Teilen

Bab 75

last update Veröffentlichungsdatum: 04.05.2026 20:49:14

“Wah… pagi-pagi sudah tamu?” Prana menyapa santai, seakan keberadaan seseorang yang kini bersidekap duduk di sofa area 'wilayahnya' bukan sebuah gangguan.

Ketegangan sisa semalam belum sepenuhnya menguap. Prana yang baru saja membuka pintu kamarnya dengan kaus dry-fit hitam dan celana pendek senada. Ia berniat melakukan rutinitas paginya sebelum berangkat ke klinik, tapi langkahnya terhenti saat gadis itu menajamkan matanya.

Prana menyapu ruangannya, keningnya berkerut dalam.

“Mbak Num kayaknya
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
kk thor, judulnya novelmu mending ganti : Istri yg teraniyaya.
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 80

    “Sus, masih ada pasien berikutnya?” tanya Prana tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Jemarinya masih lincah menari di atas keyboard, merapikan observasi klinis terakhir.Pintu ruangan terbuka sedikit, menampakkan kepala Mira. “Masih ada satu lagi, Dok. Katanya sudah di jalan.”Prana mengerutkan kening, mencari berkas yang seharusnya sudah ada di meja. “Mana rekam medisnya?”“Oh, sebentar, Dok!” Mira menghilang sejenak dan kembali dengan sebuah amplop putih besar yang masih tersegel rapat. “Ini, Dok. Pasien atas nama Tuan Fadil yang cek sperma empat hari lalu. Tadi saya telepon, katanya beliau sedang di luar negeri, jadi dia minta hasilnya diserahkan langsung pada istrinya.”“Fadil?”Gerakan jemari Prana membeku. Nama itu seketika mengirimkan amarah di dadanya. Sedangkan kedatangan Shanum selalu berhasil mengubah ritme jantungnya menjadi sebuah simfoni yang tak beraturan.“Istrinya bilang sekitar sepuluh menit lagi sampai,” tambah Mira.“Oke. Kamu boleh keluar, Mira. Biar ak

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 79

    “Num? Kamu masih di sana?” panggil Malik, pengacaranya di ujung telepon.Suara Malik terdengar seperti gaung jauh yang berusaha menarik Shanum kembali dari lamunannya. Shanum tersadar, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, meninggalkan rasa frustasi yang menjalar di dada.“Ya, aku masih di sini, Bang,” sahut Shanum pelan.“Kita belum kalah, Num” lanjut Malik memberi harapan. Profesionalisme seorang pengacara yang berusaha menenangkan kliennya, meski tetap saja ada keraguan yang tak bisa disembunyikan.“Penolakan administratif itu bukan akhir. Kita bisa ajukan ulang sesegera mungkin. Hanya saja sekarang, ada satu tembok besar yang sengaja mereka pasang untuk menjebak kita.”Malik menghela napas panjang di seberang sana. “Untuk sekarang, mau nggak mau, Kita harus melewati mediator keluarga dulu. Itu syarat yang diminta hakim jika ingin berkas ini diproses kembali tanpa hambatan 'kepentingan keluarga'.”“Mediator keluarga,” batin Shanum.Dua kata itu menghantam pendengaran Shanum sepe

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 78

    Tiara duduk bersedekap, matanya menatap lurus ke aspal jalanan, sementara Prana mengemudi dengan satu tangan, santai dan tenang.“Masih mau diam cemberut gitu? Mau aku putarkan lagu anak-anak supaya kamu lebih ceria?” sindir Prana tanpa menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis.“Jangan bercanda, Mas. Aku bukan anak SMP yang dulu sering Mas sogok pakai es krim cone supaya mau ikut kalian ke bioskop.” Tiara mendengus keras.Prana terkekeh pelan. “Kamu masih ingat ternyata. Dulu kamu itu satpam paling setia antara aku dan Shanum. Kalau Dokter Bobby nggak kasih izin kami keluar berdua, kamu adalah 'tumbal' supaya pintu pagar terbuka.”Mendengar kenangan itu, pertahanan Tiara sedikit goyah. Ada masa di mana ia benar-benar menyukai Prana sebagai sosok kakak. Prana yang pintar, sabar, dan selalu bisa diandalkan.Tapi kekaguman itu terkubur sejak ia mengetahui kebenaran pahit mengapa ayahnya dulu menentang keras hubungan Shanum dan Prana.“Itu dulu, Mas. Sebelum semuanya berantakan,” ucap Tiar

