مشاركة

Bab 83

مؤلف: Lyla Veil
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 09:49:40

Hingga akhirnya, hari yang begitu dinantikan oleh Bu Diana pun tiba. Tuan Muda Sinyo resmi memindahkan seluruh barang dan kepentingannya, secara sah tinggal di lantai atas Paviliun Lavender. Namun, alih-alih tercipta interaksi yang hangat antara majikan dan pekerja, sebuah jembatan yang begitu dingin justru terbentang di antara kami.

Tuan Muda Sinyo bersikap sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu amat irit bicara, terutama jika situasi memaksanya untuk berhadapan langsung denganku. Ia mempert
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 85

    Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 84

    Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 83

    Hingga akhirnya, hari yang begitu dinantikan oleh Bu Diana pun tiba. Tuan Muda Sinyo resmi memindahkan seluruh barang dan kepentingannya, secara sah tinggal di lantai atas Paviliun Lavender. Namun, alih-alih tercipta interaksi yang hangat antara majikan dan pekerja, sebuah jembatan yang begitu dingin justru terbentang di antara kami.Tuan Muda Sinyo bersikap sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu amat irit bicara, terutama jika situasi memaksanya untuk berhadapan langsung denganku. Ia mempertahankan wibawa dan posisinya sebagai Tuan Muda yang tak tersentuh. Bila ada hal yang perlu disampaikan, ia lebih banyak membisu, memberi gestur tangan yang singkat, secarik kertas catatan atau hanya merespon menggunakan bahasa Inggris yang formal dan bernada perintah.Setiap kali kami tak sengaja berpapasan, atau saat aku mendapat tugas membawakan nampan berisi kopi hitam ke ruang kerjanya, aura dominan yang memancar dari balik kemeja hitam dan topengnya selalu berhasil membuatku menunduk. Langk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 82

    Sudah beberapa hari berlalu sejak malam yang menggegerkan di lantai atas itu, tetapi keberadaan Tuan Muda Sinyo kembali menjadi teka-teki yang menggantung di udara. Pria bertopeng itu seolah lenyap entah kemana, tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di area Paviliun Lavender. Setiap kali aku melintasi anak tangga menuju lantai atas untuk mengantar kelengkapan kamar atau sekadar membersihkan, ruangan itu selalu diliputi kesunyian yang menekan. Pintu kamar utama di ujung sana berdiri kokoh, tertutup rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Meski raga pria itu tak terlihat, sosok Sinyo seolah tak pernah benar-benar pergi dari paviliun ini. Namanya selalu bergema saban hari di ruang tamu, dibawa oleh Bu Diana yang wajahnya kian hari kian berseri-seri. Wanita tua yang tadinya murung dan sering terbaring lemas itu kini tampak memiliki rona kehidupan yang baru. Setiap kali aku mengurus kebutuhan harian beliau, Bu Diana selalu antusias dan berbunga-bunga membagikan kabar terbaru

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 81

    Denting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 80

    Tidak ada pergerakan seketika, tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara beratnya dari balik pintu rapat itu.“Back to your room, I need a rest. We talk tomorrow,” (Kembali ke kamarmu, saya butuh istirahat. Kita bicara besok) ujarnya dingin, mencoba mengusirku tanpa perlu bertatap muka.Namun, aku yang sudah terlanjur emosi dan bingung mulai merasa kesal karena ia terus mengabaikanku. Aku tidak beranjak secenti pun dari depan pintu.Mungkin menyadari keberadaanku yang tak kunjung pergi dan pijakan kakiku yang masih tertahan di luar, terdengar helaan napas panjang dari dalam. Gagang pintu berputar, dan pintu itu terbuka sedikit menampilkan sosoknya yang masih mengenakan topeng hitam, bersandar santai di ambang pintu.“You want to join with me to sleep?” (Apa kamu mau masuk ke kamarku, kita bisa tidur bersama?) godanya dengan nada suara yang sengaja dibikin tengil, menyadari aku masih berdiri kaku di sana.Mendengar gurauan tak sopan itu, alisku terangkat tajam. “Kamu siapa?!” tega

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status