ログインDendam yang mengalir dalam darah Zehewa telah mencapai puncak. Gadis yang belumnya dino atkan sebagai putri mahkota itu saat ini seakan tersingkir—semua bermula dari tewasnya sang ibu—Viona di tangan Allard. “Jika aku tidak bisa duduk di atas singgah sana yang seharusnya, jangan pernah bermimpi hidupmu akan baik-baik saja, Allard. Aku bersumpah demi dendam ibuku, aku akan menebas lehermu sendiri.” Gadis itu mengepal erat di dalam kamarnya. Wajahnya pasi, gemeletuk giginya terdengar sedikit memekakkan telinga. Sepeninggal Viona, Zehewa telah mengatur strategi untuk membuat tahta sang kakak tirimya hancur. Namun, siapa sangka, segala apa yang diatur sedemikian rupa, rupanya telah sampai di telinga Allard. “Ibu harap kau tidak bersikap terlalu kasar padanya. Karena bagaimana pun juga, dia masih adikmu, Allard.” Permaisuri Helena mendatangi Allard di ruang perpustakaan. “Tapi, ibu … karena Viona, ibu hampir tidak menghirup udara segar!”“Tapi dia sudah kau bunuh, Nak. Apa lagi yang in
Sinar lilin yang tersisa di ruangan itu kini hanya tinggal sumbu yang meredup, menyisakan keremangan yang menyesakkan. Allard masih memeluk Satta, namun kehangatan yang baru saja mereka bagi perlahan menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari balik celah pintu. Pikirannya, yang sejenak lumpuh oleh gairah, kini kembali berputar—tajam dan waspada.Allard melepaskan pelukannya perlahan, meraih jubah beludrunya yang tersampir di lantai untuk menutupi bahu Satta yang masih polos. Matanya menatap tumpukan perkamen yang berserakan di lantai, lalu beralih ke pintu kayu jati yang masih terkunci rapat."Ada apa?" bisik Satta, merasakan perubahan mendadak pada ketegangan otot suaminya. "Kau tampak seolah... baru saja melihat bayangan di sudut ruangan."Allard terdiam sejenak, jemarinya mengusap dagunya yang kasar. "Zehewa. Dia tidak ada di jamuan makan malam tadi."Satta mengerutkan kening, merapatkan jubah Allard ke tubuhnya. "Adik tirimu itu memang sering mengurung diri, Allard. Ka
Cahaya lilin di ruang baca pribadi Allard menari-nari di dinding yang dipenuhi deretan buku tua bersampul kulit. Ruangan itu biasanya berbau debu sejarah dan tinta kering, namun malam ini, aroma melati yang melekat pada kulit Satta mendominasi udara, memicu sesuatu yang liar di dalam dada Allard yang selama ini tertahan oleh beban mahkota.Allard menutup pintu kayu jati itu dengan satu tendangan tumitnya, menguncinya rapat. Ia tidak peduli jika ada pelayan yang lewat di koridor. Saat ini, hanya ada dia, Satta, dan kabut gairah yang lebih pekat daripada racun mana pun yang mengalir di nadinya."Allard..." desis Satta saat punggungnya didorong lembut hingga bersandar pada meja ek besar di tengah ruangan. Tangan Allard merambat naik, menangkup wajah Satta dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat. "Ibu benar, Elena. Aku terlalu sibuk membiarkan urusan kerajaan mencuri waktuku darimu. Malam ini, tidak akan ada menteri, tidak ada rakyat, tidak ada musuh. Hanya ada kau."Jem
Langkah kaki itu tidak terdengar. Sepatu bot dari kulit rusa yang ia kenakan dirancang khusus untuk meredam suara di atas lantai marmer istana Alderaan. Di balik tudung jubahnya yang berwarna kelabu senada dengan dinding batu, wanita itu tampak seperti bagian dari bayangan yang bergerak mengikuti hembusan angin malam.Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu yang diukir dengan lambang singa bersayap. Tangannya yang ramping dan pucat menyentuh permukaan kayu itu dengan penuh kebencian, seolah sentuhannya bisa membakar seluruh isi ruangan di baliknya. Di dalam sana, Allard dan permaisurinya mungkin sedang terlelap dalam mimpi indah, tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, ada sepasang mata yang berkilat dengan kegelapan yang tak terukur."Mimpilah selagi bisa," bisiknya. Suaranya halus, namun mengandung ketajaman yang bisa mengiris kesunyian. "Karena setiap mimpi indah yang kau rajut hari ini, akan menjadi bahan bakar bagi api yang sedang kusiapkan."Wanita itu kembali menyelinap, menur
Semburat fajar pertama menyelinap melalui celah gorden sutra, membawa warna keemasan yang lembut ke dalam kamar utama istana Alderaan. Cahaya itu menerpa wajah Satta, membangunkannya dari tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan dalam bertahun-tahun. Ia mengerjap, merasakan beban hangat di pinggangnya—lengan kokoh Allard yang masih memeluknya protektif, bahkan dalam tidur.Satta tidak segera beranjak. Ia memilih untuk berbaring miring, memandangi wajah suaminya dalam jarak sedekat ini. Tanpa mahkota dan tanpa tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan pada para jenderal, Allard terlihat jauh lebih muda, hampir rentan. Ada ketenangan yang murni di garis wajahnya yang tegas. Satta mengulurkan jemarinya, dengan sangat hati-hati membelai ujung rambut Allard yang jatuh di keningnya."Kau sudah bangun, Permaisuriku?" suara Allard terdengar berat dan serak karena baru bangun tidur, namun penuh dengan kehangatan yang membuat jantung Satta berdesir.Satta tersipu, menarik tangannya, namun Allard
Malam telah larut di Kekaisaran Alderaan, namun kehangatan di kamar utama istana baru saja dimulai. Pesta pernikahan yang megah selama tujuh hari tujuh malam memang melelahkan, namun bagi Allard, setiap detik yang ia habiskan di singgasana tadi hanyalah mukadimah panjang menuju momen ini. Momen di mana protokol kerajaan luruh, mahkota ditanggalkan, dan hanya ada dua jiwa yang saling merindu di balik pintu kayu ek yang tertutup rapat.Cahaya lilin aromatik menari-nari di dinding, membiaskan bayangan yang lembut di atas ranjang berkelambu sutra putih. Allard berdiri di dekat jendela, membiarkan angin malam menyentuh dadanya yang bidang di balik jubah linen yang kancingnya telah terbuka separuh. Ia menoleh saat mendengar langkah kaki halus Satta—yang kini telah bergelar sebagai Sang Permaisuri—mendekat.Satta tampak luar biasa. Gaun tidurnya terbuat dari sutra tipis berwarna krem yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang biasa diikat rapi kini tergerai bebas, menutu
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p







