MasukMalam itu juga tanpa membuang waktu, rombongan Liang Wei segera meninggalkan desa di bawah pimpinan Jenderal Luo. Mereka tidak membawa banyak perbekalan. Kecepatan jauh lebih penting daripada kenyamanan. Langit dipenuhi awan gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan, menerangi jalan setapak menuju Pegunungan Baiyun. Jenderal Luo berlari di barisan paling depan. "Jika perkiraanku benar, pasukan Wang Ji'an mengambil Jalur Naga Batu,” ucapnya. "Apakah itu jalan tercepat?" tanya Liang Wei. "Bukan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Luo. "Kalau begitu kenapa mereka memilihnya?" tanya Liang Wei. "Karena jalur itu cukup lebar untuk dilalui ratusan prajurit,” jelas Jenderal Luo. "Tetapi ada jalan lain yang lebih sempit. Hanya orang-orang Dinasti Ming yang mengetahuinya,” lanjutnya. Ming Zhu langsung memahami maksudnya. "Jalur itu akan memotong perjalanan mereka,” ucap Ming Zhu cepat. Jenderal Luo mengangguk. "Benar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. Liang Wei seger
Kaisar dan Kasim tua itu saling melirik. “Yang Mulia, ini—“ Perkataan kasim itu terputus. “Permainan mereka telah dimulai,” sela Kaisar sembari menghela nafasnya. Sementara itu, jauh di selatan, di bekas wilayah Dinasti Ming. Desa kecil di kaki Pegunungan Baiyun masih diselimuti ketegangan setelah kemunculan pasukan berpanji gagak hitam. Namun anehnya, mereka tidak langsung menyerang. Jenderal bertopeng yang memimpin pasukan itu hanya menghentikan kudanya sekitar seratus langkah dari gerbang desa. Tatapannya lurus mengarah kepada Ming Zhu. "Putri Ming,” ucapnya. Suara beratnya bergema. "Ikutlah denganku,” lanjutnya. Hei Yan langsung tertawa sinis. "Kalau mau mengundang orang, setidaknya turun dulu dari kudanya!” seru Hei Yan. Su Mu mengangguk. "Dan bawa hadiah!” sambung Su Mu. "Diamlah!” celetuk Mo Lin Mo Lin menepuk kepala keduanya pelan. Di tengah candaan mereka, Liang Wei melangkah satu langkah ke depan Ming Zhu. Pedangnya masih berada dalam sarung.
Kaisar memandang peta besar Kekaisaran Xuanyin yang tergantung di dinding. Tatapannya kemudian bergeser ke arah selatan. Ke arah bekas wilayah Dinasti Ming. Tempat Liang Wei dan rombongannya sedang menuju. "Semoga kau lebih cepat menemukan kebenaran sebelum perang ini benar-benar pecah,” gumamnya. Di luar istana, genderang malam kembali dipukul. Menandakan bahwa Xuanyin telah memasuki keadaan siaga penuh. “Yang Mulia,” ucap Permaisuri. Kaisar menoleh dan mendapati Istrinya tengah berjalan kearahnya. “Ada apa? Ini sudah larut,” ucap Kaisar. Permaisuri menghela nafas. “Yang Mulia tahu bahwa ini sudah malam. Tapi kenapa masih belum beristirahat?” ucap Permaisuri. “Zhao’er kau seharusnya paham kenapa aku tidak bisa beristirahat,” ucap Kaisar. Permaisuri mendekat. Ia kemudian menggenggam tangan Kaisar. “Walau situasi sedang kacau seperti ini, Yang Mulia tidak boleh mengabaikan kesehatan sendiri,” ujar Permaisuri. Kaisar menghela nafasnya. “Aku khawatir dengan Liang W
Kabut tipis menyelimuti hutan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tidak seorang pun mengendurkan kewaspadaan. Jejak roda kereta dan lambang Teratai Biru yang ditemukan Ming Zhu menjadi bukti bahwa mereka tidak jauh dari seseorang yang mengetahui rahasia Dinasti Ming. Mo Lin berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya, Ye Shuang dan Hei Yan bergantian mengamati pepohonan di kanan dan kiri. Su Mu, seperti biasa, mencoba mencairkan suasana. "Kalau kita terus berjalan begini, aku yakin yang pertama menemukan makam bukan kita!” ujarnya. Hei Yan meliriknya. "Lalu siapa?" tanya Hei Yan. "Perutku,” jawab Su Mu cepat. Ming Yue tertawa kecil. "Sejak berangkat, yang kau pikirkan hanya makan,” ejek Ming Yue. "Aku hanya menjaga semangat tim saja, bukan begitu Yang Mulia?” ujar Su Mu. "Alasan,” balas Liang Wei singkat. Di tengah candaan mereka, Liang Wei memperhatikan Ming Zhu yang sejak tadi lebih banyak diam. Ia memperlambat langkah hingga berja
