Accueil / Rumah Tangga / Topeng Sempurna Istri Pamong / Bab 14: Ancaman Preman dan Surat Segel

Partager

Bab 14: Ancaman Preman dan Surat Segel

Auteur: Ainul Qodri
last update Date de publication: 2026-04-04 07:23:35

Bimo masih duduk lemas di lantai teras rumah. Amplop cokelat tipis berisi gaji terakhirnya tergeletak begitu saja di dekat kakinya. Wajahnya pucat, campur aduk antara takut dan marah.

"Puas kamu sekarang, Santi?!" teriak Bimo tiba-tiba. Dia menatapku dengan mata merah. "Gara-gara mulutmu di balai desa, aku yang kena imbasnya! Besok kita mau makan apa?! Kamu mau tanggung jawab?!"

Mendengar teriakannya, darahku mendidih. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu. Sudah berselingkuh, sekarang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 69: Kehancuran Menteri Haryo

    Kamis pagi, tepat pada pukul sepuluh, aku sudah duduk di dalam sebuah ruang tamu pribadi atau *VIP room* di sebuah restoran mewah di pusat kota Jakarta. Ruangan ini tertutup rapat dan memiliki penjagaan ketat di luar pintu masuk. Tidak ada orang luar yang bisa mendengar percakapan di dalam ruangan ini. Aku memakai gaun berlengan panjang berwarna hitam pekat, tanpa perhiasan apa pun. Riasan wajahku sengaja kubuat sedikit pucat. Aku ingin terlihat sebagai wanita yang sedang bersedih dan membawa kabar buruk. Pintu ruangan terbuka. Nyonya Ratna berjalan masuk. Istri Menteri Perdagangan itu memakai gaun berwarna kuning cerah dan membawa tas bermerek mahal. Wajahnya terlihat sangat gembira. Dia langsung duduk di kursi tepat di depanku. "Selamat pagi, Santi," sapa Nyonya Ratna dengan suara yang keras dan penuh rasa bangga. "Aku sangat senang kamu mengundangku minum teh hari ini. Uang sumbangan satu miliar rupiah darimu kemarin sudah masuk ke dalam rekening yayasan amalku. Kamu benar-benar

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 68: Rekaman di Kamar Hotel

    Rabu siang, pukul satu, aku tiba di sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota Jakarta. Hari ini, Nyonya Ratna, istri dari Menteri Perdagangan Haryo, mengadakan acara perkumpulan dan makan siang bersama puluhan istri pejabat dan pengusaha wanita. Aku memakai gaun panjang berwarna putih polos dan perhiasan berlian berukuran kecil. Aku sengaja memilih gaya pakaian yang elegan namun tidak terlihat mencolok. Aku ingin Nyonya Ratna melihatku sebagai wanita yang sopan dan tidak berniat menyaingi kekuasaannya. Aku berjalan masuk ke dalam ruang aula hotel yang disewa khusus untuk acara tersebut. Banyak meja bundar yang sudah diisi oleh para wanita kaya. Aku melihat Nyonya Ratna sedang duduk di meja paling depan. Nyonya Ratna memakai gaun berwarna merah terang dan perhiasan emas berukuran besar di lehernya. Dia sedang berbicara dengan nada suara yang keras dan tertawa bangga. Aku meminta pelayan hotel untuk mengantarku ke meja Nyonya Ratna. Saat aku sampai di depan mejanya, aku memberi

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 67: Target Baru di Ibu Kota

    Sinar matahari pagi menyinari halaman rumah Bapak Sudirman, Kepala Desa Sukamaju. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku duduk di kursi kayu ruang makan, menikmati sarapan pagi berupa nasi goreng dan telur dadar yang dimasak oleh istri kepala desa. Aku memakai gaun panjang berwarna biru muda yang sangat sopan. Rambutku diikat rapi ke belakang. Di sebelah kiriku, Gala duduk dengan tenang. Suamiku memakai kaus lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang memperlihatkan otot lengannya yang besar. Bapak Sudirman duduk di seberang meja kami. Dia terus menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepadaku. "Kami sangat berterima kasih atas bantuan uang sepuluh miliar rupiah dari Anda, Nyonya Santi," ucap Bapak Sudirman dengan suara yang tulus. "Pekerja bangunan akan mulai memperbaiki atap masjid desa siang ini juga. Dokter dari kota juga sudah saya hubungi untuk mulai bekerja di klinik kesehatan gratis besok lari." Aku meletakkan sendok makanku di atas piring. Aku memberikan senyum lembut ya

