Share

Pangeran Rui

Author: QuinzeeQ
last update publish date: 2026-06-17 23:01:30

“Kenapa kalian tidak bertanya. Siapa yang paling diuntungkan jika Pangeran Mahkota mati?” celetuk Tahanan itu.

Liang Wei menatap tajam Pria itu.

“Lanjutkan,” ucap Liang Wei.

Tahanan itu menyeringai.

“Yang Mulia. Apakah anda benar-benar ingin seluruh kebenaran ini terungkap?”

Tatapan Kaisar berubah menjadi semakin gelap. Dan untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, tidak ada yang bisa membaca isi pikirannya.

Bibi Lan menutup matanya. Air mata perlahan jatuh di pipinya. Ming Zhu me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kepergian Han Qiye

    “Serang!”Perang akhirnya pecah. Teriakan para prajurit mengguncang seluruh lembah. Dentang pedang, hujan anak panah, dan debu yang beterbangan memenuhi udara. Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming bertempur mati-matian melindungi gerbang Makam Teratai Putih, sementara Penjaga Bayangan Xuanyin bergerak lincah menghadapi para pembunuh Teratai Hitam. "Jangan biarkan mereka mendekati Putri Ming!" teriak Jenderal Xu Rong. "Majuuuu!" Liang Wei langsung menerobos ke tengah medan perang bersama Mo Lin dan Hei Yan. Di sisi lain, Ming Zhu dan Ming Yue bertarung bahu-membahu. Tebasan pedang Ming Zhu yang tegas membuat beberapa prajurit musuh tumbang, sementara Ming Yue melindungi sisi belakang adiknya agar tidak dikepung. "Zhu'er, hati-hati di kanan!" teriak Ming Yue. Ming Zhu berputar cepat, menangkis sebuah tombak sebelum membalas dengan satu tebasan yang menjatuhkan lawannya. Liang Wei yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. "Itulah Putri Ming yang sesungguhnya,”gumamnya. Na

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kemunculan Yin Sha

    Angin gunung berembus kencang. Dua pasukan kini saling berhadapan di depan Gerbang Makam Teratai Putih. Di satu sisi berdiri Liang Wei, Ming Zhu, para Penjaga Bayangan, Jenderal Luo, Penjaga Makam, dan sisa Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming. Di sisi lain, Wang Ji'an beserta pasukannya dan kelompok Teratai Hitam. Suasana begitu tegang hingga suara aliran sungai di bawah tebing terdengar jelas. Jenderal Xu Rong melangkah ke depan. Usianya sudah melewati lima puluh tahun, tetapi posturnya masih tegap. Tatapannya tertuju pada Ming Zhu. "Yang Mulia. Hamba akhirnya dapat menepati janji kepada mendiang Kaisar,” ucap Jenderal Xu Rong. Ming Zhu menatap pria itu penuh haru. "Jenderal Xu, Ayah pernah bercerita tentangmu,” ucap Ming Zhu. Xu Rong sedikit terkejut. "Benarkah Yang Mulia?” Ming Zhu mengangguk. "Beliau pernah berkata. Jika suatu hari ayah tidak lagi berada di sisimu, carilah Jenderal Xu Rong. Selama ia masih hidup, ia tidak akan membiarkan seorang pun men

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Pasukan Bangau Putih

    “Jadi sejak saat itu ada orang yang mengincar rahasia tersebut?” tanya Ming Zhu. "Tepat sekali, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. "Dan orang pertama yang menginginkannya adalah Pangeran Rui,” lanjutnya. Di sisi lain, Han Qiye mengepalkan tangannya. "Aku baru mengetahui semuanya setelah perang dimulai,” ucap Han Qiye. "Dulu aku hanya diperintah menghancurkan Dinasti Ming. Aku diberi tahu bahwa Kaisar Ming sedang menyembunyikan sesuatu yang dapat mengancam keseimbangan kerajaan-kerajaan,” lanjutnya dengan wajah penuh penyesalan. Han Qiye kemudian menundukkan kepalanya.“Dan aku, mempercayainya,” ucapnya lirih Ming Zhu menatap pria yang pernah menjadi sahabat masa kecilnya itu. Ia masih mengingat Han Qiye yang dahulu sering berlatih pedang bersama di halaman istana. Pria yang kemudian berubah menjadi musuh paling dibencinya. "Dan ketika aku mengetahui kebenarannya, semuanya sudah terlambat,” lirihnya. Tiba-tiba— KRAAK! Suara batu bergeser terdengar dari balik tebin

