LOGINDua pekan telah berlalu, namun napas Juna masih tertahan oleh irama mesin ventilator yang monoton. Ruangan VVIP itu kini menjadi dunia satu-satunya bagi Salva. Ia tak pernah beranjak, kecuali saat Satya datang untuk memastikan kondisi cucunya secara langsung.
Heningnya ruangan VVIP yang mencekam itu pecah oleh sentakan pintu yang kasar. Salva, yang semula tertunduk lesu di samping ranjang Juna, tersentak berdiri.Ruangan itu mendadak sempit saat tahu bahwa Raga melangkah masBeberapa jam kemudian, ketegangan di koridor rumah sakit masih belum sepenuhnya surut. Ketika lampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam, pintu ganda terbuka dan memunculkan sosok dokter dengan wajah lelah setelah berjam-jam berjuang menangani kondisi kritis Aleya. Juna dan Salva yang setia menunggu sejak tadi serempak berdiri. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Salva cemas. Dokter melepas maskernya, menghela napas panjang sebelum tersenyum tipis. "Ibu dan bayinya selamat." Salva spontan mengembuskan napas lega, bersyukur dalam hati. Namun, penjelasan dokter berikutnya kembali membuat dadanya berdesir tegang. "Pasien kehilangan cukup banyak darah saat proses persalinan darurat tadi. Saat ini kondisinya belum sadar dan masih harus kami pantau secara intensif di ruang perawatan khusus." "Belum sadar?" Salva memastikan, wajahnya kembali diliputi kekhawatiran. Dokter mengangguk mafhum. "Kita berharap saja semoga kondisiny
"Tuan Juna!" Suara Deri yang terengah-engah memotong sisa perhatian Juna dari rapat yang baru saja ditutup. Pria itu segera menoleh, mendapati asistennya berjalan cepat dengan wajah tegang luar biasa. "Ada apa?" tanya Juna cepat. "Nyonya—" Hanya kata itu yang sempat tertangkap oleh indra pendengaran Juna, Nyonya Salva. Seketika, pasokan oksigen di dadanya seolah terputus. "Apa yang terjadi dengan Salva?!" sergah Juna, suaranya meninggi. Deri bahkan tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Juna sudah berbalik dan berlari kencang menerobos koridor, meninggalkan asistennya yang megap-megap mencoba mengejar. Isi kepala Juna langsung dipenuhi oleh rentetan skenario terburuk. Salva jatuh? Salva pingsan? Terjadi sesuatu pada calon bayi mereka? “Sial! Sial! Sial!” Juna menghantam tombol lift berkali-kali dengan rahang mengeras dan wajah menggelap. "Ayo, cepat..." desisnya. Nam
Aleya akhirnya melangkah keluar dari balik pilar tempatnya bersembunyi. Langkahnya dibuat sepelan dan seanggun mungkin, berpura-pura seolah tidak ada satu pun hal buruk yang terjadi pada dirinya. Padahal, wajahnya dilihat sekilaspun Sudha terlihat berantakan. Di balik lapisan bedak tipis yang dipaksakan untuk menutupi kenyataan, bekas lebam keunguan masih tampak samar di dekat garis rahangnya. Pergelangan tangannya pun dihiasi memar kebiruan yang kontras dengan warna kulitnya. Kondisinya yang tengah hamil besar membuat pemandangan itu terasa begitu menyedihkan. Namun, Aleya tidak peduli. Justru penderitaan inilah yang ingin ia jadikan senjata. Ia sengaja menampakkan diri, berjalan lambat memotong jalur Salva. Siasatnya berhasil. Salva langsung menangkap sosoknya dan membeku seketika. Tatapan Salva tertuju pada perut Aleya yang membuncit, lalu beralih pada luka-luka tersembunyi yang gagal ditutupi dengan sempurna. Meski dadanya masi
