تسجيل الدخولLima tahun telah berlalu sejak badai besar melanda Alderaan. Kini, kerajaan itu tidak lagi dikenal sebagai tanah penuh darah dan tirani, melainkan sebagai surga yang makmur di bawah kepemimpinan Sang Singa. Namun, di balik kemegahan aula istana dan kebijakan-kebijakan hebat yang lahir setiap harinya, ada satu tempat di mana waktu seolah berhenti—kamar utama sang raja yang terletak di menara tertinggi, menghadap langsung ke arah bulan perak.Malam itu, hening menyelimuti istana, kecuali suara gesekan dedaunan dari pohon *Ginkgo* yang kini tumbuh semakin rimbun di bawah sana. Di dalam kamar yang luas, cahaya lilin menari-nari di dinding, memantulkan bayangan dua insan yang sedang terjerat dalam gairah yang begitu intim.Pintu kayu jati yang tebal telah terkunci rapat, memisahkan dunia luar dari privasi yang suci. Udara di dalam kamar terasa hangat, dipenuhi oleh aroma kayu cendana dan wangi tubuh Satta yang memabukkan.Allard berdiri di belakang istrinya, tangannya yang besar dan kuat m
Angin pagi yang membawa aroma pinus dari pegunungan Alderaan menyapu balkon istana, tempat Jhonatan berdiri mematung. Dari posisinya, ia bisa melihat Allard dan Satta. Pasangan itu tampak seperti lukisan yang sempurna di bawah sinar matahari yang baru saja merekah; Allard dengan segala ketangguhan yang kini melunak saat menyentuh jemari istrinya, dan Satta yang tersenyum—sebuah senyum tulus yang selama berbulan-bulan hilang ditelan ketakutan.Dada Jhonatan terasa seperti dihantam palu godam yang tak terlihat. Sesak, panas, dan menyakitkan.Ia ingat setiap inci perjalanan mereka. Ia ingat bagaimana ia berdiri di depan tetuah desa, mengingkrarkan janji suci di Valeria, mengucapkan janji yang seharusnya hanya diucapkan oleh seorang suami, semata-mata demi melindungi Satta dan Abraham dari kejaran tentara Zehewa. Saat itu, ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah akting, sebuah tameng hukum agar mereka tidak disentuh. Namun, di bawah langit malam Valeria yang sunyi, ketika ia menjaga tidu
Langkah kaki Allard menggema di koridor batu yang lembap, sebuah irama yang berat dan pasti, menandakan berakhirnya sebuah era tirani yang singkat namun berdarah. Di belakangnya, jeritan histeris Zehewa perlahan memudar, tertelan oleh keheningan Sektor Hitam yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri untuk membungkam para pendosa.Udara malam yang menyentuh wajah Allard terasa berbeda—tidak lagi membawa bau anyir darah atau belerang dari amarahnya yang meluap, melainkan aroma tanah basah dan kebebasan yang getir.Di ujung tangga menuju permukaan, Allard berhenti sejenak. Tubuhnya yang besar, yang baru saja menjadi wadah bagi kekuatan kuno rubah sembilan ekor, kini terasa luar biasa lelah. Sendi-sendinya berdenyut, dan zirah peraknya yang kini tergores serta menghitam menunjukkan betapa brutalnya benturan fisik dan batin yang baru saja ia lalui.Jhonatan berdiri di samping kereta kuda yang dikelilingi oleh segelintir prajurit setia yang tersisa. Saat melihat Allard muncul dari kegelapan p
Udara di dalam Sektor Hitam mendadak berubah menjadi panas, seolah-olah oksigen telah habis terbakar oleh kemurkaan yang terpancar dari tubuh Allard. Zehewa, yang kini tersudut di lantai batu yang dingin, merangkak mundur dengan napas yang memburu. Mahkota yang ia curi dari Helena miring, hampir jatuh, mencerminkan martabatnya yang mulai runtuh."Kau pikir kau bisa menakutiku dengan trik sihir murahan ini, Allard?" Zehewa berteriak, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi detak jantungnya yang berpacu liar. "Kau hanyalah seekor binatang yang dipaksa memakai zirah!"Zehewa tiba-tiba merogoh balik jubah ungunya dan mengeluarkan sebuah belati dengan bilah berwarna hitam pekat, senjata yang telah direndam dalam racun saraf yang paling mematikan di seluruh benua. Dengan gerakan tak terduga, ia menerjang maju. Dia bukan sekadar putri manja; selama bertahun-tahun ia berlatih dalam bayang-bayang, mengasah kecepatan demi hari ini.Sret!Bilah belati itu menyayat udara, nyaris menyentuh le
Langkah kuda mereka melambat saat bayangan tembok raksasa Alderaan mulai menjulang, menelan cahaya rembulan dalam keangkuhannya. Kota itu tampak tenang di permukaan, namun udara di sekitarnya terasa berat oleh aroma pengkhianatan. Allard dan Jhonatan tidak datang sebagai tamu; mereka datang sebagai hantu yang menuntut tumbal."Penjagaan di gerbang utama sangat ketat, Allard. Zehewa tampaknya melipatgandakan pasukan," bisik Jhonatan sembari mengintai dari balik rimbun semak terakhir di perbatasan kota.Allard turun dari kudanya. Mata crimson nya berkilat, menembus kegelapan malam. "Biarkan mereka berjaga di sana. Aku tidak akan membuang tenaga untuk pion-pion itu sebelum aku memastikan Ibunda selamat. Kita akan menggunakan jalur tikus di sisi barat tembok—lorong yang dulu sering kugunakan saat menyelinap keluar istana sewaktu kecil."Dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari manusia biasa, Allard memanjat tembok curam itu, diikuti oleh Jhonatan yang bergerak bagaikan bayangan. Di dalam
Perjalanan menuju pinggiran hutan Valeria terasa lebih singkat di bawah pimpinan Allard yang baru. Keheningan yang menyelimuti mereka bukan lagi keheningan ketakutan, melainkan kesunyian sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Di sebuah pemukiman terpencil yang tersembunyi di balik barisan pohon raksasa, mereka tiba di sebuah pondok kayu kokoh milik seorang lelaki tua bernama Silas—mantan perwira setia ayah Allard yang telah lama mengasingkan diri."Silas," suara Allard menggema, tenang namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.Lelaki tua itu muncul dari balik pintu, matanya yang rabun menyipit, lalu terbelalak melihat sosok di depannya. Ia segera berlutut, menyentuh tanah. "Baginda... rumor mengatakan Anda telah...""Rumor itu benar, Silas. Allard yang kau kenal telah mati di gubuk Valeria," Allard memberi isyarat agar Silas berdiri. "Aku menitipkan harta paling berhargaku padamu. Jaga Elena dan putraku, Abraham. Jika sehelai rambut mereka jatuh karena kelalaian, tidak akan
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters







