로그인Shanum bergantian menatap Prana dan Hendra. Ada sesuatu dari tatapan di antara kedua pria itu. Senyum di wajah Prana maupun Hendra perlahan menghilang. Rahang Prana ikut mengeras, seolah memahami sesuatu yang tak dipahami Shanum.Suasana yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa mendadak berubah hening. Shanum mengerutkan kening.“Ada apa ini?” tanyanya pelan.Hendra seperti baru tersadar dari lamunannya. Ia segera mengalihkan pandangan dari Prana kepada Shanum, lalu memaksakan seulas senyum tipis. “Ah... gak apa-apa, Num.”“Benarkah?”“Iya.” Hendra terkekeh pelan, meski terdengar agak dipaksakan. “Aku cuma kaget aja.”Mata Shanum tetap mengawasi keduanya. Wajah Hendra terlihat canggung, sementara senyum Prana sudah lenyap, digantikan tatapan tajam ke arah sahabatnya."Putusan cerai baru selesai hari ini," Hendra mengusap tengkuknya singkat. "Tau-tau kalian udah ngomongin nikah. Ya, wajar kalau aku agak kaget."Jawaban itu terdengar masuk akal. Tapi entah kenapa, firasat Shanum mengataka
“Maaf, tadi candaanku keterlaluan.” Prana merasa bersalah setelah membuat Shanum menangis sampai meraung-raung tadi karena Shanum berpikir perceraiannya ditolak. “Semuanya sudah selesai, Sayang.”Shanum menoleh dengan kedua matanya yang masih sembab, mengangguk mengerti. Ia menyeka sisa air mata di pipi dengan punggung tangannya. Prana langsung menariknya ke dalam dekapan hangat, mengusap punggung wanita itu berulang kali untuk menenangkan sisa detak jantungnya yang masih berdetak cepat.“Aku bangga sama kamu,” bisik Prana di dekat telinga, lalu mencium pelipisnya.Shanum menghirup aroma maskulin dari kaus Prana, mencoba menormalkan napasnya yang sempat tersengal. Rasa lega yang teramat besar perlahan menggantikan sesak di dadanya. Setelah beberapa saat, ia melonggarkan pelukan, menepuk dada Prana agak keras hingga pria itu mengaduh pelan.“Lagian kamu jahat banget, Mas. Jantungku hampir copot tahu gak?” omel Shanum, bibirnya mengerucut sebal meski sisa air mata masih menggenang di su
“Banding kita ditolak, Dil,” ucap Andreas, berusaha meredam intonasi.Fadil tertegun, tubuhnya menegang di kursi. “Ditolak? Gak mungkin! Bukannya kamu bilang—”“Hakim Pengadilan Tinggi menolak semua banding yang kita ajukan,” potong Andreas, menyodorkan berkas itu lebih dekat. “Fakta rekam medis KDRT dari rumah sakit dinilai mutlak, gak bisa diganggu gugat. Putusan pengadilan tingkat pertama dinyatakan inkrah hari ini. Perceraian kalian udah sah secara hukum. Kamu dan Shanum resmi bercerai.”Kalimat itu bagai petir menyambar Fadil. Otot di pelipisnya menegang hebat, wajahnya memerah padam.Brak!Fadil memukul meja dengan kedua tangan hingga menimbulkan dentuman menggema di ruangan. Ia bangkit, menendang kursi besi di belakangnya hingga terjungkal ke lantai.“Brengsek! Gak mungkin! Ini pasti permainan dokter sialan itu!” teriak Fadil, matanya melotot tajam. “Jalang itu gak boleh lepas dari aku! Dia istriku! Sampai kapan pun dia tetap milikku! Cari cara lain! Gugat lagi! Hancurkan karie
“Mas Prana, gimana hasilnya?” potong Shanum cepat, tak sanggup lagi menahan desakan di dadanya. “Sidangnya udah selesai, kan?”Beberapa detik hanya terdengar embusan napas lelah. Jeda itu terasa seperti siksaan bagi Shanum, sebelum akhirnya suara Prana kembali, kali ini jauh lebih ringan.“Udah, Num. Semuanya udah selesai,” ucap Prana.Shanum menahan napas. “Terus... hasilnya gimana, Mas?”“Ditolak, Num,” sahut Prana pelan, datar tanpa emosi.Lidah Shanum kelu. Seluruh sendi tubuhnya terasa lepas. “Ditolak?” ulangnya mencicit. “Perceraian aku ditolak? Jadi... aku gak jadi cerai?”Ketakutan merayap naik, mencengkeram dadanya hingga sesak. Bayangan harus kembali ke rumah Fadil, menghadapi siksaan pria itu, berputar di kepalanya. Air mata yang sejak tadi ditahan luruh begitu saja.“Mas,” seru Shanum setengah berbisik, air matanya makin deras. “Kenapa bisa ditolak? Kemarin kata Mas Hendra kalau—”“Sayang, dengerin aku dulu,” potong Prana cepat.Terdengar kekehan rendah dari seberang telep
