Malam telah turun sepenuhnya. Kediaman Liang Wei kembali sunyi setelah kesibukan sebelumnya mereda. Di dalam kamar, Ming Zhu tertidur lelap—napasnya mulai stabil, wajahnya jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Di luar, di paviliun kecil yang menghadap taman— Liang Wei berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Su Mu datang membawa dua cangkir teh, meletakkan salah satunya di meja batu. “Dia sudah tidur,” katanya.Liang Wei mengangguk pelan. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu Su Mu duduk, menghela napas panjang. “Sekarang kita bicara,” ucap Su Mu.Liang Wei meliriknya. “Tentang Ming Yue?” ujar Liang Wei.“Ya,” jawab Su Mu langsung. “Itu tidak masuk akal,” lanjutnya.Ia bersandar, keningnya berkerut. “Seorang gadis yang dulu kita selamatkan tiba-tiba jadi bawahan Han Qiye? Dan bukan bawahan biasa dia memimpin pasukan tadi.” Liang Wei tidak menyangkal. “Gerakannya terlatih,” katanya pelan. “Bukan sesuatu yang bisa didapat dalam waktu singkat.” Su Mu mengangguk.
Read more