Masuk"Buka kuncinya dengan bunga yang kelopaknya sama seperti itu. Cari di sini. Cepat."Suara Rualyn terdengar samar di dalam kepala Aruna.Aruna langsung menoleh kepada Russle."Russle, kita membutuhkan bunga. Kelopaknya harus sama persis dengan lambang di pintu itu."Russle tidak banyak bertanya."Di mana?""Aku tidak tahu. Tapi Rualyn bilang ada di sekitar sini."Russle langsung mengamati sekeliling.Ia berjalan melewati akar-akar besar, menyibak semak-semak, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sesuatu yang menjulang tinggi di antara pepohonan."Di sana."Sebuah pohon raksasa berdiri di tengah hutan. Batangnya begitu besar hingga mungkin diperlukan beberapa orang untuk mengelilinginya.Di antara dahannya tumbuh bunga-bunga aneh.Kelopaknya berjumlah tujuh, persis seperti lambang pada pintu.Russle mendekat.Beberapa bunga masih mekar, sementara satu bunga yang tampak paling sempurna telah jatuh di tanah.Ia mengambilnya dengan hati-hati."Yang ini?"Aruna mengangguk setelah mempe
Pedang itu menjawab,"Karena menara itu memang tidak memiliki pintu."Russle menatap menara hitam yang berdiri jauh di hadapan mereka."Kalau begitu, bagaimana cara masuk?"Pedang itu terdiam beberapa saat.Kemudian menjawab dengan suara pelan."Carilah pintu yang tidak bisa dilihat oleh mata."Russle menoleh kepada Aruna."Sepertinya pencarian kita baru dimulai.""Oh iya, aku lupa satu hal."Russle tiba-tiba berhenti.Aruna menoleh bingung."Apa?"Russle mengangkat satu tangan ke arah Aruna."Tunggu sebentar."Sihir tipis berputar di sekitar tubuh Aruna. Perlahan, rambut pirang Evelyne berubah menjadi hitam pekat. Warna mata biru mudanya pun ikut berubah menjadi cokelat seperti kastanye.Aruna langsung menyentuh rambutnya."Rambutku...""Lebih aman begitu," jawab Russle. "Kalau ada orang dari Blackwood atau Holy Order yang mengenal Lady Evelyne, penyamaran kita langsung terbongkar."Aruna menatap Russle dari atas sampai bawah."Kalau kau?"Russle menunjuk rambutnya sendiri."Aku suda
"Apa yang dia katakan?" Russle langsung bertanya penasaran.Padahal sejak tadi ia sudah memperingatkan pedang pusaka itu agar tidak berbicara kepada Aruna sembarangan. Namun pedang itu rupanya sama sekali tidak peduli.Aruna menatap pedang tersebut beberapa saat, lalu mencoba mengingat suara yang tadi didengarnya."Begini..."Ia kemudian menirukan nada suara pedang itu, lembut tetapi terdengar gagah dan tua."Tutup matamu, lalu bayangkan..."Aruna perlahan memejamkan mata."...sebuah tempat yang tidak mengenal matahari, tetapi tidak pernah benar-benar gelap."Russle terdiam."Bayangkan tanah yang dipenuhi akar-akar pohon berwarna keperakan, menjalar seperti urat di bawah permukaan bumi. Di atasnya mengalir sungai yang airnya sebening kaca, tetapi di dalamnya mengalir cahaya biru seperti ribuan bintang."Aruna menggerakkan tangannya perlahan, seolah sedang menggambarkan sesuatu yang hanya dapat dilihatnya."Di ujung sungai itu ada sebuah menara hitam yang tidak memiliki pintu. Tidak ad
Russle langsung menutup mulut Aruna dengan telapak tangannya."Ssst!"Aruna membelalak, tetapi Russle segera menariknya pergi sebelum ada pengawal yang melihat. Mereka menyusuri lorong yang sepi hingga akhirnya tiba di bagian bawah kastel.Russle membuka sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik dinding batu."Masuk."Aruna menurutinya.Begitu keduanya berada di dalam, Russle segera menutup pintu dan menguncinya dengan sihir.Suasana menjadi hening.Aruna menatapnya dengan penuh kebingungan."Tuan Duke, sebenarnya—""Jangan panggil aku begitu."Russle kemudian menarik sesuatu dari balik pakaiannya.Sebuah buku tua.Buku yang sampulnya sudah sedikit kusam, tetapi Aruna langsung mengenalinya.Buku yang selama ini mereka gunakan untuk saling mengirim pesan melalui sihir.Aruna perlahan mendekat."Jangan-jangan..."Russle membuka buku itu dan menunjukkannya kepada Aruna."Aku ingin kau melihatnya sendiri."Ia membalik beberapa halaman.Di sana terdapat tulisan-tulisan yang selama ini A
