Teilen

Penerbangan Menuju Neraka

last update Veröffentlichungsdatum: 19.03.2026 16:14:40

Suara dengung mesin jet pribadi milik keluarga Subroto terdengar seperti geraman rendah monster yang sedang kekenyangan. Di dalam kabin yang dilapisi kulit domba putih dan kayu mahoni yang mengilap, udara terasa begitu kering hingga setiap napas yang ditarik Kinan terasa seperti sayatan tipis di tenggorokannya. Bau parfum mahal Maria—mawar hitam dan musk yang berat—memenuhi ruangan sempit itu, mencekik aroma kebebasan yang sempat Kinan rasakan di atas jukung Pak Haji.

​Kinan duduk di kursi penu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Negosiasi di Ujung Maut

    Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.​Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi.​"Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."​Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.​Aku berdiri per

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Fajar yang Berdarah

    Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri.​"Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan.​"Nan... di sini..."​Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar.​"Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Likuidasi Moral di Dasar Sungai

    ​Dingin. Itu adalah hal pertama yang menyambutku. Dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi merasuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah sungai di bawah jurang Pematangsiantar ini adalah cairan es yang langsung membekukan aliran darahku. Suara teriakan Maria yang histeris dan raungan Fajar di atas sana seketika lenyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekakkan telinga di bawah permukaan.​Aku tidak mencoba untuk berenang. Tubuhku terasa berat, bukan hanya karena pakaian yang basah kuyup, tapi karena beban dosa masa lalu yang baru saja kubaca di Buku Hitam itu. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan. Di sana, di dalam kegelapan rahimku, ada sesosok nyawa yang belum sempat melihat dunia, namun sudah membawa kutukan dari kakeknya—seorang pembunuh.​“Maafkan Ibu, Nak,” bisikku di dalam hati. Air sungai yang amis masuk ke dalam mulutku, menyesakkan paru-paruku.​Pandanganku mulai mengabur. Cahaya obor di atas jurang tadi kini hanya tampak seperti kunang-kunang kecil yang perlahan pa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Akar yang Saling Membunuh

    Tangan saya bergetar hebat. Buku tua bersampul kulit hitam itu terasa lebih berat daripada beban Bumi di punggung saya. Di bawah siraman cahaya obor yang dibawa si pengacara, nama itu terpampang nyata, ditulis dengan tinta merah yang sudah menghitam dimakan usia: FAJAR ADITYA SUBROTO.​"Apa... apa maksudnya ini?" suara saya nyaris hilang, tertelan gemericik air sungai yang deras di bawah jurang Pematangsiantar. "Kenapa nama suamiku ada di buku sejarah kelam keluargaku sendiri?"​Pengacara itu, pria tua dengan kacamata yang salah satu lensanya retak, menatap saya dengan rasa iba yang membuat perut saya semakin mual. "Nyonya Kinan, Anda pikir pernikahan Anda dengan Tuan Fajar adalah sebuah kebetulan yang manis di Labuan Bajo? Anda pikir Maria Subroto memilihkan menantu 'orang aspal' hanya untuk menghina Anda?"​Ia membuka halaman tengah buku itu. Di sana, tertempel sebuah foto hitam putih yang sudah kusam. Foto dua orang pria muda sedang berdiri di depan sebuah dermaga lama—dermaga yang

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pusaran Rahasia di Pematangsiantar

    Udara Pematangsiantar pagi itu tidaklah ramah. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah di pinggir jalan. Aku turun dari bus antarkota dengan menggendong Bumi yang masih terlelap, sementara Bima membantu Fajar turun dari pintu belakang bus dengan kursi roda lipatnya. Wajah Fajar pucat, bibirnya membiru karena AC bus yang bocor sepanjang malam, namun matanya menatap deretan pohon sawit di kejauhan dengan tatapan waspada.​"Kita benar-benar melakukan ini, Nan?" bisik Fajar, suaranya parau tertelan deru mesin bus yang menjauh. "Kita datang ke tempat yang bahkan ibu kamu sendiri tidak berani sebut namanya?"​Aku membetulkan letak kain jarik yang menyangga Bumi. "Kita tidak punya pilihan, Dit. Maria sudah di sini. Jika 'Buku Hitam Nelayan' itu benar-benar ada di kota ini, kita harus menemukannya sebelum dia menggunakan buku itu untuk membumihanguskan Labuan Bajo secara hukum."​Kami menyewa sebuah angkutan kota tua yang berbau bensin t

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan di Mulut Naga

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan Kinan, seperti sebuah peti mati mewah yang menunggu isinya. Aroma aspal panas yang terpanggang matahari siang ini bercampur dengan bau kulit jok mobil yang sangat mahal saat kaca jendelanya turun perlahan. Di dalamnya, Tuan Besar—pria yang menjadi sumber dari

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Lidah Kecil yang Menagih Kebenaran

    Malam di rumah persembunyian itu terasa sangat berat. Rumah ini terletak di pinggiran Sukabumi, jauh dari keramaian, dikelilingi oleh kebun teh yang hamparannya tampak seperti samudera hijau yang gelap di bawah sinar bulan. Udara pegunungan yang dingin merayap masuk lewat celah jendela kayu, membaw

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Meja Makan yang Berduri

    Angin malam di desa itu berdesir masuk melalui celah-celah kayu dinding, membawa aroma petrikor dan melati yang mendadak terasa mencekik. Kinan berdiri mematung di balik pintu. Tangannya yang menggenggam gagang parang terasa licin oleh keringat dingin. Di luar, Adrian Pratama—atau monster yang dulu

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-27
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kabut di Ujung Landasan

    Malam itu Kinan tidak memejamkan mata sedetik pun. Ia duduk di samping ranjang Bapak, memperhatikan lampu merah kecil di atas lemari yang masih berkedip—sebuah pengingat bisu bahwa nyawa orang tuanya sedang dipertaruhkan di ujung jari seorang sosiopat. Kinan menggenggam tangan Bumi yang mungil. Ia

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-27
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status