LOGINMalam kembali turun di istana. Paviliun danau diselimuti cahaya lentera yang menggantung di setiap sudut, pantulan sinarnya berkilau di permukaan air yang tenang. Semuanya tampak indah. Terlalu indah untuk sesuatu yang jelas-jelas adalah jebakan. Di kejauhan— langkah kaki terdengar mendekat. Liang Wei berjalan dengan tenang, jubahnya bergerak ringan tertiup angin malam. Di belakangnya, Su Mu mengikuti, matanya waspada mengamati setiap sudut. “Kita benar-benar datang,” gumam Su Mu pelan. Liang Wei tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan, ke arah satu sosok yang sudah menunggu. Mu Rong Shanming. Putri ketiga berdiri di tepi paviliun, mengenakan gaun elegan berwarna lembut. Senyumnya tipis saat melihat mereka datang, seolah ini hanya pertemuan biasa. “Pangeran Ketiga,” sapanya halus. “Aku khawatir kau tidak akan datang.” Liang Wei berhenti beberapa langkah darinya. “Aku juga,” balasnya tenang. Suasana langsung dipenuhi ketegangan yang tak terlihat. Su Mu tetap diam, n
Ruang bawah tanah istana utama sunyi… terlalu sunyi. Hanya suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, menciptakan gema dingin yang berulang. Cahaya obor berkelip pelan, membuat bayangan di dinding tampak hidup. Di tengah ruangan Ming Yue berlutut. Punggungnya tegak, meski kedua tangannya terikat di depan. Wajahnya pucat, tapi tidak ada rasa takut yang terlihat. Langkah kaki perlahan bergema. Tok. Tok. Tok. Han Qiye muncul dari bayangan. Jubah hitamnya menyapu lantai, auranya dingin dan menekan. Ia berhenti beberapa langkah di depan Ming Yue, menatapnya tanpa emosi. “Gagal,” ucap Han Qiye. Satu kata. Namun cukup untuk membuat udara terasa membeku. Ming Yue menunduk sedikit. “Aku hampir berhasil.” Han Qiye tersenyum tipis. “ Hampir tidak pernah menjadi hasil yang aku inginkan,” ucap Han Qiye. Ia berjalan mengelilinginya perlahan, seperti pemangsa yang mengamati mangsanya. “Kau bertemu dengannya. Kau memiliki kesempatan,” ucapnya. Langkahnya berhenti di belakang
Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang Wei masih berdiri di paviliun, tapi langkahnya akhirnya bergerak. Tanpa berkata apa pun, ia meninggalkan Su Mu dan berjalan menuju kamar. Pintu dibuka perlahan. Ia masuk tanpa suara. Cahaya lampu menyinari wajah Ming Zhu yang sedikit pucat. Keringat tipis mulai muncul di dahinya. Liang Wei langsung menyadari ada yang tidak beres. Ia mendekat, duduk di sisi tempat tidur. Tangan dinginnya menyentuh dahi Ming Zhu. Panas. “Demam,” gumamnya. Seolah menjawab, Ming Zhu sedikit mengerang pelan. Bibirnya bergerak, tapi kata-katanya tidak jelas. Liang Wei mengernyit.Ia sedikit mendekat. “jangan,”bisik Ming Zhu samar. Suara itu lemah. Namun penuh ketegangan. “Ming Yue… lari,” gumamnya.
Malam telah turun sepenuhnya. Kediaman Liang Wei kembali sunyi setelah kesibukan sebelumnya mereda. Di dalam kamar, Ming Zhu tertidur lelap—napasnya mulai stabil, wajahnya jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Di luar, di paviliun kecil yang menghadap taman— Liang Wei berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Su Mu datang membawa dua cangkir teh, meletakkan salah satunya di meja batu. “Dia sudah tidur,” katanya.Liang Wei mengangguk pelan. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu Su Mu duduk, menghela napas panjang. “Sekarang kita bicara,” ucap Su Mu.Liang Wei meliriknya. “Tentang Ming Yue?” ujar Liang Wei.“Ya,” jawab Su Mu langsung. “Itu tidak masuk akal,” lanjutnya.Ia bersandar, keningnya berkerut. “Seorang gadis yang dulu kita selamatkan tiba-tiba jadi bawahan Han Qiye? Dan bukan bawahan biasa dia memimpin pasukan tadi.” Liang Wei tidak menyangkal. “Gerakannya terlatih,” katanya pelan. “Bukan sesuatu yang bisa didapat dalam waktu singkat.” Su Mu mengangguk.
“Jangan takut. Aku tidak akan mati,” gumam Ming Zhu dengan sisa tenaganya. Gadis itu kemudian menutup matanya karena sudah tidak memiliki energi. Liang Wei pun langsung merobek sebagian jubahnya. “Su Mu, ikat lukanya dengan ini,” ucap Liang Wei. “Kita harus segera kembali ke kediaman. Dia diracun,” gumam Liang Wei pada Su Mu. Perjalanan kembali terasa lebih panjang dari biasanya. Tidak ada yang banyak bicara. Liang Wei menopang Ming Zhu di sisinya, menjaga langkahnya tetap stabil meski gadis itu beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan. Su Mu berjalan di depan, memastikan jalur aman, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah yang tidak lagi santai. Begitu mereka tiba di kediaman— “Siapkan air panas! Panggil tabib!” perintah Liang Wei langsung menggema. Para pelayan bergerak cepat, suasana mendadak tegang. Liang Wei tidak menunggu. Ia langsung membawa Ming Zhu ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan kaki, lalu membaringkannya perlahan di atas tempat tidur. Ming Zhu
“Aku yang disiksa , kelaparan dijalanan, sampai akhirnya dia yang menemukanku.” Hening. Angin berhembus pelan, membawa ketegangan yang semakin tajam. “Dia memberiku kekuatan Dan alasan untuk tetap hidup.” Mata Ming Yue kembali dingin. “Dan sekarang, dia memintaku membawamu,” lanjutnya. Ming Zhu membeku. Ia berusaha bangkit dengan darah yang masih mengalir. “Ming Yue sadar! Dia memperalatmu. Dia yang menjualmu ke rumah bordil, iyakan?!” “Dia tidak benar-benar baik padamu!” geram Ming Zhu.Ming Yue tidak menjawab. Namun langkahnya mundur satu. Isyarat yang cukup. Para prajurit langsung bergerak.Ming Zhu menarik napas pelan.Tubuhnya terluka. Tenaganya terkuras. Dan sekarang—orang yang ingin ia lindungi berdiri di seberangnya. Pedangnya terangkat perlahan. Namun sebelum benturan terjadi—suara lain terdengar. “Ternyata, aku datang tepat waktu.” Semua orang menoleh. Dari balik kabut— sosok itu berjalan santai, seolah situasi ini bukan apa-apa. Jubahnya bergerak pelan ter