ログインPintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup
Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti
Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus
Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab
Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan
Kael dan Johan akhirnya naik di atas punggung kuda yang sama untuk menjaga tubuh sang Duke agar tidak jatuh terjerembab ke tanah. Johan duduk di bagian belakang, mencengkeram kendali dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan dada Kael yang terkulai lemas.Sementara itu, Emily naik di atas kuda lain tepat di belakang mereka, memegang obor minyak dengan jemari yang gemetar demi menerangi jalan setapak yang licin dan tertutup es tebal.Langkah kaki kuda-kuda militer itu terdengar berat, beradu dengan ranting-ranting beku yang patah di sepanjang jalan.Sepanjang perjalanan menembus hutan malam yang beku, keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam. Johan, yang menahan perih di pundaknya akibat luka panah, melirik kepala Kael yang bersandar lemah di dekat bahunya.Johan yang memegang kendali kuda akhirnya memecah kesunyian, berkata dengan nada menyindir yang tajam pada Kael, "Hei, Duke. Kau seharusnya berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Emily. Kau dengar aku, Ravens
Emily yang mulai lelah setelah pencarian yang belum menemukan hasil. Ia membolak-balik lembar demi lembar perkamen tebal dengan jemari yang terasa kaku.Setiap dokumen audit tambang, setiap kuitansi pengapalan batubara, hingga rincian pajak wilayah tahun 1900-an itu disusun dengan presisi yang meng
Langkah kaki di tangga kayu itu semakin dekat, menciptakan derit yang seolah menghitung sisa waktu hidup mereka. Emily mencengkeram lengan baju Lucian, matanya terpaku pada bayangan yang perlahan turun ke ruang arsip.Namun, alih-alih sosok pengawal Kael dengan baju zirah gemerincing, yang muncul a
Gedung Bea Cukai Lama itu berdiri seperti raksasa yang sekarat di ujung dermaga. Pilar-pilar batunya yang bergaya kolonial telah menghitam akibat polusi jelaga dan kelembapan laut selama puluhan tahun.Suasana di sana sunyi, hanya deru angin laut yang membawa bau amis dan kayu busuk. Emily turun da
Suara denting baja yang beradu dengan logam memenuhi lorong sempit itu saat bayangan pertama menerjang dari kegelapan. Kael tidak menghindar.Dengan satu gerakan fluid yang sangat cepat, ia memutar tubuhnya, membiarkan bilah pedang lawan lewat hanya beberapa sentimeter dari dadanya, lalu menghunjam







