بيت / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 60 Menghadapi Komplain VVIP

مشاركة

Bab 60 Menghadapi Komplain VVIP

مؤلف: Irbapiko
last update تاريخ النشر: 2026-05-03 08:05:41

Mirah mematung di depan Ratna yang memegang pisau dapur. Suara denting gelas kristal pecah tiba-tiba meledak dari Kamar Teratai. Makian kasar memenuhi lorong dan memutus ketegangan di antara mereka.

Ratna menurunkan pisaunya sambil menyeringai tajam. "Tamu VVIP lo ngamuk di sana," provokasi Ratna. "Cepat urus atau gue telepon Agam sekarang!".

Mirah berlari kecil menuju kamar nomor satu dengan napas tercekat. Tangannya gemetar saat mendorong pintu jati yang berat. Ia melihat Pak

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 61 Pesta Pembukaan Taman Suci

    Laras pistol dingin itu mendadak menjauh dari pelipis Mirah. Agam tertawa hambar sambil menyimpan senjatanya ke balik jas hitam. "Hanya tes nyali, Mir," ucapnya datar.Mirah mematung dengan napas yang memburu hebat di tenggorokan. Keringat dingin membasahi tengkuknya yang terasa kaku dan membeku. Ia tahu Lilis masih meringkuk di balik pintu besi bawah tanah."Malam ini Taman Suci resmi dibuka," perintah Agam dengan tegas. Ia membetulkan kerah kebaya Mirah yang nampak miring dan berantakan. "Jangan pasang muka mayat seperti itu," tambahnya dingin.Agam melangkah pergi meninggalkan aroma cerutu yang sangat pekat. Mirah memejamkan mata berusaha menekan gemetar di ujung jemarinya. Ia harus segera melangkah menuju lobi utama yang mulai ramai.Suara dentuman musik mulai menggetarkan dinding ruko yang tebal. Wallpaper beludru merah marun seolah ikut bernapas mengikuti irama bas. Lobi kini berubah menjadi pasar malam bagi para pengusaha lapar.Karpet merah

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 60 Menghadapi Komplain VVIP

    Mirah mematung di depan Ratna yang memegang pisau dapur. Suara denting gelas kristal pecah tiba-tiba meledak dari Kamar Teratai. Makian kasar memenuhi lorong dan memutus ketegangan di antara mereka.Ratna menurunkan pisaunya sambil menyeringai tajam. "Tamu VVIP lo ngamuk di sana," provokasi Ratna. "Cepat urus atau gue telepon Agam sekarang!".Mirah berlari kecil menuju kamar nomor satu dengan napas tercekat. Tangannya gemetar saat mendorong pintu jati yang berat. Ia melihat Pak Suroto berdiri dengan wajah merah padam.Lilis meringkuk ketakutan di pojok ranjang yang berantakan. Seragam satin merah marunnya sudah robek dan compang-camping. Bau alkohol dan cerutu memenuhi ruangan yang pengap itu."Terapis macam apa ini?!" teriak Pak Suroto dengan suara parau. Ia menunjuk Lilis dengan jari gemuknya yang memakai batu akik. "Baru disentuh sedikit saja sudah menangis histeris!".Mirah segera melangkah maju menghalangi pandangan lapar pria itu. Ia memaksak

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 59 Rahasia Minyak Zaitun dan Gairah

    Mirah berdiri mematung di koridor lobi Taman Suci. Deru mesin air meredam gemuruh di dadanya. Peringatan Elang tentang bahaya bawah tanah terasa menusuk.Ia menghapus sisa keringat dingin di pelipisnya. Langkahnya gontai memasuki ruang VIP utama. Aroma cendana mulai bercampur dengan uap panas."Minyak zaitun ini harganya lebih mahal dari hidupmu," hardik Ratna. Ia membanting botol kaca hijau ke meja marmer. Ratna menatap Mirah dengan pandangan penuh kebencian."Jangan tumpah setetes pun atau kau menyesal," ancam Ratna lagi. Tangannya gemetar menyulut rokok mentol dengan kasar. Mirah hanya diam mengambil botol dingin itu.Telapak tangan Mirah masih terasa basah dan dingin. Minyak ini bening namun kental seperti dosa. "Aku melakukan ini semua demi Bapak," bisiknya.Lilis sudah berbaring tertelungkup di atas ranjang. Kulit punggungnya nampak sangat pucat dan rapuh. Lampu temaram menyinari ruangan yang sunyi itu."Perhatikan ritme jemari saya se

