تسجيل الدخول"Usianya sekitar delapan minggu."
Suara dokter terdengar ringan, nyaris ceria. Aleya yang sedari tadi berbaring kaku di ranjang pemeriksaan langsung menoleh ke arah layar monitor. Di sana, di antara bayangan hitam dan putih, terlihat bentuk kecil yang mulai tumbuh, sebuah kehidupan yang seketika membuat dadanya bergetar hebat.Dokter menggeser alat USG perlahan di atas perutnya. Beberapa detik kemudian, suara ritmis yang cepat dan teratur memenuhi ruangan."Itu detaAleya akhirnya melangkah keluar dari balik pilar tempatnya bersembunyi. Langkahnya dibuat sepelan dan seanggun mungkin, berpura-pura seolah tidak ada satu pun hal buruk yang terjadi pada dirinya. Padahal, wajahnya dilihat sekilaspun Sudha terlihat berantakan. Di balik lapisan bedak tipis yang dipaksakan untuk menutupi kenyataan, bekas lebam keunguan masih tampak samar di dekat garis rahangnya. Pergelangan tangannya pun dihiasi memar kebiruan yang kontras dengan warna kulitnya. Kondisinya yang tengah hamil besar membuat pemandangan itu terasa begitu menyedihkan. Namun, Aleya tidak peduli. Justru penderitaan inilah yang ingin ia jadikan senjata. Ia sengaja menampakkan diri, berjalan lambat memotong jalur Salva. Siasatnya berhasil. Salva langsung menangkap sosoknya dan membeku seketika. Tatapan Salva tertuju pada perut Aleya yang membuncit, lalu beralih pada luka-luka tersembunyi yang gagal ditutupi dengan sempurna. Meski dadanya masi
Pintu ruang rapat terbuka keras. Raga berjalan keluar dengan langkah lebar, wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras. Ia tidak peduli pada tatapan para direksi yang masih membeku di dalam, pun tidak mempedulikan bisikan-bisikan yang mulai riuh di belakangnya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, keluar dari gedung ini, temui pengacara, dan hancurkan Satya sebelum pria tua itu bergerak lebih jauh. Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor utama, Raga mendadak berhenti. Di ujung lorong, beberapa pria berseragam sudah menunggunya. Polisi. Jantung Raga berdegup kencang. ‘Tidak mungkin secepat ini,’ pikirnya. Seorang penyidik melangkah maju. "Raga Wiwaha?" Tatapan Raga menajam. "Ada apa?" "Kami memiliki surat perintah penangkapan untuk Anda." Koridor seketika hening. Beberapa karyawan yang lewat spontan berhenti, menatap dengan wajah terperangah. Penyidik itu membacakan dokumen resmi, "Anda
Pagi itu, Juna baru saja menyelesaikan sarapan ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut. "Kakek." "Sudah bangun?" Juna melirik jam di dinding. "Sudah dua jam yang lalu." Satya terkekeh pelan di seberang sana, namun tawa itu tidak bertahan lama. Nada suaranya segera berubah serius. "Aku akan mulai hari ini." Juna langsung memahami maksud kakeknya. "Rapat?" "Ya." Satya berdiri di depan jendela kantornya yang menghadap langsung ke gedung utama La Grande. Tatapannya dingin, sangat dingin. "Aku akan membuat suasana di La Grande sedikit kacau." Sudut bibir Juna terangkat tipis. "Kedengarannya berbahaya." "Aku memang berniat membuat mereka panik," ujar Satya sambil memutar kursinya perlahan. "Sudah terlalu lama beberapa orang merasa aman." Tatapannya jatuh pada map tebal yang memenuhi meja kerjanya, berisi dokumen audit, laporan transaksi, salinan rek
