Compartilhar

Bab 405 Sakit Hati

last update Data de publicação: 2026-09-09 16:11:24

“Brengsek! Mati saja kau!”

Dion menghubunginya hanya untuk menaburkan garam di atas luka lama. Lelaki itu tidak pernah peduli dan kini hanya datang untuk mematahkan hatinya sekali lagi.

Dengan napas memburu dan tangan gemetar menahan amarah, Karin memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.

Kasar! Ya, Karin tidak peduli.

Ponselnya berdering, namun pesan dari Dion dibiarkannya membusuk di kolom notifikasi.

Cukup sudah!

Malam ini, Karin berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti meratapi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 412 Jangan Harap Bisa Menikah

    “Sialan! Cari tahu di mana Karin, sekarang!”Raungan Rion menggelegar, merobek keheningan apartemen mewahnya.Di hadapannya, Silvi membeku. Silvi adalah sahabat karib putrinya sendiri, mana mungkin perempuan itu tidak tahu di rumah aman mana Karin disembunyikan?Isi kepala Rion mendidih.Karin tidak boleh menikah dengan Arlan. Sedikit lagi, berkas administrasi pernikahan yang disiapkan Arlan akan lengkap.Rion tidak peduli jika nanti pengadilan negeri mengetuk palu bahwa Arlan bukan anak kandung Papanya.Intinya tetap sama.Karin tidak boleh bersanding dengan pria itu! Dunia ini penuh dengan laki-laki, lalu kenapa Karin harus memilih Arlan?Mereka seperti sengaja ingin menginjak-injak dan mempermalukan martabat keluarga Wijaya.Rion mengepalkan tangan, rahangnya mengeras karena gengsi.Sebejat-bejatnya ia berselingkuh, citranya di mata publik tetap suci tak bernoda.Media tidak pernah mencium bau busuknya.Di luar sana, Rion adalah figur suami teladan yang menyerahkan segala urusan hi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 411 Sangkar Burung

    "Aku bosan."Di dalam rumah aman, Karin merasa seperti seekor burung yang baru saja dipindahkan dari satu sangkar ke sangkar lainnya.Ia baru menyadari bahwa demi melindunginya dari ancaman eksternal dan juga keluarganya sendiri, protokol yang diterapkan Komnas Perempuan dan Anak sama sekali tidak main-main.Aturan rumah aman melarang keras adanya kontak fisik maupun komunikasi tanpa pengawasan dengan dunia luar.Korban tidak diperbolehkan memegang ponsel pribadi, tidak diizinkan menerima tamu sembarangan, bahkan identitas serta keberadaan tempat itu dirahasiakan rapat-rapat guna mencegah intervensi atau ancaman fisik.Bagi Karin, aturan ini terasa sangat memusingkan dan perlahan mencekik kewarasannya. Ia adalah seorang calon dokter yang harus segera melanjutkan koas. Jika terus-menerus menunda di tempat ini, kelulusannya akan menjadi taruhan. Karin menolak menyerah pada keadaan.Saat berkonsultasi dengan psikolog, Karin menumpahkan seluruh isi kepalanya. Ia menegaskan bahwa ia sanggu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 410 Semangat Sayangku

    Arlan benar-benar telah sampai pada titik tidak ada jalan kembali.Demi Karin, wanita yang dicintainya dengan seluruh sisa hidupnya, ia rela mempertaruhkan segalanya.Siang itu, di koridor Pengadilan Negeri yang dingin dan asing, Arlan berdiri membawa map tebal berisi dokumen krusial, hasil tes DNA original dari laboratorium forensik terakreditasi, surat pengantar dari dinas kependudukan, serta permohonan resmi pembatalan dan perbaikan akta kelahiran.Di Indonesia, status hukum anak dalam akta kelahiran yang terlanjur mencantumkan orang tua keliru tidak bisa diubah begitu saja di catatan sipil.Arlan harus menempuh jalur hukum perdata melalui penetapan pengadilan.Hasil tes DNA yang menyatakan exclusion (tidak adanya hubungan darah sebagai anak kandung dari garis keturunan yang menjadikannya paman Karin) menjadi bukti mutlak bagi hakim bahwa isi akta kelahiran lamanya cacat hukum karena tidak sesuai dengan kebenaran biologis.Arlan sadar, memutus tali silsilah di atas kertas ini berar

