LOGINDimas masih terdiam setelah mendengar ucapan Shella.Pria itu tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Biasanya, ia tidak pernah kesulitan berbicara dengan siapa pun. Namun, entah kenapa, setiap kali berhadapan dengan Shella, semua kata yang ada di kepalanya terasa menghilang begitu saja.Shella memperhatikan wajah Dimas yang terlihat canggung.“Kamu benar-benar aneh hari ini, Dok," katanya sambil tersenyum kecil.Dimas menghela napas. “Aku tidak aneh.”“Terus kenapa dari tadi seperti orang bingung?”“Aku cuma belum terbiasa.”“Belum terbiasa apa?” desak Shella semakin ingin tau.Dimas terdiam lagi. Ia menatap Shella beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.“Aku belum terbiasa melihat kamu seperti ini.”"Hah?" Shella sedikit terkejut. “Seperti ini bagaimana?”“Di rumah sakit. Terluka. Tidak bisa banyak bergerak.” Dimas menjawab dengan suara pelan. “Biasanya kamu selalu terlihat baik-baik saja. Bahkan menemani aku kontrol ke ortopedi juga." "Oh itu." Shella terse
“Ya Tuhan! Apa yang terjadi dengan bayi kita?”Naufal benar-benar panik. Ia segera merangkul tubuh Nayla yang mulai terlihat lemas, sementara tangannya yang lain masih menggenggam tangan sang istri dengan erat."Akh! Sakit, Sayang." Nayla sesekali terpejam dan meringis kecil.“Nayla sayang, coba tenang dulu. Jangan takut. Kita periksa sekarang,” ujar Naufal dengan suara tegas, meskipun wajahnya sendiri terlihat sangat cemas.Nayla hanya mengangguk pelan. Rasa sakit di perutnya masih terasa, membuatnya kesulitan untuk berbicara."Fal, kenapa sama Nayla?" Dimas turut merasa cemas."Aku juga nggak tau, Dim. Semoga dia baik-baik saja." Tanpa membuang waktu, Naufal segera menggendong sang istri dan membawanya keluar dari ruangan Shella. Beberapa dokter dan perawat yang melihat kepanikan di wajah Naufal segera menghampiri mereka.“Tolong siapkan satu ruangan untuk pemeriksaan kehamilan. Saya membutuhkan alat USG dan perlengkapan pemeriksaan lainnya,” perintah Naufal.Para dokter dan perawa
“Bagaimana pun juga, aku harus tetap ikut untuk melihat keadaan Shella," gumam Dimas panik.Pria itu tetap bersikeras mengikuti mereka semua menuju ke ruangan Shella. Meskipun Naufal sudah beberapa kali memintanya kembali berbaring, tetapi kakaknya itu tidak mau mendengarkan. Ia terus berjalan dengan bantuan tiang infus, menahan rasa sakit yang menjalar dari kakinya yang lumpuh.“Dimas, jangan dipaksakan. Kaki kamu itu belum pulih,” ujar Naufal dengan nada memperingatkan.“Aku tahu,” jawab Dimas pelan. “Tapi aku harus melihat Shella.”“Kak Dimas, setidaknya pelan-pelan,” tambah Nayla yang berjalan di sampingnya.Dimas hanya mengangguk. Wajahnya beberapa kali menahan rasa sakit, tetapi ia tetap melangkah. Setiap kali kakinya terasa semakin berat, ia berhenti sebentar untuk mengatur napas sebelum kembali berjalan. Baginya, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa takut kehilangan Shella.Sarah dan Yuli sudah lebih dulu berada di depan ruangan. Keduanya menunggu dengan waj
Nayla dan Naufal panik melihat tubuh Dimas yang sudah terkulai lemas. Naufal segera memeriksa kondisi kakaknya, sementara beberapa perawat datang membantu. Setelah memastikan Dimas masih sadar meskipun sangat lemah, mereka membawanya kembali ke ruangan tempat Dimas dirawat.“Pak Dimas ini bagaimana sih? Sudah dibilang harus banyak istirahat, malah masih saja memaksakan diri,” tegur salah satu dokter yang memeriksa kondisi Dimas.Dimas hanya diam sambil berbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat kesal karena kembali dipaksa masuk ke ruang perawatan.Naufal yang berdiri di samping ranjang justru tertawa kecil. “Sudah, Dok. Jangan terlalu dipikirkan. Kakakku memang keras kepala dari dulu.”Dimas melirik Naufal dengan wajah cemberut. “Kamu malah meledekku?”“Memangnya salah?” Naufal menahan senyum. “Sudah jelas kondisi tubuh dan kakimu belum pulih, tapi masih saja memaksakan diri keluar kamar. Kalau tadi aku nggak ada, mungkin sekarang kamu sudah terkapar di lantai.”“Aku cuma ingin mem
Naufal dan Nayla masih terpaku menatap Shella dari balik kaca. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang selama ini mereka kenal ternyata berada di rumah sakit yang sama dengan Dimas, bahkan dalam kondisi kritis seperti itu.“Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?” tanya Nayla pelan. “Kenapa Kak Dimas dan Shella bisa sampai mengalami kecelakaan seperti ini?”Dimas menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam sebelum akhirnya menarik napas panjang. “Aku diculik.”Naufal dan Nayla seketika menatap Dimas.“Diculik?” ulang Naufal tidak percaya.Dimas mengangguk. “Orang yang menculikku adalah Raka.”Mendengar nama itu, ekspresi Naufal berubah. “Raka?”“Kau mengenalnya?” tanya Nayla.“Aku tahu siapa dia,” jawab Naufal. “Dia rival lama Dimas di dunia kedokteran. Dulu mereka sering bersaing dalam berbagai hal. Tapi aku tidak pernah menyangka dia akan melakukan hal seperti ini.”Dimas menghela napas berat. “Aku juga tidak menyangka. Awalnya dia hanya menghampiriku dan m
Naufal dan Nayla akhirnya menemukan ruangan tempat Dimas dirawat. Keduanya segera masuk, berharap bisa melihat keadaan Dimas setelah kecelakaan yang menimpanya. Namun, begitu pintu terbuka, mereka justru mendapati ranjang kosong.“Kak Dimas kok nggak ada?” Nayla menatap sekeliling dengan wajah cemas.Naufal ikut memeriksa ruangan. Tidak ada Dimas, bahkan barang-barang miliknya pun masih berada di sana. Hal itu membuat kegelisahan yang sejak tadi mereka tahan semakin besar.“Ke mana Kak Dimas?” Nayla bertanya panik. “Bukankah katanya dia dirawat di sini?”Sebelum Naufal sempat menjawab, seorang perawat yang kebetulan lewat melihat mereka berdiri di dalam ruangan.“Suster, permisi," cegah Naufal, membuat langkah perawat itu terhenti tepat di depan mereka.“Iya." “Apakah suster tau dimana pasien bernama Dimas Mahendra? Kami dapat info kalau dia dirawat di sini." “Oh, apakah kalian keluarga pasien atas nama Dimas?” suster itu bertanya balik.“Iya. Saya adiknya, dan ini istri saya. Sekar
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk







