Hendra baru saja hendak membuka mulut untuk membicarakan hal serius dengan Prana, namun suasana mendadak pecah oleh dering ponsel Prana yang nyaring. Prana merogoh saku, melihat layar, dan seketika ekspresinya berubah menjadi mode darurat.“Ya, Suster Mira?” Prana menempelkan ponsel ke telinga. “Oke, siapkan ruang operasi sekarang. Saya sampai dalam sepuluh menit. Pastikan dokter anak sudah standby.”Prana mematikan ponsel. Ia menatap Shanum dengan raut gelisah. “Num, maaf. Ada pasien darurat. Pasien pendarahan hebat, harus operasi sesar sekarang juga karena nyawa ibu dan bayinya terancam.”Shanum langsung berdiri. “Gak apa-apa, Mas. Mas pergi saja sekarang. Urusan di sini juga sudah selesai kan?”“Aku antar kamu dulu,” tegas Prana sembari meraih kunci mobilnya.“Gak usah,” cegah Shanum cepat. “Mas harus cepat, ini soal nyawa. Aku bisa naik taksi.”Prana menggeleng keras, ia mencengkeram lengan Shanum. “Enggak. Kamu datang bareng aku, pulang juga begitu.”“Mas, aku udah biasa naik ken
Read more