Share

Bab 89

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-08-12 00:31:45

Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.

Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berpu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 89

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 88

    Akal sehatku sepenuhnya runtuh. Pria berkuasa yang menindihku ini bukanlah Tuan Muda Sinyo sang penguasa Ananta. Pria ini adalah suamiku. Mas Bara, pria sederhana yang kutinggalkan di Desa Mertangi demi kesombongan dan ketakutanku sendiri.“Ini benar-benar kamu, kan, Mas?” suaraku bergetar, dipenuhi rasa bersalah yang lama kupendam. Mataku mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku... Maaf atas kebodohanku selama ini. Aku sudah menyakitimu dan meninggalkanmu, tapi hatiku tidak pernah berpaling...”Aku menarik wajahnya mendekat, menyatukan napas kami yang berpacu kencang. Aku memberanikan diri mencium bibirnya lebih dulu. Ia sempat membeku sejenak sebelum akhirnya membalas ciumanku dengan menyapu rongga mulutku secara mendalam. Perasaan ini persis seperti saat kami bercinta dulu, gaya dominannya yang begitu akrab. Jika dulu aku sering berpura-pura menahannya, kini aku menyerahkan seluruh diriku dan menikmati setiap sentuhannya."Aku mencintaimu, Mas Bara... Sangat mencintaimu," tumpah seluruh pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 87

    Sensasi dingin dari besi pagar balkon menembus gaun tipisku saat Yudistira mengunci pergerakanku dari belakang. Bau alkohol menyengat bertiup dari napasnya yang terengah. Pandanganku yang kabur dan kepala yang berputar hebat membuat seluruh tenagaku kian menguap.“T-Tuan... lepas...” bisikku parau, berusaha mendorongnya dengan sisa kekuatan yang tersisa.“Kenapa? Tadi di lantai dansa kamu kelihatan menikmati, My lavender,” kekeh Yudistira rendah, memajukan wajahnya sembari menyusupkan jemari kasarnya ke wajahku. “Malam ini kamu milikku. Bunga lotere itu sudah memilihku.”“Lepas!” pekikku menahan mual, menepis tangannya meski gerakanku sudah menyimpang jauh karena pengaruh alkohol.Yudistira berdecak sebal, cengkeramannya di perutku makin mengetat kasar. Namun, sebelum wajahnya menyentuh kulit leherku, sebuah tangan tegap berbalut sarung tangan kulit hitam mendadak menyambar kerah jas Yudistira dari belakang dan menyentakkannya menjauh secara brutal.Brak!Yudistira tersungkur menghant

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 86

    Aula utama Mansion Ananta disulap menjadi ruang pesta yang megah. Lampu-lampu kristal memancarkan kilau keemasan, membalut riuh rendah para tamu VIP berbusana glamor. Demi menghormati Tuan Muda Sinyo yang konsisten menyembunyikan parasnya, Tuan Ananta menggelar pesta ini sebagai masquerade party yang penuh misteri.Aku datang belakangan karena sengaja, sejak awal juga aku enggan datang. Aku datang karena menghormati Ibu Diana. Aku mengenakan gaun malam berpotongan seksi warna hitam pekat, gaun dengan belahan dada sweetheart yang anggun dan bagian punggung terbuka, dipadukan dengan topeng ukir renda tipis dengan bulu hitam di area mata. Penampilanku benar-benar berubah total. Tanpa perhiasan mencolok, riasan tipis dan rambut yang kusanggul sederhana justru memancar begitu kontras di antara kerumunan wanita bergaun mewah.Begitu aku melangkah masuk ke aula, seorang penerima tamu memberikanku gelang dari bunga lavender yang cantik.Setiap pasang mata di aula menoleh, bisik-bisik kagum me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 85

    Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 84

    Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status