Kota Bogor tidak pernah benar-benar tidur sejak bencana itu terjadi.Sejak tanah longsor menghantam desa di kaki bukit, rumah sakit kecil di wilayah itu berubah menjadi pusat kekacauan yang tak pernah sepi. Lorong-lorong dipenuhi suara langkah tergesa, tangisan keluarga, dan instruksi cepat para tenaga medis yang berusaha menahan batas kemampuan mereka sendiri.Di tengah semua itu, Naya berdiri. Bukan sebagai pengunjung. Bukan pula sebagai relawan biasa.Ia datang sebagai tenaga perbantuan dipanggil cepat, dikirim tanpa banyak pilihan, dan langsung terjun ke medan yang tidak memberinya waktu untuk berpikir panjang.Hari pertama terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Hari kedua tubuhnya mulai terbiasa, tapi hatinya tidak. Dan kini, hari ketiga.Naya berdiri di depan wastafel kecil, membilas tangannya yang terasa kaku. Bekas sarung tangan medis meninggalkan garis merah di kulitnya. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai jatuh berantakan di sisi wajah.Ia menatap pantulan diri
Last Updated : 2026-05-01 Read more