Raut wajah Saryna seketika berubah masam. Secara refleks dia melangkah maju, berdiri melindungi di depan Shelly."Nana, sini."Diana melambaikan tangan ke arah Saryna.Saryna menoleh ke belakang, menatap Shelly dengan cemas. "Aku duluan ya, kamu pergi saja.""Iya." Shelly mengangguk pelan. Menghadapi tatapan Rendy dan Diana, di dasar hatinya selalu ada rasa tidak berdaya yang perlahan mengalir naik."Kalian masuklah ke dalam mobil lebih dulu."Rendy memberi isyarat kepada Diana untuk membawa Saryna dan Nana masuk ke dalam kendaraan.Pria itu melangkah menaiki undakan, lalu melirik ke arah Herman. "Herman, kamu yang mengusulkan untuk datang ke padang berkuda ini, apa ini …. teman yang kamu bawa?"Saryna yang sudah menggendong Nana dan hampir mencapai pintu mobil, berbalik hendak melangkah kembali. "Bukan begitu, Ayah ….""Nana, masuk." Diana menarik lengan Saryna dengan tegas. "Kamu ini, selalu saja membuat orang tua cemas."Saryna dipaksa masuk ke dalam mobil."Maaf, Paman ….""Pak Ren
Read more