แชร์

Cookies, Janji dan Duke Rowan

ผู้เขียน: Flouvly Fhlorie
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-08 14:57:12

“Sendirian saja, Lady?” goda Duke Rowan dengan nada manis yang terdengar dibuat-buat.

Dia lebih mirip buaya daripada serigala kalau seperti ini, pikir Aruna geli sekaligus waspada.

“Mengapa Anda diam saja, Lady?”

Aruna menggeleng tegas, lalu berniat kembali masuk ke dalam kediamannya. Namun satu kalimat dari Rowan membuat langkahnya terhenti.

“Apa kau tahu kalau Pangeran pujaanmu itu meninggalkanmu demi seorang putri?”

Tubuh Aruna langsung menegang.

Satu kalimat itu cukup menjawab banyak pertan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Aruna Memenangkan Pelelangan

    Russle langsung menyodorkan papan baru ke arah Aruna.Tangannya bergerak cepat menuliskan angka.50.800. Lalu ia berbisik pelan.“Percayalah kepada saya, Lady.”Di sisi lain aula, Rowan yang melihat tulisan itu langsung menyipitkan mata.“Russle...”Sudut bibirnya terangkat tipis.“Jadi kau benar-benar ingin memenangkan lukisan itu untuknya.”Dan entah kenapa, hal itu justru membuat Rowan semakin ingin ikut menawar.---Russle dan Rowan akhirnya terlibat perang penawaran yang membuat hampir seluruh aula kebingungan.Awalnya hanya selisih beberapa koin.Lalu puluhan.Kemudian ratusan.Hingga akhirnya harga lukisan wanita peramal itu terus naik tanpa henti.“Lima puluh ribu sepuluh!”“Lima puluh ribu sebelas!”“Lima puluh ribu dua belas!”“Lima puluh ribu tiga belas”Bahkan para bangsawan yang awalnya tertarik mulai memilih mundur.Menurut mereka, harga itu sudah terlalu tinggi untuk sebuah lukisan tua yang bahkan bukan karya pelukis terkenal.Namun dua saudagar asing itu justru semaki

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Bantuan dari Russle

    Sementara itu, Aruna masih memandangi pria di hadapannya.“Edward?”“Benar, Lady.”“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”“Belum.”Jawabannya datang terlalu cepat.Namun wajahnya tetap tenang.Seolah tidak ada yang aneh.Aruna menyipitkan mata sedikit.Entah mengapa ia merasa pria ini sedang menyembunyikan sesuatu.Banyak hal.Tetapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara pelelang kembali menggema.“Tiga puluh lima ribu koin emas!”Riuh rendah memenuhi aula.Keduanya menoleh ke arah panggung.Harga lukisan itu ternyata masih terus naik.Russle kembali memandang Aruna.“Lady tampaknya sangat menginginkan lukisan itu.”Aruna tidak membantah.“Ya.”“Kalau begitu saya bisa membantu.”Aruna langsung menoleh.“Membantu?”Russle mengangguk santai.“Anggap saja saya tertarik pada sejarah Blackwood.”Jawaban yang setengah benar.Dan setengah bohong.“Jadi Anda bersedia mengeluarkan puluhan ribu koin emas hanya karena tertarik pada sejarah?”tanya Aruna skeptis.Russle tersenyum.“Sauda

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Kenapa Bukan Vordi?

    Russle menyandarkan tubuhnya ke kursi.Senyum tipis muncul di wajahnya."Bagus."Ia melirik ke arah panggung.Para pelayan mulai mempersiapkan pelelangan.Beberapa lukisan pertama sudah siap dibawa keluar.Tanda acara akan segera dimulai.Namun Russle sama sekali tidak tertarik pada lukisan-lukisan itu.Ia sedang menunggu.Menunggu momen yang tepat.Karena ada satu hal yang ingin ia lakukan hari ini.Dan jika perkiraannya benar...Lady Evelyne Ardent akan membutuhkan sedikit bantuan saat lukisan wanita peramal itu akhirnya naik ke atas panggung.Di sisi lain aula, Rowan yang masih mengawasinya dari jauh langsung mengernyit."..."Entah kenapa.Melihat Russle duduk tepat di belakang Aruna justru membuat firasat buruknya semakin kuat.Sangat kuat.Dan berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun...Setiap kali Russle terlihat setenang itu, biasanya seseorang akan segera dibuat pusing olehnya.---Pelelangan akhirnya dimulai.Satu per satu lukisan dibawa ke atas panggung.Sebagian bes

