Ruang kantor itu terasa tenang. Dindingnya dipenuhi rak buku hukum, rapi dan teratur. Aroma kopi samar tercium di udara. Nayla duduk di kursi tamu, tangannya menggenggam tas di pangkuan. Di depannya, seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan sedang membaca berkas. “Jadi ini semua kronologinya?” tanya wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen. “Iya, Bu,” jawab Nayla pelan tapi jelas. Wanita itu mengangguk kecil. Ia menutup map dan menatap Nayla langsung. “Saya Siska. Teman lama Rianti, mamanya Naufal.” Tatapan Nayla sedikit berubah. Ia melirik sekilas ke samping. Naufal duduk santai di kursi sebelah, kakinya disilangkan, seperti tidak ada beban. “Tolong bantu dia, Tante,” ucap Naufal singkat. Siska menghela napas pelan. “Kalau cuma bantu, tentu. Tapi saya butuh kejujuran penuh dari kamu,” katanya tegas ke Nayla. “Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.” “Baik, Bu." Nayla mengangguk. “Lagipula saya tidak punya apa-apa lagi yang mau disembunyikan, Bu.”
Read more