer sembari tersenyum kecil. “Putra sulung kita semakin tampan sejak menikah.” Miriam ikut tersenyum. Tatapannya sempat melirik Sasqia sekilas sebelum kembali pada Kaelix. “Memang sejak dulu dia sudah tampan, Mas. Jadi bukan karena menikah.” Remmer terkekeh pelan. “Beda. Sekarang wajahnya jauh lebih hidup.” Tatapannya beralih pada putra sulungnya. “Berarti kamu memang tidak salah memilih pasangan.” Remmer hanya ingin mencairkan suasana ruang keluarga yang sejak tadi terasa kaku. Ia sengaja menghindari pembicaraan mengenai perusahaan maupun pekerjaan. Malam itu, ia ingin Kaelix datang sebagai seorang anak, bukan sebagai direktur utama. Kaelix tidak langsung menjawab. Sebaliknya, tangannya perlahan mencari tangan Sasqia yang berada di sampingnya. Lalu menggenggamnya erat. Sasqia sedikit terkejut. Refleks ia menoleh ke arah suaminya. Belum sempat bertanya, Kaelix mengangkat tangan mereka yang saling bertaut, lalu mengecup punggung tangan istrinya dengan begi
“Ada acara apa? Kenapa makan malamnya semewah ini?” tanya Jevier begitu memasuki ruang makan. Miriam yang tengah mengatur posisi vas bunga di tengah meja langsung tersenyum lebar. “Sudah hampir tiga bulan Kaelix tidak pernah menginjakkan kaki ke mansion sejak menikah,” jawabnya. “Malam ini dia bilang akan datang bersama istrinya. Bahkan mungkin menginap sampai besok.” Jevier terdiam beberapa detik. “Kakak datang ... sama Sasqia?” “Tentu saja.” Senyum Miriam perlahan memudar. “Masa istrinya ditinggal sendirian di rumah?” Belum sempat percakapan berlanjut, Tristan muncul dari arah ruang keluarga sambil menggandeng tangan kecil Sana. “Nenek ...,” seru bocah itu riang. “Banyak makanan!” “Iya, Sayang.” Miriam mengusap kepala cucunya. “Om Kael mau datang.” “Mama Sasqia juga?” “Tante Sasqia,” Tristan membenarkan pelan. Sana mengangguk cepat. “Iya, Tante Sasqia.” Miriam memaksakan senyum. “Iya.” Tristan melirik hidangan yang memenuhi meja makan. Aroma masakan memenuhi seluruh ruan
Tiga bulan berlalu sejak hari pemberkatan itu. Tak ada lagi perjalanan bulan madu. Tak ada lagi rumah yang terasa asing. Kini, mansion megah itu perlahan berubah menjadi rumah bagi Kaelix dan Sasqia. Rutinitas baru mulai terbentuk. Setiap pukul delapan pagi, Kaelix sudah bersiap berangkat ke kantor. Setiap siang, jika tidak ada rapat penting, pria itu akan pulang untuk makan bersama istrinya. Setiap malam, lampu kamar utama selalu padam menjelang tengah malam, lalu baru kembali menyala beberapa jam kemudian. Sasqia tak pernah benar-benar terbiasa menghadapi stamina suaminya. Namun perlahan, ia mulai terbiasa menghadapi sifat Kaelix. Pria itu memang dingin. Jarang tersenyum. Sulit ditebak. Tetapi juga selalu memastikan ia makan tepat waktu. Tak pernah lupa mengingatkannya meminum vitamin. Bahkan diam-diam mengganti seluruh isi lemari pakaian istrinya setiap kali melihat ada pakaian model terbaru. Bagi Sasqia, itu semua sekadar perhatian standar yang diberikan seorang Kaelix bag
Siang itu, rumah megah yang baru mereka tempati masih terasa lengang. Tak ada suara pelayan, tak ada suara langkah kaki selain milik Sasqia yang sibuk mondar-mandir di dapur luas bernuansa putih dan krem. Beberapa saat sebelumnya, Kaelix mengirim pesan singkat. | sy pulang utk makan siang. Karena itulah Sasqia memutuskan memasak sendiri. Ia ingin melakukan sesuatu sebagai seorang istri. Meski hanya menyiapkan makan siang. Pisau di tangannya bergerak perlahan membelah sayuran di atas talenan. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di dapur. Ucapan Miriam terus berputar di kepalanya. ‘Saya tidak mau satu pun cucu keluarga Enver lahir dari rahim kamu.’ Gerakan tangannya melambat. Tatapannya kosong menatap potongan wortel di depannya. “Jadi ...,” suaranya nyaris tak terdengar. “Posisiku di rumah ini sebenernya apa?” Ia tersenyum pahit. “Cuma pajangan? Atau … cuma perempuan yang memenuhi kebutuhan Mas Kael setiap malam?” Napasnya terasa berat. “Aku pikir ... dengan gak jadi m
Di ambang pintu ruang keluarga, Miriam berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan wanita paruh baya itu menyapu seluruh ruangan sebelum kembali berhenti pada Sasqia. Tatapan yang dingin, dan penuh penilaian. “Rumah ratusan miliar,” ucap Miriam sambil melangkah masuk perlahan. “Cepat sekali kamu mendapatkannya.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Bu, ini bukan—” “Tidak usah menjelaskan.” Miriam memotong ucapannya. “Kaelix memang selalu royal. Tapi saya tidak menyangka, dia bisa sebuta ini.” Sasqia menundukkan kepalanya. “Saya tidak pernah meminta rumah ini.” “Tentu saja.” Miriam tersenyum tipis, namun senyum itu tak mencapai matanya. “Orang yang pintar memang tidak pernah meminta. Mereka cukup membuat orang lain memberikannya dengan sukarela.” Kalimat itu menghantam telak. Sasqia mengangkat kepalanya perlahan. “Ibu salah paham.” “Salah paham?” Miriam tertawa pelan. “Kalau begitu jelaskan pada saya.” Tatapannya berubah semakin tajam. “Dalam hitungan hari setelah menikah
“Apa?” seru Miriam dengan mata membulat. “Kaelix membeli rumah seharga ratusan miliar atas nama istrinya?” Martha mengangguk hormat. “Iya, Nyonya. Informasi itu baru saya terima pagi ini. Sertifikat rumah tersebut langsung menggunakan nama Nyonya Sasqia.” Untuk beberapa saat, ruang makan dipenuhi keheningan. Miriam memejamkan mata sesaat, lalu menghembuskan napas panjang. “Kaelix benar-benar sudah kehilangan akal,” gerutunya. “Baru kenal perempuan itu, baru menikah beberapa hari, tapi sudah memberikan aset sebesar itu.” Nada bicaranya semakin tajam. “Apa dia lupa kalau keluarga istrinya sangat mata duitan? Jangan-jangan mereka memang mengincar semua harta Kaelix sejak awal.” “Kenapa pagi-pagi sudah marah begitu?” Suara Remmer terdengar dari arah pintu ruang makan. Pria paruh baya itu berjalan masuk dengan langkah santai, disusul Tristan yang menggendong Sana di pelukannya. Tak lama kemudian, Jevier ikut bergabung dan menarik kursi tanpa banyak bicara. Miriam langsung menoleh
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,
“Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat







