LOGINAurelia tidak tinggal diam. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju mansion. Dia tidak menghubungi Caleb sama sekali. Peduli setan jika citranya makin buruk di hadapan keluarga Hamilton. Toh, sampai kapan pun ia yakin, ia tetap dianggap parasit oleh keluarga itu.Ia masih ingat betul waktu dia masih kecil, wanita tua itu selalu menyebutnya pencuri makanan, hanya karena Caleb selalu memberikan cemilan-cemilan mahal pada mereka.Aurelia turun dari mobil, melangkah lebar menuju pintu utama. Maya di sana. Ya, seperti kuman yang selalu menempel di tetua Hamilton."Wah, lihat siapa yang datang." Maya melayangkan tatapan sinis padanya. Aurelia mengabaikannya, dan berjalan begitu saja melewatinya."Kau mau kemana?!" Maya menarik tangannya dengan kasar. Aurelia menghempaskan tangannya."Kau tidak boleh masuk ke sini!" Maya menghadang jalan masuk."Kau pemilik rumah ini?" pertanyaan Aurelia membuatnya terdiam. Aurelia tersenyum sinis. "Jika bukan kau pemiliknya, jadi menyingkirlah!" dia men
"Maafkan aku," Caleb membantu Aurelia merebahkan diri di ranjang. "Aku memang berlebihan."Aurelia tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi Caleb. Caleb membawa tangan Aurelia ke bibirnya, mengecup dengan lembut."Ke depannya, aku akan lebih mengendalikan diri."Aurelia tergelak, entah percaya atau tidak dengan ucapan suami posesifnya itu. Yang jelas, ini bukan kali pertamanya Caleb mengatakan hal serupa."Aku bersungguh-sungguh kali ini," tegas Caleb dengan mimik yang terlihat sangat meyakinkan. Aurelia langsung tertawa. "Ya, aku percaya." Membawa Caleb ke dalam pelukannya.Wajah tegang Caleb langsung melunak. "Istirahatlah, aku akan mengurus putra kita.""Terima kasih," Aurelia melemparkan senyum lebar yang tulus.Caleb mengecup kening Aurelia sebelum pergi keluar kamar.***"Aurelia..." Suara Jake membuat Aurelia menoleh ke ambang pintu.Melihat wajah Jake yang tegang, dia langsung berdiri. Nathaneil yang sedang berdiskusi juga ikut berdiri."Ada apa?" Aurelia mende
"Maafkan aku," Caleb membantu Aurelia merebahkan diri di ranjang. "Aku memang berlebihan."Aurelia tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangan, mengusap pipi Caleb. Caleb membawa tangan Aurelia ke bibirnya, mengecup dengan lembut."Ke depannya, aku akan lebih mengendalikan diri."Aurelia tergelak, entah percaya atau tidak dengan ucapan suami posesifnya itu. Yang jelas, ini bukan kali pertamanya Caleb mengatakan hal serupa."Aku bersungguh-sungguh kali ini," tegas Caleb dengan mimik yang terlihat sangat meyakinkan. Aurelia langsung tertawa. "Ya, aku percaya." Membawa Caleb ke dalam pelukannya.Wajah tegang Caleb langsung melunak. "Istirahatlah, aku akan mengurus putra kita.""Terima kasih," Aurelia melemparkan senyum lebar yang tulus.Caleb mengecup kening Aurelia sebelum pergi keluar kamar.***"Aurelia..." Suara Jake membuat Aurelia menoleh ke ambang pintu.Melihat wajah Jake yang tegang, dia langsung berdiri. Nathaneil yang sedang berdiskusi juga ikut berdiri."Ada apa?" Aurelia mende
Debu semen dan aroma cat kayu yang menyengat memenuhi area lantai satu studio foto lama Aurelia. Aurelia membungkuk di atas meja kayu panjang, mengamati lembaran cetak biru yang terbentang. Di sampingnya, Nathaneil memegang penggaris skala, mengetukkan ujung pensilnya pada area atrium utama."Jika dinding bagian tengah ini kita ganti dengan kaca tempered, pencahayaan alami untuk instalasi fotomu akan jauh lebih maksimal," ujar Nathaneil, suaranya tenang dan penuh konsentrasi.Aurelia langsung menoleh dengan wajah berseri penuh antusias. "Konsep yang luar biasa, Nath. Itu persis seperti yang kubayangkan saat pertama kali ingin mengekspansi studio ini."Nathaneil tersenyum tipis, ada kesenangan samar yang terlihat di wajahnya. Dia sudah lama mengenal wanita itu, banyak hal yang ia tahu tentang kesukaan Aurelia. "Karyamu selalu punya jiwa, Aurelia. Aku cuma membantu memberi wadah yang pantas agar orang-orang bisa melihatnya tanpa distorsi."Aurelia tertawa lepas. "Kau terlalu berl
"Dari mana saja kau malam-malam begini, Caleb?"Aurelia berdiri di ambang pintu begitu mendengar mobil suaminya.Caleb menghentikan langkahnya tepat di hadapannya. Ia menyunggingkan senyum tipis, meredam kilat amarah yang baru saja ia tumpahkan di ruang kerja Nenek Moren."Hanya ada sedikit urusan bisnis yang harus kubereskan," jawab Caleb rendah.Pria itu mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa memberi ruang bagi Aurelia untuk bertanya lebih jauh, Caleb melingkarkan lengan kokohnya di pinggang sang istri. Ia menuntun Aurelia berjalan menuju sofa utama, mendudukkan wanita itu di sisinya tanpa melepaskan dekapan hangatnya.Layar laptop di atas meja kaca di hadapan mereka masih menyala terang. Beberapa berkas sketsa dan draf tata ruang studio foto lama terhampar berantakan di samping gawai tersebut.Caleb menunduk, mendaratkan dagunya di bahu mulus Aurelia. "Apa yang sedang kau kerjakan sampai belum tidur jam segini?""Aku baru saja meninjau ulang draf dari Nathaneil,"
Langkah kaki Caleb menggema berat di sepanjang koridor bernuansa klasik. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu jati ruang kerja pribadi Nenek Moren.Di dalam ruangan, Nenek Moren sedang duduk di balik meja kerja mewahnya. Di sampingnya, Maya duduk sambil berbincang serius. Kedua wanita itu tersentak saat melihat Caleb berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin dan rahang yang tertaut rapat."Caleb?" sapa Nenek Moren, menyembunyikan keterkejutannya dengan tegakan tubuh yang makin anggun. "Ada angin apa kau datang malam-malam begini tanpa memberitahu Nenek?"Maya mencoba menyunggingkan senyum manisnya. "Caleb, kami baru saja membahas draf investasi—""Keluar, Maya," pangkas Caleb. Suaranya rendah, sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri."Tapi Caleb, kami sedang—""Aku bilang keluar!" bentak Caleb, gema suaranya menggelegar menekan seluruh isi ruangan.Wajah Maya seketika pucat pasi. Tanpa berani membantah lagi, ia buru-buru merapikan berkasnya dan mela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka