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 58 Blowjob dalam Keheningan

    Nani berdiri tegak di depan deretan terapis baru. Wajahnya mengeras seperti batu karang yang dihantam ombak. Ia menatap satu per satu mata gadis yang gemetar ketakutan."Dengarkan baik-baik instruksi saya sekarang!" bentak Nani keras. "Jangan ada yang berani memejamkan mata sedikit pun!". "Api di perut kalian akan membakar jika tidak dijinakkan!".Nani membanting dildo silikon hitam ke atas meja rias. Meja yang sudah retak itu mengeluarkan suara berdentum nyaring. Para gadis itu tersentak kaget melihat benda tersebut."Lupakan semua teknik tangan yang membuat jemari pegal!" seru Nani. "Malam ini, lidah adalah satu-satunya mesin pencetak uang!". "Kalian harus menjadi pemangsa yang sangat tangguh!".Nani menarik paksa Siska agar segera mendekat padanya. Gadis muda itu terpaksa berlutut di antara kaki Nani. Siska meremas kain satin merahnya hingga jahitan merintih."Kenapa tanganmu gemetar seperti memegang bara api, Siska?" tanya Nani. "Aku tidak ingi

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 57 Sentuhan Jemari yang Menghancurkan

    Keringat dingin membasahi dahi Mirah yang gemetar. Ia mengatur napas pendek agar terlihat tenang. Para junior sudah menunggunya di ruang latihan.Bau karat masih menempel kuat di kebayanya. Aroma cendana di ruangan itu terasa menyesakkan. Mirah mendorong pintu ruang latihan dengan kasar."Jangan ada yang duduk di matras! Waktu kita untuk latihan hampir habis!" hardik Mirah dengan suara serak.Lilis berjengit mendengar suara keras dari Mirah. Matanya sembap karena pengaruh pil pemacu gairah. Pupil matanya terlihat sangat lebar dan kosong.Mirah menatap mereka dengan perasaan yang sangat gelap. Ia merasa harus merusak mereka sekarang juga. Itu lebih baik sebelum Agam meremukkan mereka."Perhatikan botol pelumas berbahan dasar air ini!" perintah Mirah sambil mengambil botol dari lemari. Ia menuangkan cairan bening itu ke tangannya.Cairan itu terasa sangat dingin di kulit. Perut Mirah melilit kencang karena rasa mual. Ia mulai memberikan instru

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 56 Filosofi Pijat : Ketenangan Di Atas Ranjang

    Perjalanan misterius bersama pria bersetelan jas itu meninggalkan tanya yang besar di dalam benak Mirah. Namun, ketika ia kembali ke Taman Suci, kenyataan sebagai seorang pengajar sekaligus tawanan Agam kembali menyambutnya dengan dingin. Ia harus segera mengubur memori malam itu dan kembali mendoktrin Lilis serta para junior lainnya tentang satu-satunya senjata yang mereka miliki: ketenangan.Mirah mengusap memar biru di pipinya. Ia memoles riasan tebal untuk menutupi luka itu. Gema tamparan Agam semalam masih terasa sangat panas."Berdiri tegak!" perintah Mirah kepada Lilis. Gadis-gadis baru itu gemetar menahan takut. Aroma cendana dan pembersih lantai terasa sangat menyesakkan."Jangan pernah tunjukkan rasa takut kalian," bisik Mirah. Ia harus menjadi wanita tanpa hati demi keselamatan mereka. Internal monolognya berdenyut dalam kegelapan yang pekat.Mirah menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya. Cairan kental itu mengalir licin di sela jemari. I

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status