LOGINSuasana ruang VVIP yang semula tenang mendadak pecah oleh keributan di koridor.
Salva, yang sedang menyuapi Juna, menghentikan gerakannya. Juna menegakkan punggung, alisnya menyatu saat mendengar suara seorang wanita melengking menembus pintu kayu yang kedap suara."Aku cek sebentar, Mas," ujar Salva singkat.Juna hanya mengangguk, rahangnya mengeras.Begitu pintu terbuka, pemandangan di koridor menyambut Salva dengan kasar. Aleya berdiri di sana dengan napPagi itu, Juna baru saja menyelesaikan sarapan ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut. "Kakek." "Sudah bangun?" Juna melirik jam di dinding. "Sudah dua jam yang lalu." Satya terkekeh pelan di seberang sana, namun tawa itu tidak bertahan lama. Nada suaranya segera berubah serius. "Aku akan mulai hari ini." Juna langsung memahami maksud kakeknya. "Rapat?" "Ya." Satya berdiri di depan jendela kantornya yang menghadap langsung ke gedung utama La Grande. Tatapannya dingin, sangat dingin. "Aku akan membuat suasana di La Grande sedikit kacau." Sudut bibir Juna terangkat tipis. "Kedengarannya berbahaya." "Aku memang berniat membuat mereka panik," ujar Satya sambil memutar kursinya perlahan. "Sudah terlalu lama beberapa orang merasa aman." Tatapannya jatuh pada map tebal yang memenuhi meja kerjanya, berisi dokumen audit, laporan transaksi, salinan rek
Keesokan paginya, Negara diguncang oleh sebuah berita besar. Seluruh stasiun televisi nasional menayangkan siaran yang sama, layar-layar berita dipenuhi foto kawasan hutan bekas pertambangan tua yang sehari sebelumnya menjadi lokasi penggalian. Kerangka manusia yang ditemukan di area tersebut telah teridentifikasi sebagai Cakra Birawa melalui barang-barang pribadi, termasuk cincin pernikahan yang masih melingkar pada sisa tulang jari manisnya. Nama Cakra Birawa yang selama bertahun-tahun hanya menjadi cerita lama dalam keluarga Satya kini kembali memenuhi ruang publik. Apalagi setelah publik mengetahui bahwa pria itu adalah menantu mendiang pemilik grup bisnis besar yang menaungi Hotel La Grande. Media massa langsung memburu informasi, mempertanyakan penyebab kematian, hingga menyoroti kejanggalan demi kejanggalan dalam laporan kepolisian lama. Seseorang di luar sana kehilangan ketenangannya. BRAK! Sebuah vas kristal mahal menghanta
Sore itu, sebuah mobil SUV hitam memasuki kawasan perumahan elite melalui jalur penghuni. Semua dilakukan sesederhana mungkin atas permintaan Juna sendiri. Sejak percakapan terakhirnya dengan Satya dan perminta Salva yang ingin menetap dengan Satya, Juna memutuskan untuk merahasiakan kepulangannya. Apalagi setelah di depan dari jajaran direksi La Grande, ia tak lagi harus mengkahwatirkan akan keberadaannya. Tak aka nada yang mencarinya, kecuali satu, Raga. Juna tahu, semakin sedikit orang yang tahu keberadaannya, semakin baik. Apalagi setelah tim investigasi mulai menemukan petunjuk penting terkait kematian ayahnya, ia tidak ingin memberi kesempatan kepada siapa pun, terutama Raga, untuk menghilangkan bukti lagi. Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang baru dibeli menggunakan nama Vicky. Alamatnya tidak tercatat sebagai aset Pribadi Satya apalagi La Grande, dan tetangga sekitar hanya tahu bahwa rumah itu dibeli oleh pasangan muda yang baru pulang
