Home / Romansa / DIPTA / BAB 26 Penjelasan dan Ciuman Pertama

Share

BAB 26 Penjelasan dan Ciuman Pertama

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-17 18:28:05

Sore itu kelas sudah lebih sepi. Aira duduk di bangku paling belakang. Buku terbuka, tapi matanya nggak benar-benar baca, pensilnya muter pelan di antara jari. Ia tidak marah, hanya sedang berpikir. Tadi waktu ke kantin, dia sempat lihat Rania turun dari arah tangga belakang. Wajahnya biasa aja, terlalu biasa dan Dipta muncul beberapa menit kemudian dari arah yang sama. Kebetulan? Mungkin, tapi Aira bukan tipe yang langsung nanya tanpa bukti. Dia cuma tidak suka rasa “menggantung”. Langkah sepa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 119 Semua Jejak yang Terbuka

    Malam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding

  • DIPTA   BAB 118 Jejak dan Nama di Balik Akses

    Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw

  • DIPTA   BAB 117 Kursi di Meja yang Sama

    Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men

  • DIPTA   BAB 116 Yang Tersembunyi di Balik Arus

    Sore menjelang, ruang kerja di Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Di dalam ruangannya, Aira tidak benar-benar santai. Laptopnya terbuka, dokumen Andalas Energi masih di layar. Tatapannya fokus. “Rapi, tapi dipaksakan…” Ia bergumam pelan. Jarinya berhenti, lalu ia meraih ponselnya. Menatap nama itu beberapa detik, Arjito Rajendra. Aira menghela napas. “Ya sudah.” Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik menunggu sampai akhirnya diangkat. “Ya.” Suara di seberang tenang seperti biasa. Aira tersenyum kecil. “Lagi sibuk?” “Untuk kamu, nggak.” jawab Arjito singkat. Aira terdiam sejenak. “Aku mau tanya sesuatu.” Henig sejenak, “Kerjaan atau pribadi?” Aira menatap layar laptopnya. “Kerjaan.” “Bagus.” Nada suara Arjito berubah sedikit. “Lanjut.” Aira langsung to the point. “Kalau ada perusahaan… yang revisinya terlalu cepat dan terlalu ‘bersih’… biasanya mereka nutup apa?” Sunyi, tidak langsung dijawab. Ada jeda beberapa detik. “Kamu lagi lihat siapa?” tanyanya la

  • DIPTA   BAB 115 Tekanan dan Rencana

    Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak

  • DIPTA   BAB 114 Arah yang Sama

    Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di

  • DIPTA   BAB 100 Bekal

    Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum berger

  • DIPTA   BAB 99 Setelah Lepas Kendali

    Pintu rumah kembali terbuka pelan, kali ini bukan Aira. Langkah yang keluar lebih tenang dan lebih berat, Arjito Rajendra. Ia menutup pintu tanpa suara, matanya langsung tertuju ke depan. Di sana masih sama, Dipta berdiri diam bersandar di mobil. Lampu jalan jatuh tepat di atasnya dan dari situ se

  • DIPTA   BAB 97 Amarah Dipta

    Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di j

  • DIPTA   BAB 96 Beli Papa

    Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status