Keesokan paginya, Negara diguncang oleh sebuah berita besar. Seluruh stasiun televisi nasional menayangkan siaran yang sama, layar-layar berita dipenuhi foto kawasan hutan bekas pertambangan tua yang sehari sebelumnya menjadi lokasi penggalian. Kerangka manusia yang ditemukan di area tersebut telah teridentifikasi sebagai Cakra Birawa melalui barang-barang pribadi, termasuk cincin pernikahan yang masih melingkar pada sisa tulang jari manisnya. Nama Cakra Birawa yang selama bertahun-tahun hanya menjadi cerita lama dalam keluarga Satya kini kembali memenuhi ruang publik. Apalagi setelah publik mengetahui bahwa pria itu adalah menantu mendiang pemilik grup bisnis besar yang menaungi Hotel La Grande. Media massa langsung memburu informasi, mempertanyakan penyebab kematian, hingga menyoroti kejanggalan demi kejanggalan dalam laporan kepolisian lama. Seseorang di luar sana kehilangan ketenangannya. BRAK! Sebuah vas kristal mahal menghanta
Sore itu, sebuah mobil SUV hitam memasuki kawasan perumahan elite melalui jalur penghuni. Semua dilakukan sesederhana mungkin atas permintaan Juna sendiri. Sejak percakapan terakhirnya dengan Satya dan perminta Salva yang ingin menetap dengan Satya, Juna memutuskan untuk merahasiakan kepulangannya. Apalagi setelah di depan dari jajaran direksi La Grande, ia tak lagi harus mengkahwatirkan akan keberadaannya. Tak aka nada yang mencarinya, kecuali satu, Raga. Juna tahu, semakin sedikit orang yang tahu keberadaannya, semakin baik. Apalagi setelah tim investigasi mulai menemukan petunjuk penting terkait kematian ayahnya, ia tidak ingin memberi kesempatan kepada siapa pun, terutama Raga, untuk menghilangkan bukti lagi. Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang baru dibeli menggunakan nama Vicky. Alamatnya tidak tercatat sebagai aset Pribadi Satya apalagi La Grande, dan tetangga sekitar hanya tahu bahwa rumah itu dibeli oleh pasangan muda yang baru pulang
Pagi itu, kastil tua milik keluarga Satya di Jerman tampak lebih sibuk daripada biasanya. Langit musim semi membentang cerah di atas menara-menara batu yang menjulang kokoh. Di halaman depan, beberapa kendaraan sudah terparkir rapi. Para staf lalu-lalang membawa koper dan dokumen penting untuk persiapan kepulangan ke Indonesia. Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan di Jerman, akhirnya Juna memutuskan kembali. Alasan utamanya sederhana, ia sudah terlalu lama meninggalkan medan perang yang sebenarnya. Kini, setelah kondisinya membaik, saatnya ia pulang. Di salah satu ruang kerja pribadi yang menghadap taman belakang, Juna duduk sendirian di depan meja kayu ek yang besar. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk melalui jalur komunikasi khusus yang selama bertahun-tahun hanya digunakan oleh tim investigasi rahasianya. Tatapan Juna langsung berubah serius. Ia membuka file yang baru dikirim. Semakin lama membaca, semakin kaku pula tubuhnya. Ruangan menjad
Ruang rapat lantai 50 itu terasa seperti ruang interogasi. Tatapan para direksi tua yang pro-Raga tertuju pada Juna dan Salva dengan sorot meremehkan. Raga duduk di kursi kehormatan, mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang sengaja dibuat mengganggu, seolah ingin memecah fokus siapa pun yang berbic
Begitu mereka melangkah menuju ke ruangan kerja Juna, suasana langsung terasa aneh.Biasanya para staf akan berdiri, membungkuk sopan, atau sekadar menyapa formal saat Juna lewat. Namun pagi itu berbeda. Beberapa orang pura-pura sibuk menatap layar komputer, sebagian lagi langsung menund
“Pukul!” Raga justru tertawa kecil sambil membuka kedua tangannya lebar, sengaja memancing.“Ayo, pukul! Kakakku memang benar-benar bodoh.” Tatapannya turun naik memperhatikan Juna dengan sinis.“Bagaimana bisa dia mempercayai pria tanpa pendidikan sepertimu untuk memegang La Gr
Salva menghentikan suapannya. Perlahan, ia meletakkan sendok ke atas piring sambil menatap Juna cukup lama. Di antara mereka sempat tercipta keheningan kecil, hanya diisi suara pelanggan lain, bunyi denting mangkuk, dan uap kuah bakso yang masih mengepul hangat.“Saya tahu ini tidak gamp







