Share

Bab 220

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-10-17 00:38:02

Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, aktivitas sehari-hariku belum sepenuhnya surut. Aku masih nekat bekerja di RS Medika Utama. Mas Bara sebenarnya tidak mau mengambil risiko sedikit pun dan bersikap jauh lebih protektif. Sesuai kesepakatan awal kami, begitu kehamilan masuk usia delapan bulan, aku seharusnya sudah istirahat dari seluruh kegiatan rumah sakit. Namun, dasar aku yang keras kepala, aku terus merajuk meminta kelonggaran hingga usia kehamilanku genap sembilan bulan.

Selama tiga bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 221 Selesai

    Suasana di lorong lantai tiga RS Medika Utama mendadak tegang. Mas Bara mendorong sendiri kursi roda yang kukenakan dengan hati-hati, didampingi dokter Diandra dan Hans yang berlari lebih dulu untuk membuka jalan. Keringat dingin membahasahi pelipis suamiku, raut wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan luar biasa.Perawat yang sudah bersiap di depan pintu bersalin segera membukakannya lebar-lebar."Napasnya diatur, Sil! Kita sudah sampai di kamar bersalin," seru dokter Diandra memberi instruksi tegas seraya bergerak cepat mengecek kesiapan peralatan."Pindah ke kasur ya, Sil..." ujar Dokter Diandra memandu.Mas Bara dengan sigap mengangkat tubuhku ke kasur bersalin dengan mudah."Mas... sakit sekali, Mas!" ringisku memegangi erat kemeja Mas Bara hingga kainnya kusut. Kontraksi yang makin rapat membuat seluruh persendianku bergetar hebat."Sabar ya, Sayang, Mas di sini. Pegang tangan Mas yang kuat," bisik Mas Bara dengan suara bergetar. Ia menggenggam erat jemariku, membi

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 220

    Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, aktivitas sehari-hariku belum sepenuhnya surut. Aku masih nekat bekerja di RS Medika Utama. Mas Bara sebenarnya tidak mau mengambil risiko sedikit pun dan bersikap jauh lebih protektif. Sesuai kesepakatan awal kami, begitu kehamilan masuk usia delapan bulan, aku seharusnya sudah istirahat dari seluruh kegiatan rumah sakit. Namun, dasar aku yang keras kepala, aku terus merajuk meminta kelonggaran hingga usia kehamilanku genap sembilan bulan.Selama tiga bulan belakangan ini, aku memang giat belajar kembali menjadi dokter yang utuh. Aku terjun dalam praktik penuh bersama dokter-dokter di RS Medika Utama. Aku ingin memahami seluruh seluk-beluk pekerjaan medis dari dokter yang kupimpin, bukan sekadar duduk di kursi direksi tanpa tahu dinamika lapangan. Ijazahku pun sudah berhasil diurus kembali, dan aku resmi mengantongi izin praktik. Aku punya impian besar untuk mengambil spesialisasi dokter anak kelak, walau tentu membutuhkan proses dan waktu yang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 219

    Kondisi fisik Mas Bara kini sudah jauh lebih bugar. Bekas luka operasi di dadanya tak lagi membatasi geraknya, dan stamina suamiku itu telah pulih hampir sempurna. Hanya bekas garis jahitan operasi yang tentu masih terlihat jelas jika ia membuka kemejanya. Ia tak lagi merasa minder dengan penampilan baru tubuhnya itu, terlebih setelah aku memujinya berkali-kali dan membiasakan diri menyapa dadanya dengan kecupan-kecupan hangat setiap kami bercinta. Pria itu tampak jauh lebih percaya diri saat hanya berdua denganku.Pagi itu, udara di sekitar pendopo utama Mansion Ananta terasa sejuk. Mas Bara berdiri tegak di tengah ruangan, meninjau langsung penataan dekorasi didampingi Hans, sekaligus memberikan arahan pengamanan utama saat prosesi berlangsung nanti.Pernikahan Dwi dan Yumna hari ini akan menjadi penutup manis seluruh kenangan di Mansion ini, sebelum bangunan megah tersebut benar-benar dilepas ke pembeli. Proses penataan tempat tinggal para selir pun sudah tuntas dipantau langsung o