“Kita langsung pulang ya, Mas.”Prana tak langsung menjawab. Matanya bergerak tajam ke tiga perempuan di dekat rak pajangan yang masih berbisik sambil sesekali mengangkat ponsel. Gerakan kikuk mereka merekam diam-diam membuat otot rahang Prana mengeras. Ia paham ketakutan yang mendadak melanda Shanum.Tanpa berkata apa-apa, Prana melepas topinya, memasangkannya di kepala Shanum, menarik bagian depan agak rendah untuk menyembunyikan wajah pucat dan memar di pipi wanita itu. Beberapa lembar uang diserahkan ke kasir, tanpa menunggu kembalian.“Mas...” bisik Shanum dari balik naungan topi.“Ayo pulang. Kita masak steak,” potong Prana lembut, menyambar dua kantong belanjaan sambil menggandeng erat tangan Shanum.Begitu keluar dari supermarket, Shanum terus menunduk menatap sepatunya sendiri. Suasana manis di antara rak sayur menguap, berganti sunyi mencekam. Langkah mereka bergema di sepanjang koridor mal. Sampai akhirnya Shanum tak bisa lagi menahan beban di dadanya.“Aku ternyata memang
‘MAMA’Prana menatap layar ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Ibu jarinya menggantung di atas tombol hijau, ragu untuk menekan. Ia melirik Shanum, menangkap perubahan raut wajah wanitanya yang mendadak pias.“Aku angkat telepon sebentar di luar ya, sayang,” pamit Prana sambil mengecup singkat dahi Shanum. Menenangkan wajah gelisahnya.Shanum hanya mengangguk kaku. Membiarkan pria itu melangkah lebar menuju balkon apartemen. Pintu kaca geser dibuka, lalu ditutup kembali dengan rapat, menyisakan sekat transparan di antara mereka.Dari ruang tengah, Shanum berdiri mematung. Matanya tak lepas dari sosok Prana di balik kaca. Pria itu menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan bebas bertumpu pada pagar pembatas balkon.Meskipun tak bisa mendengar satu patah kata pun yang diucapkan, Shanum bisa membaca situasi dari gerak-gerik tubuh Prana. Rahang pria itu mengeras. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, menunjukkan rasa kesal dan frustrasi yang tertahan.Prana le
“Masih sakit, Mbak?” tanya Mbok Yah pelan ketika melihat Shanum beberapa kali memejamkan mata sambil menarik napas pendek. “Dari tadi Mbok lihat Mbak Num gelisah terus. Apa perlu panggil perawat?”Shanum menggeleng tipis. Padahal perut bawahnya terasa semakin kencang. Rasa nyeri datang bergelombang
“Pendarahan lagi?” Kening Prana mengernyit dalam. “Dari kapan pendarahannya? Bukannya semalam udah gak pendarahan?”“Tadi pagi pas bangun, Pak dokter,” jawab lagi Mbok Yah.Prana mengalihkan pandangannya pada Shanum. “Perutmu sakit?”“Bangun tidur berasa kencang.”“Suster, tolong cek flek pendarah
“Bukannya tadi kubilang jangan datang?” ucap Prana datar penuh peringatan.Kalid menatap Prana beberapa detik tanpa menghapus ekspresi tenangnya. Meski sorot matanya jelas menangkap ketaksukaan yang menguar kuat dari wajah dokter kandungan itu.“Hanya menjenguk sebagai teman,” ucap Kalid, nada bica
“Kamu ini dokter di rumah sakit ini! Kamu malah cium Shanum di ruang rawat,” bisik Hendra menggerutu kesal dengan suara serendah mungkin. “Disini siapa pun bisa masuk!”Sahabat Prana itu terlihat gusar. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. “Kondisi Shanum masih belum pulih. Mukanya aja ma