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 77

    “Kamu masih bisa mundur sekarang,” bisik Prana serak dan rendah, “kalau tidak, aku gak akan melepaskanmu.”Wajah Prana semakin mengikis jarak hingga Shanum bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulitnya. Prana memiringkan kepalanya sedikit, sebuah gestur predator yang sedang mengunci mangsanya. Sorot matanya yang biasanya tenang kini berubah menggelap, pekat, dan membakar.Seluruh sensor di tubuh Shanum beradu—antara naluri untuk lari dan keinginan untuk menarik pria itu lebih dekat.“Mas...”Namun, tepat sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Prana kembali berbisik di depan bibirnya. “Ternyata, kamu memutuskan untuk tidak mundur.”Kedua mata Shanum berubah sayu. Lidahnya kelu, hingga tak ada satu kata pun yang mampu lolos dari tenggorokannya yang kering.“Kalau begitu… ayo kita tanding,” lanjut Prana tiba-tiba menarik diri. “Siapa yang lebih dulu sampai ke rumah, dia yang menang.”Ia menyeringai miring, memperlihatkan wajah geli setelah berhasil membua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 76

    “Aneh. Ini terlalu mencurigakan,” gumam Shanum.Ia tengah duduk bersandar di kepala ranjang, jemarinya lincah memeriksa riwayat panggilan dan pesan di ponselnya. Tak ada satu pun notifikasi dari Fadil.Fadil bukan tipe pria yang menelan harga diri. Dia akan menyerang balik dengan rentetan cacian atau panggilan yang menuntut kepatuhan.“Dia nggak mungkin diam,” bisiknya pelan. “Kalau bukan menyerang, berarti dia lagi menyiapkan sesuatu.”Rasa penasaran itu mulai mengusik logikanya. Naluri kewaspadaannya justru bangkit saat suasana terlalu tenang. Jari Shanum beralih membuka aplikasi media social berlogo kamera. Ia mengetikkan nama Alea di kolom pencarian tanpa ragu.Alea bukan tipe yang mengenal privasi. Bagi Alea, hidup adalah panggung yang harus ditonton orang. Dan benar saja, lingkaran merah menyala di foto profilnya menandakan ada update terbaru.Shanum menarik napas panjang, menyiapkan mentalnya, lalu mengetuk layar itu.Slide pertama. Foto tangan lentik dengan manikur sempurna me

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 75

    “Wah… pagi-pagi sudah tamu?” Prana menyapa santai, seakan keberadaan seseorang yang kini bersidekap duduk di sofa area 'wilayahnya' bukan sebuah gangguan.Ketegangan sisa semalam belum sepenuhnya menguap. Prana yang baru saja membuka pintu kamarnya dengan kaus dry-fit hitam dan celana pendek senada. Ia berniat melakukan rutinitas paginya sebelum berangkat ke klinik, tapi langkahnya terhenti saat gadis itu menajamkan matanya.Prana menyapu ruangannya, keningnya berkerut dalam.“Mbak Num kayaknya masih tidur. Jangan cari dia, apalagi ganggu dia. Aku mau bicara sama Mas,” jelas Tiara ketus.Prana menaikkan sebelah alisnya, lalu duduk berhadapan dengan Tiara. “Silakan. Sepertinya kamu sudah menyiapkan pidato sejak semalam.”Tiara menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi pria yang secara aura jauh lebih dominan darinya.“Mas ingat pertemuan kita di kafe rumah sakit beberapa waktu lalu? Waktu aku bilang Mas harus menjauh dari Mbak Shanum? Aku sudah peringati

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status