แชร์

Bab 35: Musuh dalam Selimut

ผู้เขียน: Ainul Qodri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-15 13:29:33

Pukul delapan pagi, di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, Hendra duduk di kursi kulit kebesarannya. Pria berusia empat puluh tahunan dengan rambut yang mulai menipis itu sedang menyesap kopi hitam saat sekretarisnya masuk membawa tablet.

"Pak Hendra, ada email masuk yang aneh di kotak masuk utama Bapak. Pengirimnya anonim. Subjeknya tentang penyalahgunaan aset Wiryawan Corp," kata sekretaris itu sambil meletakkan tablet di atas meja.

Hendra mengerutkan dahi. Dia sedang men
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 65: Ancaman di Sukamaju

    Sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela besar di kamar tidur utama rumah mewah kami di Jakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Malam sebelumnya, aku dan suamiku, Gala, berhasil memanipulasi Jenderal Baskoro di acara pesta amal. Kami berhasil membuat jenderal polisi bintang tiga itu percaya bahwa kami adalah warga negara yang bersih dari kejahatan. Aku duduk di kursi meja makan di lantai bawah. Aku memakai pakaian santai berupa kemeja katun berwarna putih dan celana pendek selutut. Gala duduk di seberang meja. Dia tidak memakai baju atasan. Otot di dada dan lengannya terlihat jelas. Dia sedang meminum kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Suasana pagi ini terasa sangat tenang, tetapi di dalam dunia kejahatan tingkat tinggi yang kami jalani, ketenangan biasanya adalah tanda bahaya yang sedang mendekat. Pintu ruang makan terbuka. Toni, kepala keamanan dan teknologi perusahaanku, berjalan masuk dengan langkah yang cepat. Wajah Toni terlihat sangat serius. Dia membawa sebu

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 64: Panggung Sandiwara Jakarta

    Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 63: Gelap dan Kematian

    Aku berjalan kaki melewati halaman depan rumah Viktor yang sangat luas. Sepatu hak tinggi yang aku pakai menginjak tumpukan salju di atas jalan setapak berbatu. Penjaga yang memegang senapan serbu berjalan tepat di belakangku. Salju turun dengan intensitas yang semakin banyak dari langit malam. Suhu udara sangat dingin, tetapi aku menahan rasa dingin itu agar tubuhku tidak menggigil. Halaman ini dijaga oleh puluhan pengawal bersenjata yang berjalan berkeliling secara terus-menerus. Aku menghitung ada lebih dari dua puluh buah kamera pengawas yang menempel pada dinding luar bangunan utama. Pengamanan tempat ini memiliki jumlah personel dan peralatan yang sangat ketat, sama persis seperti data komputer yang aku dan Gala baca di pesawat sebelumnya. Namun, kamera pengawas itu tidak berguna karena arahnya hanya melihat ke bagian halaman luar, dan tidak ada satu pun kamera yang bisa menghentikan rencana suamiku di ruang bawah tanah. Pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati dengan ket

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 62: Penerbangan Menuju Kematian

    Pesawat jet pribadi berlogo PT. Santi Abadi Sejahtera terbang dengan kecepatan tinggi membelah awan. Tujuan penerbangan kami adalah kota Zurich di negara Swiss, benua Eropa. Pesawat jet ini adalah milik perusahaanku. Bagian dalam pesawat ini sangat mewah. Terdapat sebuah tempat tidur berukuran besar, dua buah sofa kulit berwarna hitam, dan sebuah meja kerja dari kayu jati. Kami akan menempuh perjalanan udara selama empat belas jam dari Jakarta. Aku duduk di kursi di balik meja kerja. Di atas meja, terdapat sebuah komputer jinjing yang menyala. Layar komputer itu menampilkan peta digital tiga dimensi dari sebuah bangunan besar. Bangunan itu adalah rumah pribadi milik Viktor, pemimpin tertinggi sindikat senjata api Eropa yang telah mengirimkan pasukan penyerang ke kantorku kemarin. Di seberang meja, Gala sedang duduk di atas sofa kulit. Suamiku tidak sedang bersantai. Di depannya, terdapat sebuah meja kecil yang penuh dengan bagian-bagian senjata api pembunuh. Gala sedang merakit dua

