Harapan Jeremy pupus, Naomi menolaknya. Wajah Jeremy seketika pucat pasi. Dia menyambar tangan wanita itu dengan kuat."Nggak boleh. Kamu harus ikut denganku! Daren bukan pria baik-baik! Dia akan mencelakaimu, semua yang kukatakan ini benar, bisnisnya di luar negeri itu sebenarnya ....""Cukup, Jeremy!"Naomi mengibaskan tangan pria itu. Di matanya terdapat kekecewaan, kemarahan, dan kecaman, sama sekali tidak ada cinta. Hal itu menghunjam jantung Jeremy dengan telak."Justru bersamamu yang akan membunuhku! Kamu memaksaku mendonorkan darah untuk Seria, kamu menghinaku dengan uang berkali-kali! Kamulah bajingan yang sebenarnya! Aku sudah susah payah pergi dari kamu, kenapa kamu masih mencariku?""Aku suka Daren, aku mencintainya! Dia beda dari kamu, dia nggak akan menyakitiku! Jeremy, kamu pikir semua orang sepertimu?"Naomi berteriak dengan napas tersengal, mengerahkan seluruh tenaganya. Matanya memerah, tetapi mata Jeremy jauh lebih merah karena air mata yang mulai mengalir."Apa kam
อ่านเพิ่มเติม