“Eh, Bu! Tunggu, Bu Lilis!” Jaka sedikit mendorong bahu Bu Lilis, berusaha melepaskan diri dari lumatan bibir yang tiba-tiba menyerang itu. Napas Jaka memburu, bukan karena gairah kali ini, melainkan karena syok. Gairah Jaka memang sedang memuncak gara-gara cumbuannya bersama Arum sempat tertunda tadi. Tapi saat ini—gara-gara melihat sosok pocong itu, Jaka ingin fokus terhadap masalah ini dulu.Bu Lilis melepaskan tautan bibirnya, matanya menatap Jaka dengan tatapan yang sayu dan sarat akan kebutuhan. Daster batik yang dikenakannya sudah sedikit melorot, memperlihatkan kulit bahunya yang masih terawat meski usianya sudah matang. “Jaka, rumah ini sepi banget. Saya beneran takut... Saya cuma butuh teman malam ini,” bisiknya menggoda, tangannya kembali merayap ke dada bidang Jaka.Jaka menelan ludah. “Iya, Bu. Saya tahu, tapi jangan sekarang. Kita fokus dulu sama pocong ini,” balas Jaka lagi.Bu Lilis menunduk. “Iya… tapi saya juga kangen sama pocong dalam celana kamu, Jaka,” rengeknya.
اقرأ المزيد