LOGINSelepas jam istirahat dan makan siang, Sri kembali ke rutinitasnya. Menyusun notulen, mengirimkan keputusan rapat, menghubungi kepala divisi, dan menyusun agenda kunjungan proyek. Di dalam ruangan, pak Hendra baru menyerahkan setumpuk berkas. “Tuan, laporan-laporan ini sudah disusun berdasarkan prioritas,” ujarnya sambil membagi dua berkas itu. Sagara melirik berkas itu sekilas dan mengangguk. “Kalau ada berkas yang sudah diperiksa Sri, langsung kirim saja.” Pak Hendra tertegun sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk. “Baik, Tuan.” Meski Sri masih baru, dia melihat bagaimana Sri bekerja dan gadis itu memang layak untuk dipercaya. Keluar dari ruangan Sagara, pak Hendra berdiri sejenak di samping meja Sri, membuat gadis itu mendongak. “Kebetulan, Pak Hendra … ada berkas yang harus Anda periksa sebelum dikirim ke pak Sagara,” ujar Sri sambil berdiri. “Ah, nggak usah. Kamu langsung kirim saja pada tuan. Sangat jarang tuan Sagara bisa percaya dengan orang. Kinerjamu juga bagus, Sri.
Kesibukan di lantai teratas gedung utama Astera sudah dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.Pagi itu, atmosfer kerja terasa lebih tegang daripada biasanya. Ada rapat besar yang melibatkan jajaran direksi serta mitra strategis perusahaan. Namun bagi Sri, ketegangan bukanlah alasan untuk kehilangan kendali. Ia justru bergerak dengan ketenangan seorang profesional yang terlatih.Sejak pukul tujuh pagi, jemari Sri sudah menari di atas papan ketik, melakukan pemeriksaan terakhir pada berkas presentasi yang akan ditampilkan di layar utama.Mengenakan kemeja kerja berwarna putih bersih yang dipadukan dengan rok span hitam formal, penampilannya memancarkan aura kompeten. Setelah memastikan tidak ada salah ketik pada data finansial, ia beranjak dari kubikelnya untuk memeriksa ruang rapat utama.Sri melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berkapasitas dua puluh orang tersebut.Sri memastikan proyektor berfungsi dengan baik, mengatur tata letak mikrofon, dan me
Pukul 07.15 pagi, Sri Rejeki sudah duduk tegak di balik meja kubikelnya. Lantai tertinggi gedung PT Cakrawala Konstruksi Nusantara yang kini bernuansa monokromatik dingin itu masih sepi, namun bagi Sri, setiap menit sebelum jam kerja resmi dimulai adalah waktu krusial untuk menyusun benteng pertahanannya.Sebagai asisten eksekutif transisi, ia tidak memiliki kemewahan untuk membiarkan emosi pribadinya larut dalam perubahan masif yang dibawa oleh manajemen Astera Development Holdings.Selama tujuh tahun terakhir, Sri telah menempa dirinya untuk menjadi sosok yang efisien, tidak terlihat, sekaligus sangat diandalkan. Kini, di bawah kepemimpinan Direktur Utama yang baru, seluruh kapasitas profesionalitasnya diperas hingga batas maksimal.Tepat pukul 07.55 pagi, secangkir kopi yang mengepulkan aroma pekat dan map kerja berisi agenda harian sudah tertata rapi di atas meja kaca besar di dalam ruangan Direktur Utama. Sri mundur dua langkah, memeriksa kerapian meja sekali lagi untuk memastika
Seminggu setelah penandatanganan akuisisi itu berjalan seperti deru angin badai yang menyapu bersih ketenangan hidup Sri Rejeki.Setiap malam, ia selalu tidur dalam gelisah. Alam bawah sadarnya menolak bekerja sama. Di dalam tidurnya, bayangan Sagara Mahardika yang berdiri angkuh di ujung meja rapat terus hadir, bergantian dengan potongan-potongan memori tujuh tahun lalu yang selama ini terkunci rapat di dasar kepalanya.Setiap pagi, ia berkaca dan mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah kebetulan bisnis yang malang. Bahwa posisinya yang kecil tidak akan menarik perhatian seorang legenda hidup sekelas Sagara. Namun, realitas tidak pernah berbaik hati kepadanya.Pagi ini, lobi kantor PT Cakrawala Konstruksi Nusantara tidak lagi terasa seperti tempat yang familier.Aroma kopi dari pantri yang biasanya menenangkan kini tenggelam oleh aroma disinfektan dan wewangian mahal yang asing. Beberapa dekorasi ruangan telah diganti menjadi lebih minimalis, steril, dan kaku. Karpet-karpet
Malam telah larut ketika Sri akhirnya melangkah masuk ke dalam apartemen sederhananya. Begitu pintu tertutup dan terkunci dari dalam, keheningan ruangan langsung menyergapnya, membawa serta seluruh beban yang sejak siang tadi ia tahan dengan sekuat tenaga di depan publik.Sri menyandarkan punggungnya di balik pintu, perlahan merosot hingga terduduk di atas lantai yang dingin. Ia memeluk lututnya sendiri, membiarkan tas kerjanya tergeletak begitu saja di samping tubuhnya.Di dalam dadanya, perasaan Sri terasa begitu rumit, berantakan, dan saling tumpang tindih bak benang kusut yang mustahil untuk diurai.Selama tujuh tahun terakhir, ia telah membangun dinding pertahanan yang begitu kokoh. Telah menyembunyikan dirinya dalam bayangan sekaligus mencari tahu tentang kecelakaan itu secara diam-diam.Dia telah belajar mencintai nama Sri Rejeki—identitas yang diberikan oleh Bu Sulastri dan Pak Surya, yang kini sudah hidup tenang di sebuah desa kecil.Setiap kali mengingat Bu Sulastri, ha
Udara di dalam lift terasa sejuk, namun Sri justru merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia berdiri di samping Arman sambil memeluk map berisi dokumen akuisisi. Di hadapan mereka, angka digital di atas pintu lift terus bertambah. Lantai 18 … Lantai 21 … Lantai 25. Semakin tinggi lift bergerak, semakin aneh perasaan yang mengusik hatinya sejak pagi tadi. Entah mengapa, nalurinya terus berbisik bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. "Dengar, Sri." Suara Arman memecah lamunannya. Sri menoleh. "Ya, Pak?" "Setelah akuisisi selesai, kemungkinan besar akan ada beberapa perubahan struktur manajemen." Sri mengangguk. "Itu wajar." "Saya tidak tahu bagaimana keputusan pihak investor nantinya. Tapi kalau mereka menawarkan posisi yang lebih baik untukmu, jangan ragu menerimanya," kata Arman terlihat tenang. Sri tersenyum tipis. "Pak Arman sudah terlalu jauh memikirkan saya." "Bukan begitu." Arman tertawa kecil. "Saya hanya tidak ingin bakatmu terbuang sia-sia." S
Pagi di Kota S selalu dimulai dengan kesibukan yang nyaris tak pernah berhenti. Deretan kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, klakson saling bersahutan menjadi simfoni bising yang monoton, sementara matahari yang baru menanjak perlahan memantulkan cahaya ke dinding-dinding kaca gedung perkantoran.
Malam telah turun sepenuhnya di atas kota metropolitan yang tak pernah benar-benar tidur.Dari balik dinding kaca setinggi langit-langit di lantai tertinggi Gedung Mahardika Group, jutaan cahaya kota tampak berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Jalan raya dipenuhi aliran kendar
“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenu
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju







