Share

Bab 74

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-04 18:55:01

Prana menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Ekspresi tenangnya mendadak luruh, berganti dengan keterkejutan yang luar biasa saat menangkap sosok Tiara yang berdiri dengan wajah merah padam.

Ia memang sengaja turun untuk memastikan Shanum tak terjadi hal yang buruk setelah kedatangan mertuanya tadi siang. Apalagi ia melihat garasi utama kosong dan lampu ruang tengah masih benderang, Mbok Yah sedang cuti, jadi pasti Shanum sendirian.

“Tiara? Kamu di sini?” tanya Prana pelan, terdengar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 222

    “Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 221

    “Kawin lari?” seru Shanum, matanya membelalak sempurna. “Maksud kamu apa, Mas?”Raut wajah Shanum berubah total. Rasa sedih yang tadinya menggelayuti matanya mendadak lenyap, berganti ekspresi kaget sekaligus bingung yang luar biasa. Ia menatap Prana seolah-olah pria di hadapannya ini baru saja kehilangan akal sehatnya akibat terlalu banyak bekerja.“Aku serius,” sahut Prana, matanya memancarkan kesungguhan. “Kita bisa pergi sekarang juga ke daerah yang sangat terpencil. Tempat yang susah sinyal ponsel. Kalau bisa kita cuma tinggal berdua.”Shanum mengernyitkan keningnya, menatap Prana aneh. “Mas, kamu gak baik-baik aja kan? Apa efek kurang tidur beberapa hari ini jagain aku terus?”Prana tak membalas candaan itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Shanum dengan tatapan yang benar-benar serius.“Aku gak bercanda, Shanum. Nanti di sana gak akan yang bisa ganggu kita. Kita bikin kehidupan baru yang benar-benar cuma buat kita berdua aja.”“Apaan sih, Mas?” Shanum akhirnya tak bisa men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 220

    “Jangan kamu buka, Num!” Larangan itu terdengar kencang dari arah pintu masuk apartemen.Tangan Shanum yang mulai bergerak untuk menyobek selotip yang merekat erat di pinggiran dus pemberian Topan langsung terhenti.Ia menoleh ke arah sumber suara, matanya membelalak terkejut melihat Prana sudah berdiri di sana. Napas pria itu sedikit memburu, seolah-olah baru saja berlari sepanjang koridor apartemen.“Lho… Mas?” Shanum mengerutkan kening heran.Hendra dan Tiara baru sekitar lima belas menit yang lalu meninggalkan apartemen setelah membantu Shanum merapikan semua keperluan dan barang-barangnya. Jadi Shanum tak menyangka Prana akan muncul secepat ini.“Kok udah pulang? Kata Tiara jadwal Mas padat banget hari ini?” tanya Shanum saat melihat Prana berjalan lebar menghampirinya.“Udah selesai semua,” jawab Prana pendek.Tatapannya langsung tertuju pada dus cokelat di atas meja. Tanpa membuang waktu, Prana perlahan mendekat. Ia meraih dus tersebut, mengangkatnya, dan memindahkannya ke atas

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 38

    “Aku sudah tahu kamu akan datang, Shanum,” ucap Prana rendah, mengirimkan getaran aneh yang menjalar hingga ke perut Shanum. “Sudah kubilang, aku akan menunggu seberapa lama pun kamu mencoba ingkar.”Di ujung tangga, pintu kaca geser sudah terbuka lebar. Prana berdiri di ambang pintu, menunggu laya

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 37

    “Kalau aku hancur, maka biarlah hancur sekalian, Shanum,” bisik Shanum penuh tekad.Shanum menarik napas panjang, memutus kontak mata dengan Prana secara paksa. Segera ia membalikkan badan dengan jantung yang berpacu gila, dan menaiki tangga kolam renang. Tepat di anak tangga terakhir, ia terpaku. A

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 36

    “Kejutan manis?” ulang Shanum sinis dengan senyum getir.Satu-satunya “kejutan” yang ia terima dari Fadil hanyalah bentakan mendadak, dinginnya pengabaian, atau tuntutan yang menguras kewarasannya.Pertanyaan Alea menggantung di udara dapur membuat Shanum terpaku. Ia menatap kosong pada lelehan cok

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 35

    “Kenapa baru sampai sekarang?”Suara sinis ibu mertuanya itu langsung menyambar, tajam dan menusuk, bahkan sebelum Shanum sempat meraih tangannya untuk mencium takzim.Kartika berdiri di ambang pintu dengan balutan gaun sutra yang berkilau, namun matanya memindai Shanum dari ujung kepala hingga kak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status