Masuk
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi seorang gadis hingga kepalanya terhentak. Namun, yang lebih menyakitkan bukan rasa panas di pipinya, melainkan pria yang baru saja melakukannya. “Mark?” desis wanita yang bernama Winter. Dia menatap tak percaya pada kekasih yang selama empat tahun ini memanjakannya. “Kamu menamparku?” Winter sungguh tak menduga Mark berbuat kasar padanya. Dan lelaki itu? Dia tidak menunjukkan penyesalan. Mark justru mengusap telapak tangannya sendiri seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. “Aku tidak akan melakukannya kalau kamu menurut.” Winter Valerian, dia adalah detektif muda di sebuah lembaga penegak hukum. Dalam kasus yang berat ini, dia harus melawan mafia paling mengerikan demi keadilan. Sebagai calon suami sekaligus senior, Mark sudah berjanji akan melindunginya. Lalu kenapa sekarang pria itu justru memaksanya berhenti menyelidiki? “Aku hanya ingin kamu sadar, kalau hubungan kita jauh lebih penting dari pada menjadi pahlawan. Keluarga Libermon itu sangat berbahaya.” Ucapan itu nampak penuh dengan kepedulian, tapi bukannya terharu Winter justru tertawa sumbang. “Kita?” Pikirannya seempat melayang pada cincin pertunangan yang baru mereka bicarakan bulan lalu. “Tidak ada 'kita' kalau kamu membiarkan keluarga Libermon itu melakukan segalanya sesuka hati mereka! Kamu kekasihku, calon suamiku, Mark! Kamu orang yang paling aku percaya saat aku mengatakan takut dengan penyelidikan ini!” “Justru karena aku lelakimu, aku memberimu pilihan,” ucap Mark dengan napas memburu, “Diam dan biarkan aku naik pangkat dengan tidak mengusik keluarga mafia itu, atau kau hancur sendirian." Winter mengernyit, “Naik pangkat? Maksudmu?” “Ya, Winter, Ya! Kamu tahu kan kelompok mafia itu memberikan kita jutaan dolar? Kita bisa kaya hanya dengan membiarkan mereka melakukan yang mereka suka! Dan kau justru—“ PLAK! Kali ini tangan Winter yang membuat pipi Mark memerah. Tatapan Winter pada Mark berubah. Jadi, alasan kenapa penyelidikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kelompok mafia dari keluarga Libermon menguap di udara adalah karena timnya menerima suap. “Dasar Berengsek! Kau tak jauh berbeda dengan tikus-tikus yang sudah menguasai keadilan kota ini! Kau—“ Mark melangkah maju, mencengkeram rahang Winter dengan sorotnya yang tajam. Tak ada tatapan penuh cinta dan kehangatan. Yang ada kini sorot penuh ambisi yang rakus. “Aku sudah memperingatkanmu, Winter. Berhenti jadi pahlawan para korban. Tapi kamu sama sekali tidak pernah mendengarkanku.” Mata Winter mengerjap untuk menetralkan rasa sesak dan sakit di rahang sekaligus hatinya. Bertepatan itu pula sebuah mobil hitam memasuki gang dan berhenti tak jauh dari mereka. “Aku beri satu kali kesempatan, lepaskan penyelidikan dan kita bisa melanjutkan pernikahan. Atau kau lebih memilih karirmu?” tanya Mark seperti jam pasir yang tak bisa menunggu lebih lama lagi. Winter meremat pergelangan tangan Mark yang masih menahan rahang kecilnya. “Aku sudah bersumpah akan mencari keadilan untuk nyawa-nyawa yang lenyap tanpa jejak. ”Oke." Senyuman licik Mark terbitkan bersamaan dengan tangannya yang melepas cengkeraman. Membuat Winter terjatuh lemas sambil terbatuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. “Jadi, nikmati saja pilihanmu itu.” Mark kemudian berjalan ke arah dua orang yang baru keluar dari dalam mobil. Satu amplop tebal diberikan. Transaksi itu tidak luput dari perhatian Winter. Sampai dua kata akhirnya keluar dari mulut Mark. “Bawa dia.” Mata Winter melebar ketika memahami maksudnya. Mark