Pagi itu, kastil tua milik keluarga Satya di Jerman tampak lebih sibuk daripada biasanya. Langit musim semi membentang cerah di atas menara-menara batu yang menjulang kokoh. Di halaman depan, beberapa kendaraan sudah terparkir rapi. Para staf lalu-lalang membawa koper dan dokumen penting untuk persiapan kepulangan ke Indonesia. Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan di Jerman, akhirnya Juna memutuskan kembali. Alasan utamanya sederhana, ia sudah terlalu lama meninggalkan medan perang yang sebenarnya. Kini, setelah kondisinya membaik, saatnya ia pulang. Di salah satu ruang kerja pribadi yang menghadap taman belakang, Juna duduk sendirian di depan meja kayu ek yang besar. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk melalui jalur komunikasi khusus yang selama bertahun-tahun hanya digunakan oleh tim investigasi rahasianya. Tatapan Juna langsung berubah serius. Ia membuka file yang baru dikirim. Semakin lama membaca, semakin kaku pula tubuhnya. Ruangan menjad
"Kamu dengar semuanya, ya?" Suara Salva terdengar lembut, memecah keheningan di balik tirai jendela. Juna yang masih berdiri mematung hanya mengangguk pelan. Namun, kali ini sebuah senyum tipis, sebuah pertahanan diri terakhir muncul di bibirnya. "Kamu nggak perlu khawatir," ujar Juna lirih. "Hm?" Juna menoleh ke arah istrinya. Tatapannya tampak kosong, namun menerima. "Kalaupun omongan Raga itu benar... seperti yang kamu bilang waktu itu, kita cukup kok untuk satu sama lain." Dada Salva langsung terasa sesak. Ia melihat betapa pria di depannya ini baru saja menelan kemungkinan terburuk dalam hidupnya demi ketenangan Salva. Itu justru membuat hatinya hancur sekaligus menghangat. Salva melangkah mendekat, lalu tanpa peringatan, ia mengecup bibir Juna dengan lembut. Satu kali. Dua kali. Juna mengerjap bingung, kruknya sedikit bergeser di lantai. "Kok tiba-tiba?" tanyanya pelan, mencoba mencari sisa-sisa k
Raga masih berdiri di taman belakang ketika ponselnya bergetar. Ia melirik layar, lalu menerima panggilan dari anak buahnya tanpa basa-basi. "Ya." "Tuan, Nona Aleya sudah diamankan." Raga melirik sekilas ke arah kastil yang megah di belakangnya. "Di mana?" "Di mansion pribadi Anda, sesuai instruksi sebelumnya." "Dia tidak membuat masalah?" "Tidak, Tuan." "Bagus." Raga memutus sambungan telepon. Setidaknya, satu urusan krusial masih berada dalam kendalinya. Namun, baru saja ia hendak memasukkan ponsel ke saku, derap langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Raga menoleh dan mendapati Satya sedang berjalan santai dengan tongkat kayu hitam di tangannya, diikuti Vicky yang mengekor dengan wajah datar. Raga mendecih pelan. "Ternyata Kakak masih suka muncul tiba-tiba." "Aku bisa mengatakan hal yang sama," jawab Satya tenang. Ia berhenti beberapa meter dari Raga. "Ja
Aula besar Hotel La Grande malam itu dipenuhi gemerlap lampu kristal dan aroma parfum mahal yang bercampur dengan wangi anggur impor. Denting gelas terdengar bersahutan di berbagai sudut ruangan, menciptakan suasana elegan yang nyaris sempurna, setidaknya di mata para tamu elit yang hadir malam i
Ruang rapat lantai 50 itu terasa seperti ruang interogasi. Tatapan para direksi tua yang pro-Raga tertuju pada Juna dan Salva dengan sorot meremehkan. Raga duduk di kursi kehormatan, mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang sengaja dibuat mengganggu, seolah ingin memecah fokus siapa pun yang berbic
Begitu mereka melangkah menuju ke ruangan kerja Juna, suasana langsung terasa aneh.Biasanya para staf akan berdiri, membungkuk sopan, atau sekadar menyapa formal saat Juna lewat. Namun pagi itu berbeda. Beberapa orang pura-pura sibuk menatap layar komputer, sebagian lagi langsung menund
“Pukul!” Raga justru tertawa kecil sambil membuka kedua tangannya lebar, sengaja memancing.“Ayo, pukul! Kakakku memang benar-benar bodoh.” Tatapannya turun naik memperhatikan Juna dengan sinis.“Bagaimana bisa dia mempercayai pria tanpa pendidikan sepertimu untuk memegang La Gr