Rowan dan Elandor saling memandang.Mereka tidak mendengar apa pun.Pedang itu kembali berbicara hanya kepada Russle."Dan sekarang kau kembali setelah sekian lama."Russle menggenggam gagangnya."Kenapa aku?""Karena kau tidak pernah benar-benar meninggalkan darahmu."Russle terdiam.Lalu ia menarik pedang itu.Tidak ada perlawanan.Srak!Pedang putih tulang itu terlepas dari altar dengan begitu mudahnya, seolah sejak awal memang menunggu tangannya.Cahaya putih memenuhi ruangan.Rowan sampai harus memicingkan mata.Elandor tersenyum lebar."Jadi benar..."Russle menatap pedang di tangannya.Pedang itu terasa ringan.Terlalu ringan.Seolah beratnya memang hanya berlaku bagi orang yang bukan pemiliknya.Kemudian suara itu kembali terdengar."Sudah waktunya, keturunanku."Russle menelan ludah."Apa maksudmu?"Pedang itu tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lebih serius."Vesper masih hidup."Russle membeku.Matanya perlahan menyipit.Dan untuk pertama ka
Elandor membawa mereka menaiki tangga batu yang berada di ujung taman.Anak tangganya sudah tua, sebagian bahkan hampir tidak terlihat karena tertutup lumut hijau yang tebal. Setiap kali diinjak, permukaannya terasa licin.Russle baru menaiki beberapa anak tangga ketika kakinya hampir tergelincir."Whoa—"Ia buru-buru berpegangan pada dinding.Rowan yang berada beberapa langkah di depannya juga hampir kehilangan keseimbangan ketika menginjak salah satu anak tangga."Astaga..."Elandor hanya terus berjalan seolah tangga licin itu bukan masalah baginya.Russle kemudian menoleh kepada Rowan."Rowan, berikan tanganmu."Rowan mengangkat alis."Untuk apa?""Mari berpegangan. Biar tidak jatuh."Rowan tampak enggan, tetapi akhirnya mengulurkan tangannya.Russle menggenggamnya erat.Mereka melanjutkan perjalanan bersama.Beberapa anak tangga kemudian, Russle melirik wajah Rowan yang sejak tadi terlihat masam."Kau marah karena aku lolos dua kali?"Rowan langsung menoleh."Tidak.""Terus kenapa
Tiga hari sejak pesta, Aruna belum keluar dari kamar.Bukan karena malas. Tapi karena ia sedang sibuk mengamati.Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, ia memperhatikan ritme kehidupan kediaman Ardent. Para pelayan lalu-lalang dengan tugas masing-masing. Kepala dapur berteria
Pesta Musim Semi berlangsung hingga larut malam, tapi Aruna sudah muak dengan kebangsawanan setelah dua jam pertama.Ia menghabiskan sisa waktu dengan berdiri di dekat meja makanan—bukan karena lapar, tapi karena di sanalah tempat paling aman. Para bangsawan sibuk bergosip dan saling menjilat, tida
Aruna butuh waktu lima menit penuh untuk berhenti menatap bayangannya sendiri di cermin.Bukan karena ia terpesona—meski harus diakui, wanita di cermin ini cantik luar biasa. Tapi karena otaknya masih sibuk mencerna fakta bahwa ia baru saja kehilangan lima persen gaji di dunia lama dan mendapatkan
"Lady Evelyne... Duchess Marianne memerintahkan Anda segera bersiap."Suara itu lembut. Terlalu lembut. Seperti kapas yang diusapkan ke telinga.Aruna membuka mata. Dan dunia yang ia kenal lenyap. Bukan lampu neon kantor. Bukan meja kerja dengan tumpukan berkas. Bukan kursi ergonomis yang sudah buny