Lonceng perang masih menggema di luar istana. Namun di dalam Aula Naga Emas, perhatian semua orang kini tertuju pada satu keputusan. Kaisar Liang Sheng memandang Liang Wei. "Menurutmu?" tanya Kaisar. Liang Wei melangkah maju. Tatapannya tetap tenang, meski pikirannya telah menyusun berbagai kemungkinan. "Jika semua petunjuk mengarah ke Makam Teratai Putih, maka kita harus mendahului mereka, Ayah,” jawab Liang Wei. "Kalau tidak, Wang Ji'an atau orang-orang Pangeran Rui akan lebih dulu menemukan apa yang ditinggalkan Kaisar Ming,” ucapnya cepat. Ming Zhu mengangguk pelan. "Hamba akan pergi, Yang Mulia,” ujar Ming Zhu. Belum sempat ada yang menanggapi, Liang Wei langsung berkata, "Aku ikut!” ucapnya. Nada suaranya tegas. Mendengar itu, Pangeran Rui terkekeh pelan. "Menarik. Pangeran Xuanyin hendak mempertaruhkan nyawanya demi putri dari kerajaan yang dulu dianggap musuh,” celetuknya. Liang Wei menatapnya tanpa gentar. "Musuhku bukan Dinasti Ming,” balasnya.
Teriakan dan suara lonceng darurat bergema dari seluruh penjuru istana. TENG! TENG! TENG! Itu adalah lonceng perang. Lonceng yang hanya dibunyikan saat ibu kota menghadapi ancaman besar. Jenderal Gao Ren segera berlutut di depan Kaisar. "Yang Mulia, mohon segera menuju aula perlindungan!" Namun Kaisar Liang Sheng tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju pada adiknya. Pangeran Rui. Pria yang telah menghilang selama dua belas tahun. Pria yang kini berdiri di hadapannya sebagai musuh. "Semua ini ulahmu,” ucapnya dingin. Pangeran Rui tersenyum. "Sudah terlambat untuk menghentikannya, Kakak,” seringainya Liang Wei langsung maju. Tangannya mencengkeram gagang pedang. "Pasukan siapa yang menyerang ibu kota?" seri Liang Wei. Pangeran Rui memandang keponakannya. Tatapan itu penuh penilaian. Seolah sedang mengamati seorang bidak yang tumbuh melebihi perkiraannya. "Pasukan yang sudah kupersiapkan selama bertahun-tahun,” ujar Pangeran Rui santai "Lalu Wang Ji'an?
“Segera selesaikan masalah ini. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kaisar sebelum meninggalkan Aula. “Baik Yang Mulia!” ujar keempatnya serentak. Setelah Kaisar meninggalkan ruangan, Ming Zhu mendekat kearah Liang Wei dan membantu Pria itu berjalan keluar. “Apa rencana mu selanjutnya, Tuan?” ucap
“Tidak. Justru tepat waktu,” ucap Liang Wei. Ming Zhu dengan cepat bangkit dari ranjang dan berjalan kearah Ming Yue. “Berikan obatnya padaku, Kak,” ucap Ming Zhu. Nada suaranya kembali dingin. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja berbagi ranjang. Ming Yue berjalan masuk perlahan, masi
“T-tapi aku bisa berjalan sendiri,” gugup Ming Zhu. “Aku tahu. Tapi malam ini, biar aku yang melakukannya,” bisik Liang Wei. Ming Zhu terdiam sejenak. Ia tidak benar-benar melawan meski alisnya sedikit berkerut, dan tatapannya tajam seperti biasa. Namun anehnya, ia tidak meminta diturunkan lagi
“Nama-nama itu,” lanjut Perdana Menteri, “telah lama berada dalam pengawasan. Namun tanpa bukti yang cukup… mereka tidak bisa disentuh.” “Jadi kau menciptakan bukti itu?” tanya Kaisar. “Ya,” ucap perdana menteri. Jawaban yang langsung. Tanpa ragu. Kaisar terdiam. Untuk beberapa saat tidak a