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 218

    Sudah satu bulan berlalu sejak malam pengakuan di ruang tunggu rumah sakit itu. Dalam perhitungan hari, ini adalah hari ke-30 sejak dokter Diandra tiba-tiba memintaku menjadi kekasihnya.Meskipun kami sudah beberapa kali bertemu, lidahku yang kaku ini masih saja sering keliru memanggilnya. Di luar jam tugas, saat kami hanya berdua, aku masih kerap keceplosan memanggilnya "Dokter" alih-alih Diandra. Wanita itu tentu saja akan langsung mendengus kesal, meski setelah itu ia kembali tersenyum.Aku sendiri terkadang masih merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang pria kaku sepertiku, yang hidupnya hanya berputar di sekitar instruksi pengamanan dan pengawalan Tuan Sinyo, bisa memiliki kekasih secantik dan sehebat Diandra. Tuan dan Nyonya tentunya tidak mengetahui hubungan ini. Diandra ternyata sangat pintar menyimpan rahasia. Ia bisa bersikap begitu biasa saja saat bertemu Nyonya Silvia atau berbicara dengan Tuan Muda, padahal sesekali ia kerap mencuri pandang penuh arti ke arahku di

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 217

    Tugas utamaku sangat sederhana, namun menuntut kesetiaan, menjaga keselamatan Tuan Muda Sinyo dan Nyonya Silvia dalam situasi apa pun.Bagi seorang pria sepertiku yang besar dalam kedisiplinan tinggi, hidup ini berjalan dengan garis-garis instruksi yang sangat jelas. Selama Tuan Bara menjalani perawatan intensif pascaoperasi di ruang VVIP RS Medika Utama, seluruh fokus dan indra saya tercurah penuh pada lorong tempat beliau beristirahat. Baru ketika malam melarut sekitar pukul sepuluh, saat Nyonya Silvia sudah berada di dalam kamar dan pintu kayu tebal itu terkunci dari dalam, aku bisa menurunkan sedikit ketegangan di bahuku dan duduk di kursi ruang tunggu.Aku sengaja membuat shift pagi dan malam bergantian, agar ruangan rawat Tuan Muda selalu terjaga maksimal. Semenjak Nyonya mengambil alih, perhatianku pun beralih pada Nyonya Silvia. Wanita yang kunikahi atas perintah Tuan Muda Sinyo. Padahal aku tau, Tuan Muda sangat mencintainya.Aku menghormati Nyonya Silvia, pernikahan itu hany

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 216

    Gina terisak di kemeja Mas Bara. Mas Bara menoleh padaku, mataku sempat terbelalak melihat tingkah gadis remaja itu. Selama ini, Gina sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Mas Bara ataupun keluarga Paviliun Lavender. Sikap tertutup dan jarak yang membentang di antara kami selama ini meluruh begitu saja di momen perpisahan ini.“Kak...” disela isak tangisnya yang tertahan, Gina menatap suamiku. “Terima kasih...”Mas Bara memegang kedua bahu Gina, memberi jarak lembut di antara mereka. Pria itu kemudian sedikit berjongkok agar posisi pandangannya sejajar dengan mata adik tirinya.“Gina, Kakak yang terima kasih karena Gina selama ini sudah menjadi anak yang baik. Maafkan Kakak ya karena jarang bermain sama Gina,” ujar Mas Bara dengan nada suara yang begitu lembut.Aku tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Ada kepuasan dan haru tersendiri melihat bagaimana luka-luka lama di keluarga ini perlahan terobati secara alami di akhir masa tinggal kami di Mansion.Gina memeluk sang kakak

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status