"Ini Aksara. Dia ... temanku. Dokter bedah di Thompson Novena."Mendengar kata 'teman' meluncur begitu mudah dari bibir Alexander, dada Aksara tercubit. Rasanya perih.Kalimat itu menyadarkan, bahwa semua tawa di dalam mobil tadi hanyalah kamuflase belaka.Di sini, di depan perempuan yang telah merawat ibu Alexander, posisi Aksara bergeser telak. Ia bukan lagi masa lalu yang dicintai, melainkan hanya seorang teman, atau lebih tepatnya, seorang dokter yang dimintai bantuan.Brielle tersenyum ramah, tidak menyadari dada Aksara seperti dirajam."Oh. Silahkan duduk, Dokter Aksara. Saya siapkan segelas teh hangat," ucap Brielle baik hati.Alexander lalu memberi isyarat Aksara dengan gerakan kepala untuk mendekati kondisi fisik ibunya yang memprihatinkan.Kurus, kulit pucat, dan raut wajah menunjukkan depresi mendalam yang belum juga hilang.Alexander meraih jemari ibunya, lalu menciumnya. Sorot matanya selayak anak yang teramat takut kehilangan dunianya."Ibu ... aku pulang," ucap Alexander
اقرأ المزيد