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rahasia Kerajaan Ming

    “Jenderal Luo?” sahut Ming Yue dari belakang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ming Zhu dan Ming Yue kemudian bertatapan untuk sesaat sebelum keduanya mendesak Jenderal Luo. Jenderal Luo memejamkan mata sejenak. Ia telah bersumpah kepada mendiang Kaisar Ming untuk menyimpan rahasia itu seumur hidup. Namun kini, tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Sudah waktunya Yang Mulia mengetahui semuanya,” ucap Jenderal Luo. Ming Yue yang berdiri di samping adiknya mulai merasa gelisah. "Kebenaran apa?" tanya Ming Yue cepat. Jenderal Luo menatap kedua putri itu bergantian. "Kalian memang saudara. Tetapi, kalian lahir dari ibu yang berbeda,” jelas Jenderal Luo. Keheningan langsung menyelimuti lembah. Mata Ming Zhu membesar. Sementara Ming Yue hanya terpaku. Bibi Lan menundukkan kepala perlahan. Air matanya menetes. Jenderal Luo mulai mengisahkan masa lalu. "Sebelum Dinasti Ming mencapai masa kejayaannya, Yang Mulia Kaisar Ming menikahi P

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Semua Bertemu

    Suara benturan pedang bergema di seluruh lembah. Dentang logam bersahutan dengan teriakan para prajurit. Di depan gerbang batu, pasukan Wang Ji'an telah lebih dahulu berhadapan dengan kelompok berjubah hitam yang membawa lambang Teratai Hitam. Untuk sesaat, kedua kubu justru saling menyerang. Liang Wei yang mengamati dari balik bebatuan langsung menyadari sesuatu. "Mereka berebut untuk masuk,” ucapnya pelan. Jenderal Luo mengangguk. "Masing-masing ingin menjadi yang pertama menemukan isi makam,” sahut Jenderal Luo. Mo Lin menyipitkan mata. "Itu menguntungkan kita, Yang Mulia,” ucap Mo Lin. Liang Wei menggeleng. "Tidak. Begitu mereka sadar kita ada di sini, mereka akan bersatu melawan kita. Dan itu sangat berbahaya bagi Ming Zhu,” ucap Liang Wei. Di tengah kekacauan itu, seorang pria berjubah putih perlahan melangkah ke tengah lembah. Semua pertempuran seolah berhenti sesaat ketika sosok itu muncul. Ming Zhu langsung menegang. Wajah yang sejak dulu menghantui mi

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penjaga makam

    Kini semuanya menjadi masuk akal. Mengapa Wang Ji'an bersusah payah mencari Ming Zhu. Mengapa Pangeran Rui tidak pernah menyerah memburunya. Mereka membutuhkan darah pewaris Dinasti Ming. Ming Zhu menarik napas panjang. Kemudian tanpa ragu, ia mengeluarkan belati kecil. Namun sebelum bilah itu menyentuh telapak tangannya, Liang Wei menahan pergelangan tangannya. "Tunggu,” ucapnya pelan. Ming Zhu menatapnya. "Bagaimana jika ini jebakan?" ucap Liang Wei. Jenderal Luo segera menjawab, "Jika tidak dibuka sekarang, kita akan kehilangan kesempatan, Pangeran,” ujar Jenderal Lup. Liang Wei tetap tidak melepaskan tangannya. Tatapannya mengarah ke dinding batu. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Lalu, Mo Lin yang sedang mengamati sekitar tiba-tiba berseru pelan. "Yang Mulia,” ucapnya pelan. Semua menoleh. Mo Lin menunjuk ke arah tanah di dekat gerbang batu. Ada bercak darah yang masih segar. Tidak jauh darinya tergeletak sebuah pedang patah. Hei Yan memung

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Tabib Gunung Tianyi

    Ssreekkk~ “Siapa disana?!” seru Ye Shuang. Brukk~ “Aku,” ucap Hei Yan. “Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Ye Shuang. “Tuan memintaku untuk memastikan perjalanan kalian aman. Nona Ming, dalam kondisi kritis. Maka dari itu, kita harus cepat,” jelas Hei Yan. Kabut Lereng Gunung Tianyi terbe

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rencana rahasia

    Cahaya matahari menembus tirai sutra dengan perlahan. Menggantikan malam yang cukup panjang itu. Udara pagi terasa lebih dingin daripada biasanya. Membuat kedua insan yang sedang tertidur itu mulai gusar. Liang Wei bangun terlebih dahulu. Alisnya sedikit berkerut saat membuka matanya dan melihat

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Berhasil Keluar Dari Neraka

    “Perangkap!” Satu detik kemudian, semua penerangan diruangan itu padam. “Kita keluar sekarang!” seru Mo Lin. Namun mereka terlambat. BRAKKK! Pintu masuk tertutup dengan keras. Dan dari luar suara langkah mulai terdengar. “Sepertinya, kita tidak diundang untuk keluar hidup-hidup,” ujar H

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penawar racun

    “Jangan menakutiku,” ucap Ming Zhu pelan. “Sekarang, beristirahatlah. Aku akan mencari penawar untuk racun ini,” ujar Ming Yue kemudian bangkit. Tapi saat hendak pergi, ia melihat Su Mu dan Ye Shuang masih berdiri diam ditempat mereka. Ming Yue kemudian menarik keduanya. “Eeehh, kenapa kau me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status