LOGINMalam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding
Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw
Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men
Sore menjelang, ruang kerja di Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Di dalam ruangannya, Aira tidak benar-benar santai. Laptopnya terbuka, dokumen Andalas Energi masih di layar. Tatapannya fokus. “Rapi, tapi dipaksakan…” Ia bergumam pelan. Jarinya berhenti, lalu ia meraih ponselnya. Menatap nama itu beberapa detik, Arjito Rajendra. Aira menghela napas. “Ya sudah.” Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik menunggu sampai akhirnya diangkat. “Ya.” Suara di seberang tenang seperti biasa. Aira tersenyum kecil. “Lagi sibuk?” “Untuk kamu, nggak.” jawab Arjito singkat. Aira terdiam sejenak. “Aku mau tanya sesuatu.” Henig sejenak, “Kerjaan atau pribadi?” Aira menatap layar laptopnya. “Kerjaan.” “Bagus.” Nada suara Arjito berubah sedikit. “Lanjut.” Aira langsung to the point. “Kalau ada perusahaan… yang revisinya terlalu cepat dan terlalu ‘bersih’… biasanya mereka nutup apa?” Sunyi, tidak langsung dijawab. Ada jeda beberapa detik. “Kamu lagi lihat siapa?” tanyanya la
Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak
Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di
Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum berger
Pintu rumah kembali terbuka pelan, kali ini bukan Aira. Langkah yang keluar lebih tenang dan lebih berat, Arjito Rajendra. Ia menutup pintu tanpa suara, matanya langsung tertuju ke depan. Di sana masih sama, Dipta berdiri diam bersandar di mobil. Lampu jalan jatuh tepat di atasnya dan dari situ se
Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di j
Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke