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 66: Uang dan Ancaman di Hutan Jati

    Keesokan harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, lima buah mobil mewah berwarna hitam masuk secara beriringan melintasi jalan tanah utama Desa Sukamaju. Mobil yang aku tumpangi bersama Gala berada di urutan kedua. Toni bertugas mengemudikan mobil kami di bagian depan. Tiga mobil van berukuran besar melaju di belakang mobil kami. Mobil-mobil van tersebut membawa uang tunai, ratusan paket bahan makanan pokok, serta beberapa anggota keamanan pribadi kami yang memakai pakaian biasa. Perjalanan dari Jakarta menuju Desa Sukamaju memakan waktu beberapa jam melalui jalan tol antarkota. Saat mobil kami memasuki batas desa, aku melihat banyak perubahan. Jalanan desa masih terbuat dari tanah yang dikeraskan, dan rumah-rumah warga sebagian besar masih terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu. Kondisi ekonomi desa ini tidak banyak berubah sejak aku pergi meninggalkan tempat ini beberapa tahun yang lalu. Ratusan warga desa sudah berkumpul dan berdiri di halaman balai desa. Kepala Desa Sukamaju

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 65: Ancaman di Sukamaju

    Sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela besar di kamar tidur utama rumah mewah kami di Jakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Malam sebelumnya, aku dan suamiku, Gala, berhasil memanipulasi Jenderal Baskoro di acara pesta amal. Kami berhasil membuat jenderal polisi bintang tiga itu percaya bahwa kami adalah warga negara yang bersih dari kejahatan. Aku duduk di kursi meja makan di lantai bawah. Aku memakai pakaian santai berupa kemeja katun berwarna putih dan celana pendek selutut. Gala duduk di seberang meja. Dia tidak memakai baju atasan. Otot di dada dan lengannya terlihat jelas. Dia sedang meminum kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Suasana pagi ini terasa sangat tenang, tetapi di dalam dunia kejahatan tingkat tinggi yang kami jalani, ketenangan biasanya adalah tanda bahaya yang sedang mendekat. Pintu ruang makan terbuka. Toni, kepala keamanan dan teknologi perusahaanku, berjalan masuk dengan langkah yang cepat. Wajah Toni terlihat sangat serius. Dia membawa sebu

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 64: Panggung Sandiwara Jakarta

    Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 61: Televisi dan Darah

    Pembersihan gudang nomor tujuh di Pelabuhan Belawan selesai dilakukan dalam waktu tiga jam. Toni dan anggota keamanan kami menggunakan cairan kimia pemutih lantai untuk menghilangkan semua noda darah Marco dan sepuluh pengawalnya. Mayat-mayat pria asing itu dimasukkan ke dalam drum besi. Toni mengi

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 59: Kesepakatan Berdarah

    Dua hari telah berlalu sejak pesan ancaman dari Viktor tiba di server komputer kami. Hari ini adalah hari kedatangan Marco, utusan resmi dari sindikat senjata api benua Eropa tersebut. Sesuai dengan rencanaku, kami akan menyambutnya di ruang kerja utama gedung kantorku pada pukul dua siang. Aku be

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 58: Aliansi Hitam

    Pukul dua belas malam, aku tiba di apartemen mewah kami setelah acara perjamuan di Istana Negara selesai. Aku masuk ke dalam kamar tidur utama dan melepaskan gaun putih gading yang aku pakai. Aku menghapus riasan wajah tipis yang menjadi bagian dari topeng kesempurnaanku. Malam ini, aku berhasil me

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 57: Serangan Balasan

    Dua jam setelah ancaman dari sindikat kriminal internasional itu, aku dan Gala masih berada di ruang keluarga apartemen kami. Toni masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat. Dia membawa sebuah komputer jinjing berwarna perak. Toni meletakkan komputer itu di atas meja kaca tepat di depan kami. "

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status