"Tunggu, Irina!" Violet hendak menghalangi, tapi sudah terlambat.Irina melesat cepat. Tombak panjangnya muncul di tangan kanan, ujungnya berkilat tajam mengarah tepat ke dada Zero. Udara berdesir kencang.Zero masih berdiri tenang. Ekspresinya datar, tak ada sedikit pun rasa terancam. Saat ujung tombak itu nyaris menembus dadanya, jemari kirinya bergerak.Dengan mudah, jari-jari Zero menjepit ujung tombak itu. Tombak berhenti. Tak bisa bergerak maju sedikit pun.Irina membelalak. Ia menarik tombaknya dengan sekuat tenaga, tapi tombak itu tak bergeming. Seolah tertanam di batu."Lepaskan!" teriak Irina.Zero tak menjawab. Dengan dorongan ringan, ia menepis tombak itu ke belakang, memaksa Irina mundur. Dorongan kedua membuat Irina kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhempas hingga punggungnya membentur dinding.Brak!Irina meringis, tombaknya terjatuh dari genggaman."Muncul satu lagi bocah merepotkan," gumam Zero sambil menggeleng.Irina mengepalkan tangan, hendak bangkit dan menyerang
اقرأ المزيد