首頁 / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 165 JENDELA RESTU

分享

BAB 165 JENDELA RESTU

last update publish date: 2026-06-14 07:00:17

Selama dua minggu berlalu, aku dan Nikolai menikmati waktu bersama meski dengan hati yang lara.

Kenyataan bahwa Ayah dan Bibi Sofia belum merestui hubungan kami, membuatku sering kali termenung dalam kesendirian di balkon apartemen, sambil menatap kosong ke arah jalanan kota di bawah sana yang masih sepi diselimuti kabut tipis.

"Apa yang kau lamunkan, Sayang..." bisik Nikolai lirih. Tanpa terdengar langkah kakinya, ia tiba-tiba datang memelukku dari belakang, menenggelamkan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 165 JENDELA RESTU

    Selama dua minggu berlalu, aku dan Nikolai menikmati waktu bersama meski dengan hati yang lara. Kenyataan bahwa Ayah dan Bibi Sofia belum merestui hubungan kami, membuatku sering kali termenung dalam kesendirian di balkon apartemen, sambil menatap kosong ke arah jalanan kota di bawah sana yang masih sepi diselimuti kabut tipis."Apa yang kau lamunkan, Sayang..." bisik Nikolai lirih. Tanpa terdengar langkah kakinya, ia tiba-tiba datang memelukku dari belakang, menenggelamkan tubuhku dalam dekapan hangatnya sambil membenamkan wajahnya di ceruk leherku.Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh, lalu membelai lembut rambutnya yang tebal. "Aku hanya menghirup udara pagi, Nikol...""Kau berbohong," ucapnya seraya mengangkat wajah. Ia menatapku dalam-dalam, mencoba membaca setiap gurat kecemasan yang coba kusembunyikan. "Kau masih memikirkan ayah, kan?"Aku tersenyum masam. Mungkin dia memang sudah tahu jawabanny

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 164 GAIRAH PELEBUR DOSA

    "Nikol... apa kita harus melakukan semua ini?" tanyaku sambil terisak, memecah keheningan yang mencekam.​Di dalam mobil yang masih terparkir di halaman rumah, aku menatap nanar ke arah daun pintu besar rumahku dengan hati yang terasa hancur berkeping-keping. Bayangan pelarian ini terasa begitu nyata dan menakutkan.​Aku sangat mencintai Nikolai dan tidak akan pernah sanggup jika harus berpisah dengannya. Namun, di sisi lain, aku juga tidak kuasa melihat raut wajah sedih Ayah, apalagi jika harus melangkah pergi dan meninggalkannya dalam kekecewaan sedalam ini.​Perlahan, Nikolai yang duduk di kursi pengemudi memutar tubuhnya menghadapku. Ia menangkup kedua pipiku dengan begitu lembut, menghantarkan kehangatan yang perlahan menenangkan badai di dalam dadaku.​"Eli... Apa yang kita lakukan memang sudah menyakiti perasaan mereka. Tapi... bukankah kita juga berhak bahagia?"​Ia menyeka sis

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 163 PENOLAKAN YANG MENYAKITKAN

    "Aku mencintai Eli, Paman." Nikolai menatap Ayah dengan sorot mata yang tajam dan tak tergoyahkan.Namun, sedetik kemudian pertahanannya tampak goyah; tangannya meremas kuat sisi celananya sebelum akhirnya ia menundukkan kepala dengan raut wajah yang mendadak sendu. "Perasaanku padanya bukan hanya kekaguman semata. Aku mencintainya... lebih dari nyawaku sendiri."​Ayah tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu hanya menatap Nikolai dalam diam, dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa kecewa yang teramat dalam.​"Sebelumnya... aku pernah sangat percaya padamu, Nikol," bisik Ayah dengan suara berat yang terdengar begitu bergetar. "Aku pikir... kau benar-benar bisa aku andalkan sebagai seorang kakak yang akan melindungi adiknya."​"Aku selalu melindungi Eli, Paman..."​"Tapi tidak untuk menikahinya!" potong Ayah dengan nada suara yang meninggi, memutus kalimat Nikolai deng

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 162 RESIKO CINTA TERLARANG

    Keesokan harinya, kami berangkat menuju bandara internasional kota Ravenstain untuk menjemput Ayah dan Bibi Sofia.​Sudah tiga puluh menit kami berdiri di area pintu kedatangan, dan selama itu pula, Nikolai tak pernah melepaskan genggaman tangannya di jemariku sedetik pun. Ia seolah sedang menautkan takdir kami di hadapan dunia.​"Nikol... lepaskan tanganmu," pintaku setengah berbisik begitu melihat beberapa orang mulai keluar dari pintu itu. Aku mulai merasa cemas jika orang tua kami tiba-tiba muncul.​Namun, alih-alih mengikuti perintahku, ia justru semakin mengeratkan remasan jemarinya pada tanganku. "Tidak, Eli. Aku tidak mau bersembunyi lagi."​Aku menoleh perlahan ke arahnya, menatap lurus gurat wajah datarnya yang kini menatap tajam ke arah pintu kedatangan. Tidak ada keraguan sedikit pun di sana.​Aku mengembuskan napas berat, berusaha mengatur detak jantung yang terasa semakin tidak stabil di dalam rongga dada. Keringat dingin mu

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 161 RETAKNYA ISI HATI NIKOLAI

    "Maafkan aku, Nadine."Nikolai menjauhkan kakinya dari jangkauan tangan Nadine, menciptakan jarak yang terasa dingin dan mutlak. Ekspresi wajahnya tampak datar, seolah ia benar-benar tak lagi peduli dengan penderitaan wanita yang kini terpuruk di hadapannya. Namun, jauh di balik topeng ketenangannya, sorot matanya yang tajam masih terlihat menunjukkan gurat penyesalan dan perasaan bersalah yang begitu besar."Nikol... Jika kau tidak membebaskan ayahku, bagaimana aku harus hidup bahkan tanpamu juga." Air mata Nadine jatuh semakin deras, membasahi rumput yang ia genggam. Wanita itu masih bersikeras berlutut, menumpukan seluruh harapannya pada belas kasih yang kini perlahan memudar dari Nikolai."Masih ada para tetua geng Dragon yang akan mengurusmu. Aku juga akan tetap mengunjungimu sesekali, meski hanya sebagai kakak angkat."Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Nikolai langsung berbalik dan menghampiriku. Ia menggandeng je

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 160 KONSEKUENSI DARI PENGHIANATAN

    Aku membalasnya dengan senyum tipis dan mata yang berkaca-kaca, sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangan mataku ke arah guci penyimpanan abu ibu di dalam relung."Aku juga sangat mencintainya, Bu. Doakan aku agar bisa membujuk Ayah."Nikolai semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemariku, seolah menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki. "Besok... kita akan jemput mereka di bandara, Eli."Aku menolehkan kepala ke arahnya dengan mata yang kembali basah oleh genangan air mata. "Nikol... aku takut."Pria itu menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata yang teduh. Jemari tangannya bergerak dengan begitu lembut, menyeka sisa air mataku yang baru saja jatuh melewati pipi. "Kita sudah melewati semua ketakutan itu. Sekarang... saatnya kita mengambil hati Ibu dan paman."Perlahan namun pasti, Nikolai mulai mengikis jarak dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia memejamkan kedua matanya saat mengecup bibirku dengan lembut, sebuah

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status