Share

BAB 31

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-04-07 20:04:02
“Aku memiliki kecurigaan, jika ibumu masih hidup.” Suara Satta mendengung di telinga Allard. Pria itu tengah memanggang rusa hasil buruannya sore tadi.

Pria itu menoleh, menuatkan kedua alisnya dan kemudian bersuara. “Apa maksudmu?”

“Aku sempat melihat Kaisar berjalan tengah malam ke dalam sebuah ruangan yang bahkan sebagian besar penghuni istana tidak akan pernah menyangka jika di dalam ruangan itu terdapat sebuah lorong menuju ruang bawah tanah.”

Seketika hati Allard berdesir. “Kau tida
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
duhhh,,, semoga rencana ini berhasil
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.. huft . allard gak peka ishh
goodnovel comment avatar
Marimar
Lahhh Allard pertanyaan nya aneh ya alesannya karena Elena cinta lah ama kamu gimana sih Allard
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 105

    Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 104

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   Bab 103

    Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 102

    Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 101

    Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 100

    Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status