“Yang Mulia tidak apa-apa?”Varian, yang awalnya hanya duduk di samping jendela terbuka sembari menikmati semilir angin, mendadak panik ketika Kael datang.Wajah yang tadinya datar seperti papan kayu kini kusut seperti sapu tangan. Rambut yang sebelumnya tersisir rapi ke belakang kini berantakan, lengket oleh peluh yang bercucuran. Ia tampak begitu lesu.Kael melepas jasnya, menggantungnya di dalam lemari, lalu duduk di pinggir kasur. Ia menatap Varian, yang membalas tatapannya.“Aku tidak apa-apa, Varian,” jawab Kael, mencoba meredakan kepanikan.Namun Varian justru semakin gelisah. Kael tidak mengatakan apa pun soal tekanan yang ia rasakan saat perjamuan makan tadi.“Pangeran, kau memang terlihat keren saat mengangkat pedang, menunggang kuda, atau saat mengajak seorang gadis berdansa di pesta,” seperti biasa, Varian memulai ceramahnya.“Aku tahu itu. Langsung saja ke intinya, Varian!” potong Kael, tak sabar.Biasanya Varian akan memujinya panjang lebar, lalu berakhir dengan kritik p
Last Updated : 2026-05-05 Read more