Share

143| Dua Puluh Menit

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-05-05 21:04:24

Suasana di dalam mobil itu jauh dari kata tenang.

Aruna memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan, kepalanya menoleh ke jendela, memandang pepohonan yang berlalu kabur di luar sana, tapi matanya tak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya terlalu sibuk dengan apa yang baru saja terjadi di lounge tadi.

Kakinya yang menjalar, tangan Atlas yang menghimpitnya, dan tatapan itu, tatapan itu, yang berkata jelas seolah diucapkan: kamu akan membayar ini nanti.

Sementara Atlas, dengan urat-urat tangannya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   184| Downfall Era

    Butuh waktu cukup lama sampai Aruna benar-benar tenang. Semua tirai rumah ditutup rapat, suara kerumunan di luar memang masih terdengar sesekali, tetapi setidaknya ia tidak perlu melihat mereka secara langsung. Kini Aruna duduk meringkuk di sofa ruang tamu, di tangannya terdapat secangkir cokelat hangat yang dibuatkan Amanda, sementara ponselnya masih menempel di telinga."Iya, Tante Amanda di sini," ucap Aruna pelan ke ponselnya.Suara Atlas terdengar dari seberang, nada bicaranya terdengar lelah tapi tetap berusaha tenang."Mas Atlas nggak usah khawatir," kata Aruna lagi, melirik Amanda yang sedang duduk di kursi sebelah. Wanita itu membalas dengan senyum kecil. "Iya. Hati-hati."Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Amanda lalu mendorong secangkir teh hangat ke depan dirinya sendiri sebelum kembali menatap Aruna."Jadi," katanya pelan, "kontrak itu bohong?"Pertanyaan tembakan itu membuat Aruna menunduk, dengan jemarinya yang sali

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   183| Pelukan Dalam Kegelapan

    Aruna tidak tidur malam itu. Sejak pesan anonim itu kembali masuk ke ponselnya, ia hanya meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar sudah lama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel yang sejak tadi tak pernah benar-benar ia lepaskan dari genggamannya. Matanya terus kembali pada kalimat yang sama.Membiarkan Atlas tenggelam di kapalnya sendiri. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores bagian paling sensitif dalam hatinya, karena jauh di dalam dirinya, di tempat yang paling enggan ia akui, Aruna tahu kenapa kalimat itu begitu menyakitkan. Karena sebagian dirinya takut itu benar.Sejak kontrak mereka bocor, semua hal buruk seolah datang bertubi-tubi. Nama Atlas diseret ke mana-mana, Heartline kehilangan kepercayaan publik, investor mulai mempertanyakan kredibilitas perusahaan, saham bergerak tidak stabil, dan media menyerang tanpa henti. Dan dirinya? Dirinya hanya menjadi pusat badai itu. Aruna memejamkan mata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   182| Limbo

    Malam sudah turun ketika Aruna akhirnya sampai di kediamannya. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena jadwal yang padat, tetapi juga karena semua hal yang terjadi hari ini seperti menghantamnya tanpa jeda.Van yang membawanya berhenti perlahan di depan rumah. Pintu otomatis bergeser terbuka dengan suara lirih, dan Aruna menghela napas panjang sebelum melangkah turun.Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobil, sorot lampu terang tiba-tiba menyapu halaman rumahnya dari arah belakang. Aruna refleks memutar tubuh, dan sebuah Lamborghini hitam berhenti tepat beberapa meter di belakang van miliknya. Jantungnya berdegup.Pintu mobil sport itu terbuka, dan Atlas turun dari sana. Dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya, wajah tegang, serta langkah cepat yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bereaksi."Mas Atlas?"Belum sempat Aruna mengucapkan apa pun lagi, Atlas sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukan, e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   181| Rumah yang Runtuh

    Seseorang telah mengubah isi kontrak mereka, dan fakta itu membuat keadaan yang semula buruk berubah menjadi jauh lebih rumit.Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, internet seperti kehilangan akal sehatnya. Portal berita, akun gosip, kanal ekonomi, hingga forum-forum diskusi mulai membahas hal yang sama. Nama Atlas Wicaksono dan Aruna muncul di mana-mana. Potongan kontrak yang telah dimanipulasi itu tersebar luas tanpa ada yang benar-benar tahu mana bagian asli dan mana yang telah diubah.Yang mereka tahu hanya satu. Hubungan Atlas dan Aruna berawal dari sebuah kontrak. Dan itu sudah cukup untuk membuat publik menghakimi.Aruna yang selama ini dikenal sebagai pembawa acara podcast Ruang Rasa, perempuan yang memberi nasihat tentang hubungan, cinta, komunikasi, dan komitmen, kini justru menjadi sasaran utama. Pakar cinta gadungan. Pembohong. Social climber. Perempuan yang memanfaatkan Atlas demi popularitas. Semua label itu dilemparkan tanpa ampun.Satu per satu brand mulai men

