Dari jendela jet pribadinya, Arka Rajendra Mahardika memandangi pendar itu tanpa ekspresi. Api di luar sana terasa cocok dengan bara di dalam dadanya.Gelas whisky di tangannya sudah hampir kosong. Ia memutar cairan itu pelan, gerakannya tenang. Di monitor kecil di depannya, terlihat wajah seorang pria yang terekam dari kamera pengintai terminal kedatangan Soekarno-Hatta. Lelaki itu baru saja menelpon seseorang, wajahnya tegang, matanya gelisah.“Dia sudah turun, Tuan,” lapor Leon lewat earpiece. “Sepertinya dia akan ke pusat kota. Kita punya dua mobil bayangan mengikuti di belakang.”Arka tidak menoleh. Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi. “Pastikan jangan sampai dia sadar sedang diikuti. Belum sekarang waktunya dia mati.”Leon menelan ludah. “Baik, Tuan.”Arka menutup matanya, kepala bersandar di kursi. Wajah Naura muncul di pikirannya — cara gadis itu menatapnya dengan api di mata, gemetar tapi tak pernah benar-benar takut. Ia mendesah pelan. “Kamu benar-benar racunku, Naura.” bisik
最終更新日 : 2026-04-18 続きを読む