Karena Nayla tak kunjung menyusul, Naufal yang sudah berjalan beberapa langkah di depan pun menoleh sekilas.“Kenapa?” tanyanya datar.Nayla masih berdiri di tempat. Matanya menyapu pemandangan di sekeliling danau itu. Lampu-lampu kecil tergantung rapi di pinggir restoran, memantul di permukaan air yang tenang. Angin sore berembus pelan, membawa aroma makanan dan udara yang segar.“Tempat ini …,” gumam Nayla pelan. Alisnya sedikit berkerut, seolah sedang mengingat sesuatu.Naufal memperhatikannya beberapa detik, lalu berbalik sepenuhnya.“Kamu pernah ke sini?” tanyanya singkat.Nayla tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku ke arah danau.“Iya." Tentu saja dia pernah kesana. Itu adalah danau terbesar di Jakarta, danau yang ia janjikan akan ia datangi bersama teman masa kecilnya, Nana si Rose Boy.Naufal terdiam mendengar itu. Sorot matanya berubah tipis. Ada sesuatu yang melintas, cepat sekali, lalu hilang begitu saja.“Ya sudah, masuk,” ucapnya kemudian, kembali dengan nada
Read more