menyerahkan dia pada musuh supaya dia bungkam. “Mark, kau menjualku pada mereka? Berengsek kau, Mark!” Winter mencoba menerobos untuk kabur, tapi sebuah tangan besar lebih dulu mencengkeram bahunya. “Lepaskan!” Sedikit ilmu beladiri sempat membuat Winter terlepas. Sayangnya, dua orang tinggi besar itu bisa dengan mudah menangkapnya dan membekap hidungnya dengan cairan kimia yang menyengat. Pandangan Winter mulai mengabur, lampu jalanan yang remang-remang berputar, dan hal terakhir yang dia lihat adalah Mark yang masuk ke dalam mobil tanpa sekalipun menoleh ke belakang. “Aku mencintaimu, Winter. Dalam keadaan apapun, aku akan selalu melindungimu. Meski nyawa aku taruhannya.” Ucapan Mark di masa lalu seperti menguap begitu saja, bersamaan dengan hilangnya kesadaran sang detektif muda. *** Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang Winter rasakan bukan lagi aspal dingin, melainkan karpet bulu yang tebal dan aroma tembakau yang mahal. Dia coba menggerakkan tangannya, tapi tubuhnya terasa lemas luar biasa. “Mark ....” Mulutnya memanggil lirih. Berharap apa yang dia alami tadi hanyalah mimpi. Sayangnya ketika dia coba membuka matanya yang masih berat itu, Winter mulai merasa kalau apa yang Mark lakukan adalah kenyataan. Dia ditukar dengan tumpukan dolar dan kenaikan jabatan oleh calon suaminya sendiri. Winter mulai mengangkat pandangan, melihat kamar yang nampak asing di indra penglihatannya. Dinding bercat gelap dengan lukisan abstrak bernuansa maskulin. Aroma tembakau mahal dan parfum lelaki juga bisa dia hidu. “Akh ....” Sekali lagi dia mengeluh sakit pada kepalanya. Apakah dia akan mati di sini? Winter coba membetulkan posisinya yang duduk di atas lantai dan bersandar di ujung ranjang. Ketika itu, dia baru sadar sesuatu. “Aku diborgol?” Winter mencoba menarik tangannya, sialnya dia benar-benar diborgol ke pinggiran ranjang. “Sudah bangun, Detektif Winter yang pemberani?” Suara bariton itu membuat Winter mendongak cepat. Di sebuah sofa kulit, seorang pria duduk dengan kaki menyilang. Cahaya lampu gantung kristal di atas mereka membuat siluet pria itu tampak sangat dominan. “Denzel?” tebak Winter lirih melihat siapa yang ada di sana. Lelaki yang rambutnya tersisir rapi itu tersenyum miring. Wajahnya nyaris tidak berubah sejak terakhir kali Winter melihatnya sedang tidur bersama sahabatnya. Terlalu tampan untuk seorang mantan yang brengsek. “Hai,” ucap Denzel santai. “Kau senang bertemu denganku lagi?” Tunggu, Winter mengernyit bingung. Kenapa dia diculik mantan kekasihnya? Apa lelaki ini ada hubungannya dengan mafia-mafia busuk itu? “Diam? Sedang mengagumiku?” Percuma bicara dengan lelaki ini. Tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Bisa-bisa Winter terserang hipertensi kalau terlalu lama berurusan dengannya. Saat begitu terdengar suara pintu yang terbuka bersama dengan langkah sepatu yang mendekat. Ketika berhenti di samping ranjang, Winter menoleh. Rupanya seorang pria dengan wajah sedikit mirip dengan Denzel. Hanya saja, sorot matanya berbeda. Lebih tenang dan manusiawi. Tidak menjijikkan seperti Denzel. “Dia adikku.” Denzel seperti menjawab apa yang ada di pikiran Winter. “Bagaimana? Mau coba main berdua di kamar ini dengan kami?”Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man
“B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita
Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung
“Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto
Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga
“Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p