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   180| Guilty as Sin

    [EXCLUSIVE: KONTRAK PERJANJIAN HUBUNGAN ATLAS WICAKSONO & ARUNA BOCOR]Hubungan yang selama ini dianggap sebagai kisah cinta paling sempurna di kalangan publik mendadak menjadi sorotan setelah sebuah dokumen yang diduga merupakan kontrak hubungan antara Atlas Wicaksono dan Aruna tersebar luas di internet. Dokumen tersebut memperlihatkan sejumlah pasal yang mengatur hubungan keduanya secara rinci, mulai dari kewajiban tampil bersama di depan publik hingga kesepakatan finansial yang diduga diberikan Atlas kepada Aruna. Kebocoran ini langsung memicu pertanyaan besar dari masyarakat. Benarkah hubungan yang selama ini dipertontonkan hanyalah sebuah kontrak? Apakah semua kemesraan yang ditampilkan selama ini hanya bagian dari kesepakatan bisnis?Tak hanya itu, kredibilitas Aruna sebagai pakar cinta dan pembawa acara Ruang Rasa ikut dipertanyakan. Banyak pihak menilai seseorang yang membangun citra hubungan ideal namun ternyata menjalani hubungan kontrak dianggap tidak layak memberikan na

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   179| Malam Petaka

    Meskipun kejadian di rumah Camelia sempat meninggalkan bekas di pipinya, satu kalimat dari Atlas berhasil menutupi semuanya."I love her."Kalimat itu terus terngiang di kepala Aruna sejak semalam. Bahkan ketika pagi berganti siang, lalu siang berubah menjadi malam dan ia harus menghadiri acara peluncuran fitur terbaru Heartline sebagai salah satu pembicara utama, senyum itu masih bertahan di bibirnya.Hari ini Aruna mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan punggung terbuka yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rambut panjangnya ditata rapi dalam sanggul rendah modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Berlian yang melingkar di jemarinya memantulkan cahaya lampu ballroom setiap kali ia bergerak.Ballroom khusus yang disewa Heartline malam itu berada di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima. Megah, eksklusif, dan dipenuhi tamu-tamu yang bahkan sebagian besar tidak pernah muncul di media. Para pengusaha, investor, petinggi perusahaan tekno

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   107| Menyengat Seperti Lebah

    Sepanjang pembahasan kontrak kerja sama itu berlangsung, semangat Aruna perlahan memudar. Di awal ia masih mampu tersenyum, menanggapi dengan profesional, bahkan sesekali menyela dengan pertanyaan yang tepat. Namun semakin lama waktu berjalan, kehadiran Agasa di hadapannya seperti bayangan yang ta

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   106| Pretty Bad

    Pagi itu datang dengan cara yang terlalu menyenangkan untuk disebut biasa.Sejak Aruna membuka mata dan berguling kecil di atas kasur luas yang masih menyimpan wangi khas Atlas, senyumnya tak kunjung hilang. Aroma itu seperti tertinggal di bantal, di seprai, bahkan di udara yang ia hirup perlahan.

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   105| Selamat Datang, Aruna.

    Kadang, kejadian buruk dan baik memang datang dalam satu waktu yang bersamaan. Seolah semesta memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan segalanya, memberi sedikit kebahagiaan, lalu menyelipkan kegelisahan di sela-selanya. Di satu sisi, semuanya tampak berjalan sesuai rencana, bahkan nyaris sem

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   104| Panggilan Anonim

    "Jadi, kalian sudah menjadi pasangan kekasih betulan, sekarang?"Suara itu muncul tiba-tiba dari ponsel Aruna, memecah keheningan yang masih menggantung setelah kejadian beberapa detik lalu. Nada bicaranya santai, bahkan cenderung ringan, tapi justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih mengganggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status