Pintu ruang rapat terbuka keras. Raga berjalan keluar dengan langkah lebar, wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras. Ia tidak peduli pada tatapan para direksi yang masih membeku di dalam, pun tidak mempedulikan bisikan-bisikan yang mulai riuh di belakangnya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, keluar dari gedung ini, temui pengacara, dan hancurkan Satya sebelum pria tua itu bergerak lebih jauh. Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor utama, Raga mendadak berhenti. Di ujung lorong, beberapa pria berseragam sudah menunggunya. Polisi. Jantung Raga berdegup kencang. ‘Tidak mungkin secepat ini,’ pikirnya. Seorang penyidik melangkah maju. "Raga Wiwaha?" Tatapan Raga menajam. "Ada apa?" "Kami memiliki surat perintah penangkapan untuk Anda." Koridor seketika hening. Beberapa karyawan yang lewat spontan berhenti, menatap dengan wajah terperangah. Penyidik itu membacakan dokumen resmi, "Anda
Pagi itu, Juna baru saja menyelesaikan sarapan ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut. "Kakek." "Sudah bangun?" Juna melirik jam di dinding. "Sudah dua jam yang lalu." Satya terkekeh pelan di seberang sana, namun tawa itu tidak bertahan lama. Nada suaranya segera berubah serius. "Aku akan mulai hari ini." Juna langsung memahami maksud kakeknya. "Rapat?" "Ya." Satya berdiri di depan jendela kantornya yang menghadap langsung ke gedung utama La Grande. Tatapannya dingin, sangat dingin. "Aku akan membuat suasana di La Grande sedikit kacau." Sudut bibir Juna terangkat tipis. "Kedengarannya berbahaya." "Aku memang berniat membuat mereka panik," ujar Satya sambil memutar kursinya perlahan. "Sudah terlalu lama beberapa orang merasa aman." Tatapannya jatuh pada map tebal yang memenuhi meja kerjanya, berisi dokumen audit, laporan transaksi, salinan rek
Keesokan paginya, Negara diguncang oleh sebuah berita besar. Seluruh stasiun televisi nasional menayangkan siaran yang sama, layar-layar berita dipenuhi foto kawasan hutan bekas pertambangan tua yang sehari sebelumnya menjadi lokasi penggalian. Kerangka manusia yang ditemukan di area tersebut telah teridentifikasi sebagai Cakra Birawa melalui barang-barang pribadi, termasuk cincin pernikahan yang masih melingkar pada sisa tulang jari manisnya. Nama Cakra Birawa yang selama bertahun-tahun hanya menjadi cerita lama dalam keluarga Satya kini kembali memenuhi ruang publik. Apalagi setelah publik mengetahui bahwa pria itu adalah menantu mendiang pemilik grup bisnis besar yang menaungi Hotel La Grande. Media massa langsung memburu informasi, mempertanyakan penyebab kematian, hingga menyoroti kejanggalan demi kejanggalan dalam laporan kepolisian lama. Seseorang di luar sana kehilangan ketenangannya. BRAK! Sebuah vas kristal mahal menghanta
“Tuan, rendahkan badan Anda!” seru Juna sambil menekan pedal gas hingga habis.Pria tua itu langsung menunduk, melindungi kepalanya. Di depan, cahaya lampu sorot masih menyilaukan, sementara siluet beberapa pria mulai bergerak keluar dari mobil yang menghadang.Juna menyipitkan mata.Di kejauhan, i
“Sebenarnya, siapa mereka, Tuan? Kenapa mereka mengejar kita?” tanya Juna, kini benar-benar waspada. Nada suaranya tertahan, tetapi jelas dipenuhi ketegangan.Pria tua itu terdiam sejenak, rahangnya mengeras.“Ceritanya panjang,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah namun penuh amarah.“Yang jelas… m
“Tidak, aku tidak akan menyesal.” Aleya menatap Juna dengan dingin, senyum tipisnya terangkat, penuh rasa merendahkan.“Aku tidak punya cukup waktu untuk menunggumu mewujudkan mimpi yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Lagipula, aku sudah menemukan seseorang yang bisa memberikan apa yang aku but
Hujan deras mengguyur kota Metropolis malam itu, menampar kaca jendela apartemen kecil yang nyaris rapuh. Di dalamnya, Juna duduk di sofa tua, memijat pelipis dengan lelah.Tatapannya sesekali beralih ke pintu, menunggu Aleya, istrinya, pulang dari bekerja.Hari ini, untuk pertama kalinya setelah