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 409 Ancaman Papi Rion

    Tiba-tiba Rion datang, ia keluar dari mobil mewahnya dan masuk ke dalam rumah tepat sebelum Karin dibawa ke shelter.Suara Rion menggelegar, memotong udara dingin di dalam ruangan. Telunjuknya mengacung lurus, berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajah petugas Komnas Perlindungan Anak.“Jangan berani-berani menyentuh atau membawa putri saya ke tempat kalian! Karin, ikut Papi. Kita pulang sekarang!”Petugas Komnas, seorang wanita paruh baya bernama Dini, tidak gentar. Dia menarik napas dalam-dalam, menjaga suaranya tetap tenang namun sarat ketegasan.“Mohon tenang, Pak! Di sini kami memberikan ruang aman untuk Karin. Berdasarkan laporan resmi dan permintaan Karin sendiri, dia merasa jiwanya terancam di rumah. Dia membutuhkan perlindungan di shelter kami untuk sementara waktu.”Sebuah tawa sinis lolos dari bibir Rion. Tawa yang biasa digunakan di ruang sidang untuk meruntuhkan mental lawan.“Ruang aman? Jangan ajari saya soal hukum! Saya tahu persis batasan wewenang kalian. Karin ini

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 408 Suara Karin

    Setelah keheningan yang menegangkan selama beberapa detik, ia akhirnya mundur selangkah, lalu menyentak pintu ruang tamunya dengan kasar hingga terbuka lebar.“Karin! Keluar kamu!” teriak Billy ke arah koridor dalam.“Lihat ini! Kamu puas sudah mempermalukan Kakek dengan membawa petugas ke rumah ini?”Pintu kamar di lantai bawah perlahan terbuka. Karin melangkah keluar dengan tubuh yang tampak amat rapuh.Wajah cantiknya muram, matanya bengkak dan sembab akibat menangis yang tak kunjung usai, dan seluruh badannya gemetar hebat karena ketakutan.Berhari-hari ia diintimidasi, diancam akan dicoret dari keluarga dan ditekan secara mental agar melupakan impian pernikahannya.Dengan langkah terhuyung dan suara yang bergetar hebat, Karin langsung berlari kecil menghampiri Bu Dini, seolah menemukan satu-satunya sekoci di tengah badai.“Bu ... tolong saya, Bu ... Saya takut sekali,” isak Karin, jarinya yang dingin mencengkram ujung blazer Bu Dini.“Kakek mau membawa saya paksa ke luar negeri m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 407 Keras Kepalanya Kakek Billy

    Komnas Perempuan dan Anak sudah sampai di rumah Billy, rumah tersebut adalah sebuah hunian megah bernuansa modern dengan pilar-pilar beton yang menjulang tinggi, dinding kaca tebal dan lantai marmer impor yang berkilau di bawah lampu gantung kristal.Namun, kemewahan itu terasa mati. Rumah besar itu layaknya sangkar emas yang dingin, sunyi, dan mencekam bagi siapa pun yang terperangkap di dalamnya.Di luar pagar besi tempa hitam yang menjulang, dua anggota polisi berseragam lengkap berdiri siaga. Mereka bersikap sangat formal, berhati-hati, dan menjaga jarak.Mereka sadar betul siapa pemilik rumah ini, Pak Billy adalah konglomerat dengan jaringan bekingan yang sangat kuat di jajaran pejabat tinggi markas besar kepolisian.Satu langkah salah dari para petugas ini bisa berakibat fatal bagi karir mereka. Namun, kehadiran Bu Dini dari Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) beserta surat tugas resmi membuat mereka tetap harus menjalankan prosedur di bawah sorotan hukum.Pak Billy berdiri ko

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status