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Penyamaran yang Hampir Sempurna

    Setidaknya itulah kesimpulan yang berhasil Aruna tarik dari catatan yang belum sempat dihapus Russle."Kalau begitu..."Aruna mulai berpikir.Jika Vordi benar-benar ada.Mengapa tidak pernah ada catatan resmi tentang dirinya?Mengapa tidak ada bangsawan yang pernah menyebut namanya?Mengapa seluruh kerajaan hanya mengenal Rowan Blackwood?Dan yang paling aneh—Kalau Vordi memang pewaris sebenarnya, mengapa Rowan yang menjadi Duke Blackwood sekarang?Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.“Lady?”Cedric kembali memanggilnya.“Kau terlihat melamun sejak tadi.”Aruna langsung tersadar.“Maaf.”“Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”Aruna menggeleng cepat.“Tidak.”Itu bohong.Dan Cedric cukup peka untuk menyadarinya.Namun ia tidak memaksa.Sebaliknya, ia mengikuti arah pandangan Aruna.Sayangnya, ia tidak melihat apa pun selain para bangsawan yang sedang berbincang santai sebelum pelelangan dimulai.Sementara itu, jauh di sisi lain aula, Rowan sedang mengabaikan ocehan Ru

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Nama yang Seharusnya Disegel

    Russle yang melihat mereka dari kejauhan akhirnya turun dari balkon.Ia berjalan santai menghampiri Rowan yang berdiri tidak jauh dari area pelelangan.“Eddy, kau tidak ikut bergabung dengan mereka?” tanyanya dengan nada usil.Rowan langsung menoleh.Ia sebenarnya masih kesal setiap kali Russle memanggilnya dengan nama itu.Namun kali ini justru sudut bibirnya terangkat tipis.Senyum balasan yang membuat Russle langsung merasa tidak enak.“Bukankah aku masih dalam penyamaran, Vordi?”Rowan sengaja menekankan nama itu.Russle membeku."..."Untuk sesaat ia menyesali seluruh pilihan hidupnya.Karena nama samaran yang sedang ia gunakan hari ini memang Vordi.Dan Rowan jelas sedang mengejeknya.“Diam.”“Kenapa?”“Diam saja.”“Bukankah kau yang memulai?”“Rowan.”“Vordi.”“Rowan.”“Vordi.”---Di saat yang sama, Aruna yang sedang duduk bersama Cedric dan Kael tanpa sengaja mendengar nama itu.Vordi.Tangannya yang semula berada di atas pangkuan langsung menegang.Ia segera menoleh ke arah

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Satu Kursi, Tiga Tatapan

    Gedung pelelangan milik keluarga Count Valencio jauh lebih megah daripada yang Aruna bayangkan.Langit-langitnya tinggi.Lampu kristal menggantung di berbagai sudut ruangan.Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke panggung utama.Di sepanjang dinding, berbagai lukisan yang akan dilelang hari itu dipajang untuk dilihat para tamu.Para bangsawan, saudagar kaya, dan kolektor seni memenuhi hampir seluruh ruangan.Di bagian depan, seorang pria paruh baya dengan pakaian bangsawan yang rapi sedang berbincang dengan beberapa tamu penting.Count Valencio.Pemilik tempat pelelangan sekaligus penyelenggara acara hari itu.Tak lama kemudian beliau naik ke atas panggung kecil.“Selamat datang.”Suaranya menggema ke seluruh aula.“Saya berterima kasih kepada seluruh tamu yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri pelelangan karya seni hari ini.”Percakapan di ruangan perlahan mereda.Semua orang mulai memusatkan perhatian.“Seperti biasa, seluruh karya yang dipajang telah melalui pr

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status