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 61: Televisi dan Darah

    Pembersihan gudang nomor tujuh di Pelabuhan Belawan selesai dilakukan dalam waktu tiga jam. Toni dan anggota keamanan kami menggunakan cairan kimia pemutih lantai untuk menghilangkan semua noda darah Marco dan sepuluh pengawalnya. Mayat-mayat pria asing itu dimasukkan ke dalam drum besi. Toni mengisi drum besi itu dengan semen basah. Setelah semen itu mengeras, drum-drum itu dibuang ke bagian laut yang paling dalam dari atas kapal feri milik perusahaanku. Tidak ada jejak pembunuhan yang tersisa di daratan. Malam itu juga, sepuluh kontainer berisi senjata api laras panjang dan peluru penembus baja itu langsung dipindahkan. Kami memindahkan senjata itu ke dalam kotak-kotak kayu berlabel "Suku Cadang Mesin Pabrik". Truk-truk logistik milik PT. Santi Abadi Sejahtera mengangkut kotak-kotak itu menuju perbatasan jalur laut internasional. Sesuai dengan rencanaku, para pembeli senjata di pasar gelap Asia sudah menunggu. Mereka adalah perwakilan kartel dari Thailand dan Filipina. Transaksi j

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 60: Ladang Pembantaian Belawan

    Empat hari kemudian. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan turun dengan sangat lebat di wilayah Pelabuhan Belawan, provinsi Sumatera Utara. Suara air hujan menabrak atap seng berukuran raksasa terdengar sangat keras. Aku dan suamiku, Gala, berdiri di bagian dalam sebuah gudang logistik nomor tujuh. Gudang ini adalah milik perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Tempat ini sangat luas dan tertutup rapat. Lampu neon di bagian atap menyala terang, menerangi seluruh area beton di bawahnya. Di tengah ruangan gudang ini, terdapat sepuluh kontainer besi berukuran besar. Kontainer itu berwarna biru tua. Kontainer itu baru saja diturunkan dari kapal barang menggunakan alat berat pelabuhan satu jam yang lalu. Seluruh petugas keamanan pelabuhan dan petugas bea cukai pemerintah sudah menerima uang suap dariku. Mereka semua pergi meninggalkan area ini. Kamera pengawas di seluruh area pelabuhan juga sudah dimatikan secara total oleh Toni. Malam ini, gudang nomor tujuh adalah wilayah hukum

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 10: Ratu yang Salah Tempat

    Hari yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sejak jam delapan pagi, Balai Desa Sukamaju sudah ramai oleh ibu-ibu berseragam biru khas kader PKK. Suara obrolan dan tawa terdengar bersahutan. Mereka sibuk menata kursi plastik, menyiapkan daftar hadir, dan menata kotak makanan ringan di atas meja panj

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 8: Mencari Tameng Pelindung

    Ruang tamu Bu Yati mendadak terasa sangat dingin, padahal cuaca di luar sedang panas terik. Kabar bahwa Pak Pamong mengetahui perselingkuhan istrinya dan bahkan membayar Kang Bagong untuk tutup mulut, benar-benar membuat nyaliku menciut. Bu Tini yang duduk di sebelahku mulai menangis lagi. Tubuhn

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 11: Sidang Terbuka di Balai Desa

    "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Suara Bu Kades yang tegas menggema lewat pelantang suara. Balai desa yang tadinya ramai oleh suara obrolan ibu-ibu seketika menjadi sunyi senyap. Semua mata kini tertuju ke depan. Biasanya, Bu Kades selalu membuka rapat dengan senyuman ramah. Beliau

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 25: Firasat Sang Ratu dan Larangan Baru

    Malam itu, duduk di atas kasur tipisku, aku memandangi layar ponsel bekas yang layarnya retak di pojok itu. Ada tiga foto di galeri. Ketiganya sangat tajam, tak ada blur sedikit pun. Wajah Rina dan Dani, pelukan mereka, serta tumpukan amplop cokelat tebal di atas meja bedeng semuanya terekam jelas

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status