“Edward, main dulu di luar, ya. Adiknya butuh istirahat,” pinta Aruna lembut.Edward mengangguk patuh. “Baik, Ibunda!”Ia pun keluar bersama pengasuhnya, meninggalkan Aruna, Kael, dan bayi kecil mereka di dalam kamar.Aruna kemudian menatap bayi yang sedang tertidur dalam pelukannya.“Bagaimana kita menamainya, ya?”Kael duduk di sampingnya.Aruna berpikir sejenak.“Bagaimana kalau Kenric?”Kael memperhatikan wajah mungil putra mereka, lalu mengangguk.“Kenric. Aku suka.”Aruna tersenyum puas. “Kalau begitu, namanya Kenric.”Kael kemudian menatap istrinya. Melihat wajah Aruna yang masih terlihat lelah, ia tiba-tiba mengecup keningnya dengan lembut.“Maaf, Sayang...” ucapnya pelan. “Ini sakit, kan?”Aruna menggeleng.“Memang sakit,” jawabnya jujur. “Bahkan rasanya lebih sakit daripada waktu melahirkan Edward.”Kael terdiam, merasa bersalah.Namun Aruna kemudian tersenyum sambil memandangi bayi mereka.“Tapi melihat wajah Kenric setampan ini...” Ia mengusap pipi mungil putranya. “Aku ja
اقرأ المزيد