“Saya ... saya baru kembali dari dapur, Tuan Duke,” jawab Emily cepat sambil menunduk.Kael melangkah keluar, mendekati Emily hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Emily dengan intensitas yang mencekik.Emily bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, takut jika Kael bisa membaca pikirannya tentang kotak kayu itu.Kael mengulurkan tangannya, bukan untuk mencekik, melainkan untuk menyentuh perban di tangan Emily dengan ujung jarinya yang kasar.“Lucian merawatmu dengan baik,” gumam Kael, lalu matanya menatap perban itu, dan perlahan naik menatap mata Emily.“Pastikan tangan itu cepat sembuh. Karena besok pagi, kau harus ikut denganku berburu.”Emily terbelalak. “Be-besok pagi, Tuan?” tanya Emily memastikan pendengarannya masih baik.“Ya. Kembali ke kamarmu, karena besok pagi sebelum matahari terbit, kau harus sudah siap dengan kudamu!”Kael melangkahkan kakinya meninggalkan Emily yang masih mematung kaku di lorong kastil tersebut sam
Last Updated : 2026-04-13 Read more