Teilen

Bab 103

last update Veröffentlichungsdatum: 15.05.2026 18:11:18

Hendra baru saja hendak membuka mulut untuk membicarakan hal serius dengan Prana, namun suasana mendadak pecah oleh dering ponsel Prana yang nyaring. Prana merogoh saku, melihat layar, dan seketika ekspresinya berubah menjadi mode darurat.

“Ya, Suster Mira?” Prana menempelkan ponsel ke telinga. “Oke, siapkan ruang operasi sekarang. Saya sampai dalam sepuluh menit. Pastikan dokter anak sudah standby.”

Prana mematikan ponsel. Ia menatap Shanum dengan raut gelisah. “Num, maaf. Ada pasien darurat.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 105

    “Apa Mas sengaja datang ke rumah ini karena tahu aku ada di sini?” Mata Shanum menyipit, penuh selidik. “Jangan bilang kalau itu kebetulan semata. Aku gak bakal percaya lagi jawaban itu.”Prana terdiam sesaat. Jemarinya yang tadi hendak menarik selimut terhenti di udara. Ia menatap Shanum dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat tipis yang melintas, tapi dengan cepat menghilang.“Kamu ngobrol apa tadi sama Hendra?” tanya Prana akhirnya kembali santai, seakan-akan pertanyaan Shanum barusan tak lebih penting dari menu sarapan besok pagi.Ia menarik tubuh Shanum perlahan agar berbaring dan bersandar di tangannya yang kokoh. Shanum sempat menahan tubuhnya, kaku karena rasa curiga yang masih meluap, tapi pria itu justru membenarkan posisi bantal di bawah kepalanya.“Mas, jangan ganti topik,” protes Shanum pelan, suaranya tertahan di dada bidang Prana.Prana terkekeh kecil, getaran di dadanya terasa sampai ke pipi Shanum. “Aku cuma penasaran Hendra ngomporin apa sampai kamu mengintero

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 104

    Perbincangan dengan Hendra tadi terus berputar di kepala Shanum. Bukannya menjelaskan, pengacara itu malah mengalihkan pembicaraan ke hal-hal sepele, mulai dari menu makan siang sampai pengalaman lucu. Sampai akhirnya Shanum pulang diantar sopir Hendra pun, rasa penasarannya belum juga hilang.Kini ia duduk memeluk lutut di sofa ruang tengah lantai dua yang di sewa Prana. Hanya satu lampu yang menyala, menciptakan cahaya redup yang membuat rumah itu terasa semakin sunyi. Ponselnya masih berada dalam genggaman sejak tadi.“Apa operasinya belum selesai ya…” Shanum melirik jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam, belum ada tanda-tanda Prana akan pulang.Tadi ia hampir dua jam menunggu di kantor Hendra sebelum akhirnya Prana menelepon dan bilang masih ada dua pasien persalinan lain yang harus ditangani.Karena merasa gak enak terus merepotkan Hendra, Shanum akhirnya memilih pulang. Meski dengan berat hati, Prana mengizinkannya pergi setelah memastikan sopir Hendra mengantarnya sampai rumah

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 103

    Hendra baru saja hendak membuka mulut untuk membicarakan hal serius dengan Prana, namun suasana mendadak pecah oleh dering ponsel Prana yang nyaring. Prana merogoh saku, melihat layar, dan seketika ekspresinya berubah menjadi mode darurat.“Ya, Suster Mira?” Prana menempelkan ponsel ke telinga. “Oke, siapkan ruang operasi sekarang. Saya sampai dalam sepuluh menit. Pastikan dokter anak sudah standby.”Prana mematikan ponsel. Ia menatap Shanum dengan raut gelisah. “Num, maaf. Ada pasien darurat. Pasien pendarahan hebat, harus operasi sesar sekarang juga karena nyawa ibu dan bayinya terancam.”Shanum langsung berdiri. “Gak apa-apa, Mas. Mas pergi saja sekarang. Urusan di sini juga sudah selesai kan?”“Aku antar kamu dulu,” tegas Prana sembari meraih kunci mobilnya.“Gak usah,” cegah Shanum cepat. “Mas harus cepat, ini soal nyawa. Aku bisa naik taksi.”Prana menggeleng keras, ia mencengkeram lengan Shanum. “Enggak. Kamu datang bareng aku, pulang juga begitu.”“Mas, aku udah biasa naik ken

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 102

    “Kalian tadi dengar kan apa yang aku bilang?” tanya Hendra serius. “Jangan membuat skandal. Terus kalian ngapain di hotel sekamar?”“Gak usah berpikiran aneh-aneh, Hen,” Prana menyambar cepat, mencoba meredam kecurigaan yang memancar dari mata Hendra.“Shanum saat itu menguntit Fadil sendirian. Dia nekat datang ke hotel itu tanpa rencana, dan sialnya dia hampir ketahuan di koridor karena Fadil mendadak keluar kamar,” jelas Prana.Hendra menaikkan sebelah alisnya, tak lantas percaya. “Lalu?”“Kebetulan Menyewa kamar yang posisinya persis di depan kamar Fadil sebelum jadwal operasi. Begitu aku lihat Shanum hampir tertangkap basah, aku langsung menariknya masuk ke kamarku sebelum bajingan itu tahu,” jelas Prana datar.Shanum menunduk, wajahnya memanas. Kejadian itu memang terasa sangat memalukan sekaligus menakutkan baginya. “Iya, Mas Hendra. Kalau gak ada Mas Prana waktu itu, mungkin Fadil sudah menghabisiku di koridor hotel.”Hendra terdiam sebentar, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 101

    Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin cantik saja ya setelah sekian lama?” goda Hendra sambil mengedipkan sebelah mata.“Duduk di sini saja, Sayang.” Prana membimbing Shanum duduk di sofa dengan posesif. Mendengar panggilan 'Sayang', kepala Hendra berputar secepat kilat, penuh tanda tanya. Dan Prana membalasnya dengan tatapan tajam—sebuah peringatan bisu agar Hendra menjaga lidahnya kalau tak ingin meja disana melayang.“Apa kabar, Shanum?” Hendra akhirnya memilih mengabaikan Prana.“Baik, Mas,” jawab Shanum pelan. Senyumnya tipis sarat rasa canggung.Terakhir kali ia bertemu Hendra adalah lima tahun lalu, saat pria itu menjadi saksi hancurnya hubungannya dengan Prana akibat perjodohan paksa.“Dulu aku pikir Prana benar-benar mem

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 100

    “Sayang, dimana sekarang?” Suara Prana langsung menyambar melalui speaker ponsel begitu Shanum menekan tombol hijau, terdengar nada khawatir disana.“Di rumah. Aku baru saja sampai,” jawab Shanum sembari menyandarkan punggungnya pada pintu jati yang baru saja tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang masih berantakan. Intimidasi dingin Fadil di mobil tadi masih terasa.“Kamu baik-baik saja? Ibumu atau Fadil melakukan sesuatu?” Pertanyaan Prana datang beruntun. Kalimat itu tajam, seakan ia siap memutar balik kemudi dan menerjang siapa pun yang berani menyentuh Shanum jika wanita itu mengiyakan.Shanum menghela napas lelah. Bayangan tatapan predator Fadil dan bisikan ancaman di samping telinganya tadi kembali berputar. “Aku baik, Mas. Cuma sedikit pening.”“Aku sebentar lagi sampai. Jangan kemana-mana, aku lagi putar arah!”Tanpa menunggu balasan, sambungan telepon diputus sepihak. Shanum tahu Prana tak sedang menerima penolakan. Ia segera bergera

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status